Heartbreaker
Aku tau mungkin ini bodoh, tapi bukankah itu
juga nama lain dari cinta? Ketika seseorang sedang jatuh cinta ia akan
melakukan banyak hal konyol yang menjurus ke hal yang bodoh, tapi manis.
Kebodohan yang manis J. Ah, andai dia menganggap hal ini semanis itu, sayangnya tidak.
Gadis yang aku pertahankan selama hampir 5 tahun itu, begitu jauh dari nyata...
tapi bukan juga maya. Entahlah.
“eh... maukah kamu
menjadi pacarku?” haha ya, sesederhana itu kata yang terucap kala aku
menyatakan perasaanku terhadapnya, dulu. Ketika itu aku hanyalah cowok SMA yang
labil dan baru mengenal cinta. Serta merta aku jatuh pada hatinya. Aku menunduk
dalam tanpa sedikitpun keberanian menatap matanya. “ya” dan kata yang hanya
terdiri dari 2 huruf itulah yang mampu mengangkat kepalaku, menarik bibirku
membentuk senyuman malu-malu. Haruskah aku tertawa mengingat ini? Atau
menangis? Faktanya aku tersenyum dan berkaca-kaca. Aku bahkan tidak keberatan
dipanggil lelaki lemah karna menangisi wanita yang kucintai. Setidaknya masih
ada senyuman, Dan biarlah aku melamunkannya, lagi.
flashback
5 tahun lalu
“happy anniv........” aku mengejutkan gadisku
itu di malam anniv pertama kita. Sebuah kafe sederhana, namun yang membuatnya
menarik adalah kolam renangnya. Aku, denganya senang sekali berenang disini.
Aku menjual komputer, laptop dan beberapa barang lagi. Aku menghemat dan hampir
tidak jajan, akupun bekerja part time. Sejak setahun lalu, sejak hari ia
mengucapkan kata 2 huruf itu, aku membulatkan tekad. Entah bagaimana aku bisa
yakin bertahan dengannya hingga setahun. Padalah 3 bulan adalah masa paling
lama teman-temanku berpacaran. Dengan segala hal tadi, aku menggunakan semua
uangku untuk kejutan ini. Membooking cafe dan mendekorasinya hingga semanis
ini.
Hanya desah nafasnya yang aku dengar. Ia
mengambil kue tart di tanganku dan ia letakkan di meja. Ia melingkarkan
lengannya di leherku, memelukku erat dengan isak. Aku menunduk menyandarkan
kepalaku dipundaknya dan kulingkarkan lenganku di pinggangnya. Kami membiarkan
beberapa menit berlalu begitu saja, tanpa gerak, tanpa kata. Hanya saling
mendengar detak jantung masing-masing.
“tolong, kali ini
biarkan aku menangis” pintanya dengan suara serak yang lembut. Aku hanya
menganggukkan kepala, masih dalam pelukannya.
Flasback end
“rav..?”........
“hah? Eh? Apa?” tanyaku dengan linglung karena
masih dalam tahap mengumpulkan nyawa
“ngapain tidur di perpus? Uda sore ni, jam
kuliah kamu uda berakhir dari siang tadi kan?”
Kemudian aku baru tersadar. Ah aku melamunkannya
hingga tertidur rupanya. “eh iya si.. emang uda sore banget ya ini? Thanks al
uda bangunin haha” aku menjawab sambil cengengesan liat jam yang uda mau
maghrib. Malu dan terheran-heran dengan diriku sendiri. “ah elah rava. Yauda
pulang bareng deh ayo, nebeng ya .. hehe” eh gantian aldi yang cengengesan.
Tetangga sebelah yang uda akrab denganku sejak TK
Sampai di rumah aku
berdebar. Masih dalam rangka melamunkannya, aku sangat mengingat hari ini. Ini
adalah tanggal yang aku tunggu-tunggu. Ah bukan hari ini, besok tepatnya. Hari
ini aku akan bertahan untuk tidak terpejam hingga tengah malam nanti. Aku ingin
menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ya, besok
adalah hari kelahiran gadisku. Haha, bahkan sampai saat ini aku masih
menyebutnya sebagai gadisku. Baiklah akan aku katakan kenyataannya. Ia bukanlah
gadisku lagi, ia sudah memiliki seorang yang selalu tepat di sisinya. Ia bukan
milikku, ya ini adalah kenyataan yang menyesakkan. Mungkin aku berdosa menyebut gadis milik orang lain sebagai
gadisku. Tapi tuhan akan mentolerirnya, tuhan begitu menghargai perasaanku.
Bahkan dengan segala perih ini, tuhan tetap tidak menghapuskan perasaanku
terhadapnya, tidak sedikitpun.
flashback
4 tahun lalu
Anniversary sudah
lewat sekitar 3 bulan lalu. Hari ini aku akan melakukan beberapa hal bodoh
lagi. Tanggal 14 februari yang manis.
“selamat pagi
sayang, udah bangun?” aku sudah berada di depan kelasnya, bodoh bukan? Aku
bahkan saingan dengan satpam sekolah karena datang sepagi ini.
“udah.... baru aja
mau mandi. Kamu udah mandi sayang?” suara lembut gadisku, ya gadisku memang
manis sekali.
“mm.. udah kok.
Yauda kamu buruan mandi, jangan kesiangan ya.”
“iya sayang.. dada”
senyumku selalu mengembang setiap kali mendengar suaranya. Bahkan ketika ia
sedang marah dan menolak telvonku yang baru ia angkat setelah minimal ada 30
panggilan tidak terjawab dariku, begitu aku mendengar suaranya aku tetap
tersenyum. Ia jutek, dan membentakku. Namun aku tersenyum setiap mendengar
suaranya. Ketika ia sedang marah di depanku dan menolak melihatku, begitu ia
menoleh dan menamparku dengan keras aku tetap tersenyum setelah melihat
wajahnya. Baik aku benar-benar bodoh. Tapi ini bukan masalah otak, ini masalah
perasaan. Tentang perasaanku yang berperang melawan logika.
Aku datang
pagi-pagi untuk suatu alasan bodoh, lagi. Aku membawa kurang lebih 40 tangkai
bunga mawar merah dan sekotak coklat lucu yang berisi berbagai bentuk. Aku
meminta teman-teman kelasku dan teman-teman kelas gadisku satu persatu
memberikan bunga ini. Tentu saja sulit membuat mereka bersedia melakukan ini.
Aku berjanji mentraktir mereka semua makan di kantin. Dan mereka bersedia.
Begitu gadisku melewati gerbang akan ada seorang yang memberikannya 1 tangkai
mawar, terus begitu hingga sampai di kelasnya dan aku menunggunya disana.
“happy valentine babe...” aku menyerahkan tangkai mawar terakhir
dan telah kuletakkan coklatnya diatas meja. Lagi, ia memelukku dengan isak.
Flashback end
aku menghabiskan bergelas-gelas kopi untuk
bertahan hingga detik pertama melewati pukul 24.00 ini. Aku telah mengetik kata
selamat ulang tahun untuknya dengan begitu manis dan hanya tinggal memencet
tombol “send”. Untuk memencet tombol kecil ini rasanya aku butuh tenaga yang
amat kuat, ya sangat kuat dari dalam hatiku. Aku tahu sms ku tak akan ia balas,
jika aku menelponnya ia akan semakin marah padaku. Aku tahu, karena ia memang
selalu begitu. Harusnya aku merasa direndahkan setiap ia berkata kasar padaku,
namun aku masih sama. Aku tetap tersenyum setiap kali mendengar suaranya. Ya aku masih sebodoh dulu, bahkan
disaat yang menyakitkan ini aku masih begitu mencintainya. Aku menunggu hingga
pagi menampakkan sinarnya namun tetap tak ada balasan untuk pesan singkatku
kepadanya. Aku pernah membaca kata-kata ini “orang yang benar-benar mencintaimu
akan selalu mengirim pesan kepadamu di hari-hari spesialmu walau ia tahu kamu
tidak akan membalas pesannya”. Aku tersenyum ketika membaca itu, dan tiba-tiba
saja aku berharap ia pernah membaca kata-kata itu pula dan ia menyadari siapa
seorang yang melakukan hal itu terhadapnya. Aku tahu tak hanya aku yang
melakukan hal itu, ya tentu saja banyak orang lain namun aku begitu yakin hanya
aku yang mampu bertahan dalam kurun paling lama. Ya, semoga ia menyadarinya.
Baiklah, berhenti memutar ulang segala
memory dengan gadisku itu. Baik, itu adalah keputusanku. Melalui mimpiku
semalam tuhan memintaku untuk bersiap dengan kemungkinan terburuk. Dan salah
satu bentuk persiapanku itu ialah berhenti selalu mengingat tentang gadis yang
memejamkan matanya dengan begitu tenangnya didepanku saat ini. Iya, ini adalah
keajaiban karena aku telah dipertemukan lagi dengan gadisku. Aku sempat meratap
dan menyalahkan takdir, tuhan... mengapa engkau mempertemukan kami dengan
keadaan seperti ini? Jika dengan tetap jauh dariku ia akan bahagia, sungguh aku
rela tuhan. Atau, bolehkah aku merubah isi diary-nya tuhan? Bolehkah aku
menulis cerita bahagia untuknya? Bolehkah waktu kembali berputar?
“nak rava... terimakasih sudah menjaga putri Om semalaman, dia
pasti bisa merasakan kehadiran nak rava” mungkin ini suatu anugrah lain, aku
bisa akrab dengan ayah gadisku yang belum pernah aku temui sebelumnya. “iya om,
sama-sama. Tapi maaf om, saya telah membaca buku harian ini” aku merasa tidak
enak karena telah membaca privasi orang sembarangan. “”oh tidak apa-apa nak. Om
juga sudah membacanya, dan justru om ingin memberikan ini kepada nak rava.
Baguslah kalau nak rava sudah membacanya” aku cukup terkejut mendengar Om andre
mengatakan hal ini. “mungkin nak rava sebaiknya pulang dulu... pasti ibu nak
rava bingung anaknya hilang waktu tengah malam dan gak pulang sampai pagi” ah
ya, mungkin on andre benar. “baik om, tapi tolong ijinkan saya untuk sering
berkunjung kemari”. “tentu nak, tentu”.
Sampai di rumah, aku tetap tidak bisa
tidur. Baru kemarin aku sangat bahagia menanti hari ini. Hari ulang tahun
gadisku. Aku bahkan berperang melawan beratnya mataku di tengah malam demi
menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat untuk gadisku. Sms-ku tidak
balas, ya aku sudah menduganya. Namun yang tidak aku duga adalah jawaban di
telpon ketika aku menelponnya tak lama dari pesan yang aku kirim untuknya. Bukan
suara manis dan lembut yang aku dengar melainkan suara berat lelaki separuh
baya. Ya, suara ayah gadisku. Entah bagaimana om andre bisa mengenalku, namun
yang jelas setelah mendengar cerita singkatnya aku segera melenggang
meninggalkan rumah tepat di tengah malam tanpa berpamitan kepada siapapun
dirumah. Gadisku sedang koma dirumah sakit. Air mataku seakan mengering, hatiku
begitu gersang. Aku hanya menatap mata yang biasanya terbuka begitu lebar dan
ceria kini hanya terpejam tanpa gerak. Hanya desah lembut dari hidung mungilnya
yang masih memberikan kekuatan jantungku untuk memompa darah dalam tubuhku.
Kenyataan dari desah itu yang mempertegas bahwa ia belum benar-benar pergi, ya
hanya itu yang membuatku memiliki alasan untuk tetap bernafas.
Kembali aku buka lembar duka harian
gadisku. Buku setebal ini hanya berkisah tentang duka dalam batinnya. Bahkan
aku yang mengaku begitu mencintainya tak mengetahui tentang hal ini. Yang aku
tahu hanya sekedar orang tuanya yang berpisah dan ia tinggal bersama ibu dan
ayah tirinya. Hanya itu. tentang bagaimana luka ini dimulai aku benar-benar
tersiksa saat membacanya.
ibu..... aku tahu aku bukan anak gadis penurut yang manis. Aku
tahu aku tidak begitu pandai. Aku tahu aku memang begitu merepotkan. Lalu ibu,
jika benar engkau begitu berat merawatku mengapa tidak membiarkan aku saja?
Cara yang begitu mudah bukan untuk membunuhku cukup dengan tidak mempedulikan
aku? Aku tidak tahu bu, bagaimana aku harus bersikap. Atau aku telah salah
menilai ibu seburuk itu? terlalu durhakakah aku bu? Maaf ibu, aku sungguh tidak
bisa menilai dirimu.
Aku tidak tahu apa sebab ia menuliskan itu
di buku hariannya. Aku tidak tahu apa masalahnya. Namun aku telah begitu teriris.
Gadisku, seberat itukah beban batinmu? Boleh kita memutar waktu dan aku mohon
biarkan aku membantumu? Aku tahu aku bodoh. Waktu yang hilang tidak akan dapat
ditemukan lagi.
Membaca segala
ceritanya yang telah lalu, mau tidak mau aku kembali mengenangnya. Memutar
ulang segala memory bersamanya. Luka, bahagia, semuanya.
Flashback
4 tahun lalu
Valentine telah
berlalu sekitar 1 bulan. Dan yang aku ingat, akupun begitu yakin, hal terakhir
yang aku lakukan pada gadisku adalah hal yang manis, layaknya yang aku lakukan
di hari valentine lalu. Tapi malam ini aku begitu terguncang, ia memutuskanku
dengan begitu mudahnya. Tanpa kutahu salahku, tanpa kutahu alasan yang
mendasarinya. Ia hanya mengirim pesan yang menyatakan ia ingin putus, tepat di
tengah malam. Dan hingga pukul 3 dini hari aku belum berhenti mencoba
menghubunginya.
Aku berangkat pagi, sangat pagi. Aku
berniat segera menemui gadisku. Namun sekarang aku hanya tercenung menatap
tulisan yang ada di pagar rumahnya. “Rumah Dijual”. Nomornya tetap tidak aktif
hingga pagi ini. Aku linglung, tubuhku terjatuh, hanya lututku yang bergetar
hebat menahan berat tubuhku. Penglihatanku buram seketika.
Flasback end
Dan setelah sekian tahun aku tahu apa yang
terjadi pada gadisku pada malam ia mengakhiri hubungan kami. Terlalu terlambat,
karena aku terlalu bodoh. Hidupku memang berlanjut, akupun bernafas. Hanya raga-ku
tidak dengan jiwa-ku. Dia tertidur terlalu lelap, terlalu lama dari jam tidur
normal. Dan selama waktu tidurnya itu dia tak hanya membawa separuh jiwaku
pergi, tapi seluruhnya. Seluruhnya. Aku sakit, luka yang amat sangat menusuk
namun dengan segala keistimewaannya dia masih membuatku jatuh cinta. Diantara sakit
hati yang aku rasakan entah bagaimana ia masih membuatku merasa seperti orang
yang sedang jatuh cinta.
Aku merasa hidupku monoton sejak kepergian
gadisku. Saat ini ketika kami dipertemukan kembali walau dengan keadaan yang
teramat menyedihkan ia mengubah ritme kehidupanku. Aku mulai merasa hidup
kembali. Aku mulai merasa senang, sedih, sakit, putus asa, bertekat, dia
kembali menaik turunkan suasana hatiku. Dan yang kurasa saat ini adalah putus
asa.
Hari ini aku telah khatam membaca buku
hariannya. Ia memporak-porandakan suasana hatiku yang sudah amat terluka. Aku bahkan
tidak mampu menamai suasana hatiku saat ini. Sakit, luka, hancur bahkan tidak
cukup mewakili apa yang aku rasakan. Tuhan, aku tak mampu mengambil keputusan,
aku tak cukup bijak dan aku tak mampu. Entah aku yang terlalu lemah ataukah jalanmu
yang terlalu berat tuhan? Kumohon, apa hal terbaik yang dapat aku lakukan? Aku tak
peduli sesulit apa jalan itu, tapi tolong berikan kehidupan kepada gadisku,
hanya dengan dia aku merasa hidup.
-WAIT FOR THE NEXT PART-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar