Kamis, 22 Agustus 2013

HEARTBREAKER (part 1)



Heartbreaker
Aku tau mungkin ini bodoh, tapi bukankah itu juga nama lain dari cinta? Ketika seseorang sedang jatuh cinta ia akan melakukan banyak hal konyol yang menjurus ke hal yang bodoh, tapi manis. Kebodohan yang manis J. Ah, andai dia menganggap hal ini semanis itu, sayangnya tidak. Gadis yang aku pertahankan selama hampir 5 tahun itu, begitu jauh dari nyata... tapi bukan juga maya. Entahlah.
“eh... maukah kamu menjadi pacarku?” haha ya, sesederhana itu kata yang terucap kala aku menyatakan perasaanku terhadapnya, dulu. Ketika itu aku hanyalah cowok SMA yang labil dan baru mengenal cinta. Serta merta aku jatuh pada hatinya. Aku menunduk dalam tanpa sedikitpun keberanian menatap matanya. “ya” dan kata yang hanya terdiri dari 2 huruf itulah yang mampu mengangkat kepalaku, menarik bibirku membentuk senyuman malu-malu. Haruskah aku tertawa mengingat ini? Atau menangis? Faktanya aku tersenyum dan berkaca-kaca. Aku bahkan tidak keberatan dipanggil lelaki lemah karna menangisi wanita yang kucintai. Setidaknya masih ada senyuman, Dan biarlah aku melamunkannya, lagi.
flashback
5 tahun lalu



“happy anniv........” aku mengejutkan gadisku itu di malam anniv pertama kita. Sebuah kafe sederhana, namun yang membuatnya menarik adalah kolam renangnya. Aku, denganya senang sekali berenang disini. Aku menjual komputer, laptop dan beberapa barang lagi. Aku menghemat dan hampir tidak jajan, akupun bekerja part time. Sejak setahun lalu, sejak hari ia mengucapkan kata 2 huruf itu, aku membulatkan tekad. Entah bagaimana aku bisa yakin bertahan dengannya hingga setahun. Padalah 3 bulan adalah masa paling lama teman-temanku berpacaran. Dengan segala hal tadi, aku menggunakan semua uangku untuk kejutan ini. Membooking cafe dan mendekorasinya hingga semanis ini.
Hanya desah nafasnya yang aku dengar. Ia mengambil kue tart di tanganku dan ia letakkan di meja. Ia melingkarkan lengannya di leherku, memelukku erat dengan isak. Aku menunduk menyandarkan kepalaku dipundaknya dan kulingkarkan lenganku di pinggangnya. Kami membiarkan beberapa menit berlalu begitu saja, tanpa gerak, tanpa kata. Hanya saling mendengar detak jantung masing-masing.
“tolong, kali ini biarkan aku menangis” pintanya dengan suara serak yang lembut. Aku hanya menganggukkan kepala, masih dalam pelukannya.
Flasback end
“rav..?”........
“hah? Eh? Apa?” tanyaku dengan linglung karena masih dalam tahap mengumpulkan nyawa
“ngapain tidur di perpus? Uda sore ni, jam kuliah kamu uda berakhir dari siang tadi kan?”
Kemudian aku baru tersadar. Ah aku melamunkannya hingga tertidur rupanya. “eh iya si.. emang uda sore banget ya ini? Thanks al uda bangunin haha” aku menjawab sambil cengengesan liat jam yang uda mau maghrib. Malu dan terheran-heran dengan diriku sendiri. “ah elah rava. Yauda pulang bareng deh ayo, nebeng ya .. hehe” eh gantian aldi yang cengengesan. Tetangga sebelah yang uda akrab denganku sejak TK
Sampai di rumah aku berdebar. Masih dalam rangka melamunkannya, aku sangat mengingat hari ini. Ini adalah tanggal yang aku tunggu-tunggu. Ah bukan hari ini, besok tepatnya. Hari ini aku akan bertahan untuk tidak terpejam hingga tengah malam nanti. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ya, besok adalah hari kelahiran gadisku. Haha, bahkan sampai saat ini aku masih menyebutnya sebagai gadisku. Baiklah akan aku katakan kenyataannya. Ia bukanlah gadisku lagi, ia sudah memiliki seorang yang selalu tepat di sisinya. Ia bukan milikku, ya ini adalah kenyataan yang menyesakkan. Mungkin aku berdosa  menyebut gadis milik orang lain sebagai gadisku. Tapi tuhan akan mentolerirnya, tuhan begitu menghargai perasaanku. Bahkan dengan segala perih ini, tuhan tetap tidak menghapuskan perasaanku terhadapnya, tidak sedikitpun.
flashback
4 tahun lalu

Anniversary sudah lewat sekitar 3 bulan lalu. Hari ini aku akan melakukan beberapa hal bodoh lagi. Tanggal 14 februari yang manis.
“selamat pagi sayang, udah bangun?” aku sudah berada di depan kelasnya, bodoh bukan? Aku bahkan saingan dengan satpam sekolah karena datang sepagi ini.
“udah.... baru aja mau mandi. Kamu udah mandi sayang?” suara lembut gadisku, ya gadisku memang manis sekali.
“mm.. udah kok. Yauda kamu buruan mandi, jangan kesiangan ya.”
“iya sayang.. dada” senyumku selalu mengembang setiap kali mendengar suaranya. Bahkan ketika ia sedang marah dan menolak telvonku yang baru ia angkat setelah minimal ada 30 panggilan tidak terjawab dariku, begitu aku mendengar suaranya aku tetap tersenyum. Ia jutek, dan membentakku. Namun aku tersenyum setiap mendengar suaranya. Ketika ia sedang marah di depanku dan menolak melihatku, begitu ia menoleh dan menamparku dengan keras aku tetap tersenyum setelah melihat wajahnya. Baik aku benar-benar bodoh. Tapi ini bukan masalah otak, ini masalah perasaan. Tentang perasaanku yang berperang melawan logika.
Aku datang pagi-pagi untuk suatu alasan bodoh, lagi. Aku membawa kurang lebih 40 tangkai bunga mawar merah dan sekotak coklat lucu yang berisi berbagai bentuk. Aku meminta teman-teman kelasku dan teman-teman kelas gadisku satu persatu memberikan bunga ini. Tentu saja sulit membuat mereka bersedia melakukan ini. Aku berjanji mentraktir mereka semua makan di kantin. Dan mereka bersedia. Begitu gadisku melewati gerbang akan ada seorang yang memberikannya 1 tangkai mawar, terus begitu hingga sampai di kelasnya dan aku menunggunya disana.
“happy valentine babe...” aku menyerahkan tangkai mawar terakhir dan telah kuletakkan coklatnya diatas meja. Lagi, ia memelukku dengan isak.
Flashback end
 aku menghabiskan bergelas-gelas kopi untuk bertahan hingga detik pertama melewati pukul 24.00 ini. Aku telah mengetik kata selamat ulang tahun untuknya dengan begitu manis dan hanya tinggal memencet tombol “send”. Untuk memencet tombol kecil ini rasanya aku butuh tenaga yang amat kuat, ya sangat kuat dari dalam hatiku. Aku tahu sms ku tak akan ia balas, jika aku menelponnya ia akan semakin marah padaku. Aku tahu, karena ia memang selalu begitu. Harusnya aku merasa direndahkan setiap ia berkata kasar padaku, namun aku masih sama. Aku tetap tersenyum setiap kali mendengar  suaranya. Ya aku masih sebodoh dulu, bahkan disaat yang menyakitkan ini aku masih begitu mencintainya. Aku menunggu hingga pagi menampakkan sinarnya namun tetap tak ada balasan untuk pesan singkatku kepadanya. Aku pernah membaca kata-kata ini “orang yang benar-benar mencintaimu akan selalu mengirim pesan kepadamu di hari-hari spesialmu walau ia tahu kamu tidak akan membalas pesannya”. Aku tersenyum ketika membaca itu, dan tiba-tiba saja aku berharap ia pernah membaca kata-kata itu pula dan ia menyadari siapa seorang yang melakukan hal itu terhadapnya. Aku tahu tak hanya aku yang melakukan hal itu, ya tentu saja banyak orang lain namun aku begitu yakin hanya aku yang mampu bertahan dalam kurun paling lama. Ya, semoga ia menyadarinya.
      Baiklah, berhenti memutar ulang segala memory dengan gadisku itu. Baik, itu adalah keputusanku. Melalui mimpiku semalam tuhan memintaku untuk bersiap dengan kemungkinan terburuk. Dan salah satu bentuk persiapanku itu ialah berhenti selalu mengingat tentang gadis yang memejamkan matanya dengan begitu tenangnya didepanku saat ini. Iya, ini adalah keajaiban karena aku telah dipertemukan lagi dengan gadisku. Aku sempat meratap dan menyalahkan takdir, tuhan... mengapa engkau mempertemukan kami dengan keadaan seperti ini? Jika dengan tetap jauh dariku ia akan bahagia, sungguh aku rela tuhan. Atau, bolehkah aku merubah isi diary-nya tuhan? Bolehkah aku menulis cerita bahagia untuknya? Bolehkah waktu kembali berputar?
“nak rava... terimakasih sudah menjaga putri Om semalaman, dia pasti bisa merasakan kehadiran nak rava” mungkin ini suatu anugrah lain, aku bisa akrab dengan ayah gadisku yang belum pernah aku temui sebelumnya. “iya om, sama-sama. Tapi maaf om, saya telah membaca buku harian ini” aku merasa tidak enak karena telah membaca privasi orang sembarangan. “”oh tidak apa-apa nak. Om juga sudah membacanya, dan justru om ingin memberikan ini kepada nak rava. Baguslah kalau nak rava sudah membacanya” aku cukup terkejut mendengar Om andre mengatakan hal ini. “mungkin nak rava sebaiknya pulang dulu... pasti ibu nak rava bingung anaknya hilang waktu tengah malam dan gak pulang sampai pagi” ah ya, mungkin on andre benar. “baik om, tapi tolong ijinkan saya untuk sering berkunjung kemari”. “tentu nak, tentu”.
      Sampai di rumah, aku tetap tidak bisa tidur. Baru kemarin aku sangat bahagia menanti hari ini. Hari ulang tahun gadisku. Aku bahkan berperang melawan beratnya mataku di tengah malam demi menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat untuk gadisku. Sms-ku tidak balas, ya aku sudah menduganya. Namun yang tidak aku duga adalah jawaban di telpon ketika aku menelponnya tak lama dari pesan yang aku kirim untuknya. Bukan suara manis dan lembut yang aku dengar melainkan suara berat lelaki separuh baya. Ya, suara ayah gadisku. Entah bagaimana om andre bisa mengenalku, namun yang jelas setelah mendengar cerita singkatnya aku segera melenggang meninggalkan rumah tepat di tengah malam tanpa berpamitan kepada siapapun dirumah. Gadisku sedang koma dirumah sakit. Air mataku seakan mengering, hatiku begitu gersang. Aku hanya menatap mata yang biasanya terbuka begitu lebar dan ceria kini hanya terpejam tanpa gerak. Hanya desah lembut dari hidung mungilnya yang masih memberikan kekuatan jantungku untuk memompa darah dalam tubuhku. Kenyataan dari desah itu yang mempertegas bahwa ia belum benar-benar pergi, ya hanya itu yang membuatku memiliki alasan untuk tetap bernafas.
      Kembali aku buka lembar duka harian gadisku. Buku setebal ini hanya berkisah tentang duka dalam batinnya. Bahkan aku yang mengaku begitu mencintainya tak mengetahui tentang hal ini. Yang aku tahu hanya sekedar orang tuanya yang berpisah dan ia tinggal bersama ibu dan ayah tirinya. Hanya itu. tentang bagaimana luka ini dimulai aku benar-benar tersiksa saat membacanya.
ibu..... aku tahu aku bukan anak gadis penurut yang manis. Aku tahu aku tidak begitu pandai. Aku tahu aku memang begitu merepotkan. Lalu ibu, jika benar engkau begitu berat merawatku mengapa tidak membiarkan aku saja? Cara yang begitu mudah bukan untuk membunuhku cukup dengan tidak mempedulikan aku? Aku tidak tahu bu, bagaimana aku harus bersikap. Atau aku telah salah menilai ibu seburuk itu? terlalu durhakakah aku bu? Maaf ibu, aku sungguh tidak bisa menilai dirimu.
      Aku tidak tahu apa sebab ia menuliskan itu di buku hariannya. Aku tidak tahu apa masalahnya. Namun aku telah begitu teriris. Gadisku, seberat itukah beban batinmu? Boleh kita memutar waktu dan aku mohon biarkan aku membantumu? Aku tahu aku bodoh. Waktu yang hilang tidak akan dapat ditemukan lagi.
      Membaca segala ceritanya yang telah lalu, mau tidak mau aku kembali mengenangnya. Memutar ulang segala memory bersamanya. Luka, bahagia, semuanya.
      Flashback
      4 tahun lalu
Valentine telah berlalu sekitar 1 bulan. Dan yang aku ingat, akupun begitu yakin, hal terakhir yang aku lakukan pada gadisku adalah hal yang manis, layaknya yang aku lakukan di hari valentine lalu. Tapi malam ini aku begitu terguncang, ia memutuskanku dengan begitu mudahnya. Tanpa kutahu salahku, tanpa kutahu alasan yang mendasarinya. Ia hanya mengirim pesan yang menyatakan ia ingin putus, tepat di tengah malam. Dan hingga pukul 3 dini hari aku belum berhenti mencoba menghubunginya.
      Aku berangkat pagi, sangat pagi. Aku berniat segera menemui gadisku. Namun sekarang aku hanya tercenung menatap tulisan yang ada di pagar rumahnya. “Rumah Dijual”. Nomornya tetap tidak aktif hingga pagi ini. Aku linglung, tubuhku terjatuh, hanya lututku yang bergetar hebat menahan berat tubuhku. Penglihatanku buram seketika.
Flasback end
      Dan setelah sekian tahun aku tahu apa yang terjadi pada gadisku pada malam ia mengakhiri hubungan kami. Terlalu terlambat, karena aku terlalu bodoh. Hidupku memang berlanjut, akupun bernafas. Hanya raga-ku tidak dengan jiwa-ku. Dia tertidur terlalu lelap, terlalu lama dari jam tidur normal. Dan selama waktu tidurnya itu dia tak hanya membawa separuh jiwaku pergi, tapi seluruhnya. Seluruhnya. Aku sakit, luka yang amat sangat menusuk namun dengan segala keistimewaannya dia masih membuatku jatuh cinta. Diantara sakit hati yang aku rasakan entah bagaimana ia masih membuatku merasa seperti orang yang sedang  jatuh cinta.
      Aku merasa hidupku monoton sejak kepergian gadisku. Saat ini ketika kami dipertemukan kembali walau dengan keadaan yang teramat menyedihkan ia mengubah ritme kehidupanku. Aku mulai merasa hidup kembali. Aku mulai merasa senang, sedih, sakit, putus asa, bertekat, dia kembali menaik turunkan suasana hatiku. Dan yang kurasa saat ini adalah putus asa.
      Hari ini aku telah khatam membaca buku hariannya. Ia memporak-porandakan suasana hatiku yang sudah amat terluka. Aku bahkan tidak mampu menamai suasana hatiku saat ini. Sakit, luka, hancur bahkan tidak cukup mewakili apa yang aku rasakan. Tuhan, aku tak mampu mengambil keputusan, aku tak cukup bijak dan aku tak mampu. Entah aku yang terlalu lemah ataukah jalanmu yang terlalu berat tuhan? Kumohon, apa hal terbaik yang dapat aku lakukan? Aku tak peduli sesulit apa jalan itu, tapi tolong berikan kehidupan kepada gadisku, hanya dengan dia aku merasa hidup.

-WAIT FOR THE NEXT PART-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar