Sengaja hari ini aku bangun lebih pagi.
Aku berusaha membangun semangatku untuk menyambut awal kisah baru. Aku tidak
terlalu yakin hari ini aku bisa berhenti memikirkannya atau sekedar
membayangkan dirinya. Tapi aku sudah bertekad. Aku kelilingi kompleks rumah
sebagai pilihan track joggingku pagi
ini.
“10 menit! Hari ini untuk 10 menit aku
akan berhenti memikirkanmu” gumamku mantap pada diriku sendiri. Kemudian aku
berlari sekencang-kencangnya, bukan sekedar jogging
lagi. Lari begitu kencang dalam 10 menit tanpa henti cukup membantu otakku
untuk berhenti sejenak memikirkan tentangnya.
“Assalamualaikum warohmatullahi
wabarokatuh. Ok guys, i would like to introduce my self, my complete name is
Cantika lintang, and you can call me Tika, i was born in Bandung, 3th july 1993, and now i’m 18 years old, i live at Sarmabanjar steet. well, i think
enough, thankyou and wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh”
Begitulah caraku memperkenalkan diriku
di sekolah baruku. Ya, aku adalah seorang yang baru menjadi mahasiswi di sebuah
universitas di kotaku, ITB . Aku baru saja melewati masa-masa remajaku yang... ehm.. aku bingung
mengartikannya. Kenangan tentang sebuah kata yang sangat tidak mudah diartikan.
CINTA, begitulah kita biasa menyebutnya.
Dimulai ketika aku baru mendaftar di
sebuah SMA yang cukup dekat dengan rumahku. Pagi itu aku berangkat lebih awal
bersama beberapa teman SMP-ku.
“Ka,, keliling yuk,, cuci mata cari
cowok ganteng” ajak Firna temanku
“ OK, setuju banged,,,,!!!” sambung
Arsi dengan penuh semangat
“ Well guys,, let’s go!” ajak Riska
tidak sabar
Dengan penuh semangat aku dan
teman-temanku melihat-lihat calon teman baru kami di sekolah. Tiba-tiba
pandanganku teralih, langkahku terhenti, terpaku tanpa kata memandang seseorang
berbaju hitam yang duduk di samping
jendela itu. Aku terdiam, terpanah dan mengagumi dirinya. Sungguh aku ingin
mengenalnya sedikit lebih dekat lagi.
“Ka, gimana sih, kok bisa tiba-tiba
ngilang, eh gak taunya malah masih disini,, heran deh, ckckckc” kata Riska
mengagetkanku
“ Eh,Ris sorry ya,, aku agak error nih
kayaknya” jawabku salah tingkah
“ yaudah, ayo ke kantin,, temen-temen
pada nungguin kita disana” jawab Riska sambil menarik tanganku.
Tidak begitu lama kami berkeliling di
sekolah itu, kami memutuskan untuk pulang. Namun , sesampainya di rumah aku
masih tetap teringat seorang anak laki-laki yang benar-benar telah mengalihkan
perhatianku tadi.
Telah beberapa bulan aku menjadi murid
di SMA itu. Aku berbeda kelas dengan teman-teman SMP-ku. Tapi untungnya aku
segera dapat teman baru yang baik sama aku, saking deketnya kami sampe-sampe
temen-temen lain manggil kami kakak-adik kembar. Hahahah,, lucu deh,, padahal
saudara aja bukan. Susi,, begitulah aku biasa memanggilnya.
“Kriiinnnggggg......... yes! Ayo...”
teriak susi sambil menarik tanganku
“Eh eh, kamu ni ngagetin aku aja,”
kataku sambil menarik tanganku
“Ayo cepet, ntar donatnya keburu habis
loh” katanya dengan ekspresi khawatir
“Iya iya ayo....”kataku menurut
Begitulah kami,setelah mendengar bel
istirahat kami buru-buru berlari ke kantin. Kantin sekolah kami tidak begitu
luas, tapi makanannya sehat-sehat, tanpa mengandung zat-zat kimia yang
berbahaya. Selain itu lingkungan di sekolah kami sangat sejuk, karena banyak tanaman
disana. Nyaman banget deh pokoknya.
Setahun aku 1 kelas sama susi. Bentar
sih, tapi terkenang. Keluarga kita juga deket. Tapi sayang begitu kita beda
kelas di kelas XI, kita jadi jauh, jarang komunikasi. Tapi hati kita, tak
pernah berhenti bicara, ya kita cuma komunikasi melalui hati ke hati, tanpa
komunikasi lisan pun kami masih bisa saling memahami walau begitu lama
terpisah.
“ wah,,, sinta.... kita 1 kelas lagi”
teriakku ceria begitu masuk kelas baruku dan bertemu sinta yang dulu juga teman
sekelasku walau tidak akrab.
“iya,, syukur deh, aku kirain aku
bakal bener-bener sendirian di kelas ini” ujar sinta tak kalah ceria.
Oh
tuhan,,,, teriakku
dalam hati ketika tanpa sengaja mataku menangkap sosok yang sangat tak asing
bagiku memasuki kelas. Aku terbelalak tanpa sadar. Jantungku berdegup lebih
kencang, atau mungkin malah berhenti berdegup! Entahlah aku tak mengerti. dia,, dia,, duduk dibelakang, tanpa
sadar aku telah menyuarakan suara hatiku
“dia?? Siapa sih??” tanya sinta kontan
penasaran
“ hah?? Uhm.. ehm.. bu bukan
siapa-siapa kok” aku tergagap
Cowok itu, yang dulu aku lihat berbaju
hitam duduk di samping jendela, iya dia adalah cowok yang sama dengan cowok
yang membuatku terbelalak beberapa detik yang lalu. Namanya......
“hai teman-teman perkenalkan namaku
Tifano Nizar, tapi aku biasa dipanggil Tino”
TINO.. itu namanya... aaakhirnyaaa aku
tau juga namanya setelah setahun lamanya jadi secret admirernya. Dan aku satu
kelas sama dia, miracle.
2 tahun kemudian
“ Lagi dimana??” sms singkat Tino yang membuatku
tersenyum
“lagi di rumah susi, kenapa?” balasku masih dengan senyum mengembang
“aku kesana sekarang ya? G ganggu kan?”
“ iya, sama sekali enggak kok”
Sudah setahun aku jadian sama Tino,
sering banget berantem dan putus nyambung.Tapi karna aku terlanjur sayang
banget sama dia, jadi aku berusaha sabar aja. Sampai suatu malam dia
benar-benar telah melewati batas kesabaranku.
“siapa dia? Please jujur sama aku!”
mataku telah berkaca-kaca ketika mengucapkanya
“maaf aku gak jujur dari awal” jawab
Tino dengan meraih tanganku
“aku gak butuh permintaan maaf kamu,
aku Cuma butuh penjelasan kamu!”
Teriakku dengan melepas genggamannya
“ dia, mantan aku” jawabnya tanpa
menatapku
“ mantan? Dan kamu belain mantan kamu
daripada cewek kamu sendiri?” suaraku lirih dengan air mengalir deras di
pipiku.
hai,
aku tika, benar ini sonya? pesan
singkat dariku yang ku kirim dengan ragu
iya
benar, apa kita saling kenal?
balasnya yang aku baca dengan nada ketus, walau aku tak tau apakah dia memang
ketus
tidak,
tapi kita akan segera kenal, bisa kita bertemu?
Lama dia gak balas sms aku, akhirnya
aku memutuskan untuk mengirim pesan kepadanya lagi tanpa menuggu balasanya.
besok
aku tunggu di depan sekolah kamu, aku mau ngomong bentar, penting.
Keesokan harinya, kita bertemu. Aku menjemputnya dan
mengajaknya ke mall yang tidak jauh
dari sekolahnya. Kita duduk di food court
dekat bioskop.
“maaf merepotkanmu” kataku memulai
pembicaraan
“apa ada alasan agar aku memaafkanmu?”
balasnya dengan tatapan yang lurus tajam tertuju untukku
“mmm, aku tak tau, tapi mungkin tidak
ada” kataku berusaha menahan erupsi emosiku
“bisa langsung kau katakan tujuanmu?” kali
ini tanpa menatapku
“kau teman dekat tino?” balasku juga tanpa
menatapnya
“ iya, jadi kau mantan Tino itu?”
tenang. Ya, begitulah ekspresinya. Sangat berlawanan denganku yang terlonjak
kaget mendengar jawaban sekaligus
pertanyaannya. Mata hatiku terbelalak, entahlah mungkin mata nyatakupun juga
membelalak. What??? Mantan???
“jadi begitu katanya?” oh, aku gagal
menyembunyikan kejengkelanku. Nada suaraku sedikit meninggi.
“iya, apakah aku salah?” matanya
menyipit ketika menanyakan hal itu
Aku bingung bagaimana menjawabnya
“ sepertinya aku sudah terlambat untuk
janjiku selanjutnya, kita lanjutkan lain kali saja” entah bagaimana tiba-tiba
aku berkata begitu. Tanpa membuang waktu akupun beranjak dari tempat dudukku
tanpa menoleh lagi. Wajahku terasa sangat berat, mataku panas, dan aku
menghentikan langkah cepatku ketika tanpa sadar air mataku telah menetes.
“ kamu neror dia lagi?” mungkin bukan
nada bertanya, tapi membentak. Lagi. Dia membentakku lagi untuk kasus yang
sama. Masih dengan kasus membela cewek itu
“ aku sama sekali gak neror dia!”
cukup! Aku sudah sering bersabar menghadapinya.
“ kamu lebih baik neror aku daripada
neror dia! Jangan pernah ganggu dia lagi!” bentaknya dengan suara lebih tinggi
dan membalik badannya tanpa menghiraukan aku lebih dari itu.
aku terduduk lemas di koridor sekolah yang sudah sepi siang itu. Aku terisak dalam hening. Semakin mengeras tanpa seizinku. Kini tak lagi terdengar suara sayup-sayup tukang kebun sekolah yang menyapu, mungkin sudah pulang. Benar-benar hanya isakanku yang terdengar.
aku terduduk lemas di koridor sekolah yang sudah sepi siang itu. Aku terisak dalam hening. Semakin mengeras tanpa seizinku. Kini tak lagi terdengar suara sayup-sayup tukang kebun sekolah yang menyapu, mungkin sudah pulang. Benar-benar hanya isakanku yang terdengar.
2 tahun sebelumnya
“Nomor absen 20 sampai 25 menjadi 1
kelompok” suara Bu. Teti terdengar keras hingga ujung ruangan, bahkan dugaanku
anak yang lagi olahraga di lapangan belakangpun
mendengarnya dengan sangat jelas. Ok, aku berlebihan, tapi suara bu
guruku yang satu itu memang sangat keras. Lebih dari itu mungkin seluruh
makhluk kebatinan di dunia ini mampu mendengar jeritan hatiku yang sumpah! Lagi
kesenengen banget! Karna nomor absenku 23 dan Tino 25. Eits, bentar deh, tunggu-tunggu, suara apaan
tu? Lagunya enak banget. Eh suaranya kayak justin bieber deh. Eh iya, itu juga
lagunya JB. Wawww.......
“ta” panggilku menyebut nama sinta 3
kali. Eh beda ama ritual panggil- memanggil setan ya. “ kamu denger gak? Itu
tuh yang nyanyi?” tanyaku yang mungkin terkesan bloon banget.
“ suara apa? Gak ada yang nyanyi
Tika.....!” balasnya geregetan
Oh tuhan, kalau aku terdiagnosis gila
gimana? Atau mungkin emang bener mitos itu. Kalau kita lagi jatuh cinta, kita
bisa mendengar irama musik dalam hati kita. Secara misterius, dan hanya kita
yang mendengar atau merasakannya. Dan aku mendengarnya! Aku mendengar musik
yang sangat indah, dan sinta yang disampingku tak mendengarnya. Ya, persis! Aku
jatuh cinta. Aku menyadarinya, baru menyadarinya. Ini lebih dari kekaguman
belaka. Aku jatuh cinta. Gue ulang, aku jatuh cinta. Sengaja diulang biar makin
jelas, aku jatuh cinta –inspirasi dari novel pocong juga pocong, hehe-
Keadaan
sekarang tidaklah sama dengan dulu, dia tak lagi sama seperti obsesiku dahulu.
Statusnya memang hanya denganku, tapi hatinya tak hanya bersamaku. Gadis yang
aku tak tau bagaimana, sudah lebih lama bersemayam di hatinya, bahkan lebih
lama dari diriku. Cinta pertamanya. Ya, gadis itu adalah cinta pertamanya.
Gadis yang beberapa hari lalu aku temui, gadis yang dia bela habis-habisan.
Tino telah berubah. Bukan menjadi ksatria baja hitam atau power ranger, tapi
monster hatiku.
dia memang cinta
pertamaku, tapi kamu adalah cinta terakhirku. Maafkan aku, aku tidak bermaksud
membelanya atau menyalahkanmu, aku hanya tidak tau apa yang harus aku lakukan.
Maaf
Sudah lewat tengah malam ketika pesan
itu masuk. Hari ini kami memang bertengkar hebat. Aku tak membalas pesan itu.
Aku tak mampu. Aku alunkan dan ku kolaborasikan sendiri lagu Sheila On7
Berhenti Berharap dengan lagu Peterpan Menunggu Pagi. Lagu itu tak hanya
menggambarkan perasaanku, tapi juga menceritakanku. Tak terhitung, karna memang
tak kuhitung berapa banyak aku hanya membolak-balikan badanku di atas kasurku.
Mataku yang panas samasekali tak mau pergi ke alam bawah sadarku, dia tak mampu
terpejam untuk tidur. Suntuk sekali, akhirnya aku keluar menuju teras rumahku
dan memandang bintang yang bisa dihitung dengan jari. Aku tak mengerti darimana
keberanianku datang. Di tengah malam yang gelap aku berani seorang diri keluar
dari rumah tanpa parno sedikitpun. Aku berharap pagi segera datang dan
membangunkanku dari mimpi buruk ini. Dan aku sadar, ini bukan mimpi. Hanya saja
aku berpura-pura tidak sadar.
Tin tin tin........... suara klakson siapa itu. Huh,
benar-benar mengganggu. Dengan malas dibumbui terpaksa aku keluar dari kamarku,
karna lagi tidak ada orang di rumah, mau tak mau aku yang harus membuka pintu.
Aku mengaca sebentar, mataku jelas-jelas sembab berat. Sudahlah, biarkan saja
nanti juga hilang.
Aku
terkejut namun tak terlonjak, linglung yang iya. Si empu-nya klakson mengganggu
itu ternyata.... Tino. Ku tatap mata hitamnya. Hanya sebentar, hanya seper
sekian detik saja, tapi efek guncangannya, luar biasa.
“
ada apa” tanyaku berusaha tenang yang tentu saja gagal setelah cukup lama dia
tak berbicara dan hanya menatapku lekat-lekat di beranda rumahku.
“aku ingin memintamu kembali. Hatiku
telah tau, aku lebih membutuhkanmu, Tika” dia berusaha mengiba. Tapi aku tak
percaya. Aku tak mau.
Sore itu,
ketika aku pulang dari mall dan berbicara dengan gadis itu aku samasekali
kehilangan moodku untuk berbicara.
Aku puasa ngomong. Tapi aku tak memberitahu Tino bahwa hari itu aku bertemu
dengan gadis cinta pertamanya itu. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menghadapi
bencana hatiku. Aku terus begitu, terus berpura-pura segalanya baik-baik saja. Dalam
beberapa hari terakhir, aku terus berkirim sms dengan Sonya, aku berusaha
bersabar dan berteman dengannya untuk mengorek informasi lebih dalam tentang
tino darinya.
Kalau kamu masih sayang dengannya,
balikan aja...bunyi getaran
hp-ku mengantar pesan singkat dari Sonya itu. Dia belum tau statusku yang
sebenarnya. Bahwa aku dan Tino memang sudah balikan sejak 2 bulan lalu.
Kita emang udah balikan sejak 2 bulan
lalu. Makanya itu aku minta tolong ama kamu untuk tidak deket-deket ama dia
lagi. Aku terlampau
jengkel padanya. Aku sengaja tidak terang-terangan mengatakan statusku dan
berharap Tino-lah yang memberi tahu Sonya. Tapi sia-sia, Tino tak kunjung
memberitahunya. Akhirnya aku balas pesannya dengan blak-blakan.
Hah?? Apa? Kamu udah 2
bulan balikan? 2 bulan lalu dia nembak aku. Tapi tidak aku terima. Jeddeeeerrrrr!!! Bukan. Bukan suara
orang banting pintu, tapi halilintar hatiku. Kumatikan hp-ku, tak sanggup
membalas pesan itu. Sebenarnya aku sudah cukup banyak bertanya-tanya pada
Sonya. Dia mengaku memang dia menyukai Tino, hanya saja dia tidak mau berpacaran,
entah apa alasannya.
Tak ada yang aku katakan untuk menanggapi
dirinya. Bahkan aku samasekali tidak meliriknya. Pandanganku hanya tertuju pada
tanaman bunga mawar merah di taman bunga kecil tepat di depan beranda rumahku.
Aku kecewa untuk cinta yang baru pertama kali
aku yakini nyatanya. Aku kepalkan jemariku, menolak batinku yang ingin
mempercayainya.
“Aku mencintaimu lebih dari dirinya”
begitu lembut suaranya ketika kalimat itu terluncur. Jemariku yang terkepal
digenggam erat olehnya. Ditarikku dalam dekapannya. Bulu kudukku meremang. Aku
ketakutan, persis seperti seorang yang ditakuti hantu atau sebangsanya. Tapi
bedanya ada pada hatiku. Aku takut bukan karna aku sedang dipeluk manusia
vampir, tapi aku takut sang penguasa hatiku itu kembali menciptakan bencana
beruntun itu. Perlahan pandangku kabur, air mataku yang terasa panas menyusul
tanpa mampu kubendung. Nafasku tersengal-sengal karna isakan hebatku. Tangisku
tak berubah menjadi suara, benar-benar hanya isakan. Seolah aku sudah terlalu
lemah untuk menyuarakan tangisku. Tak mampu kupungkiri bahwa aku begitu sakit
seperti pula adanya aku yang tak mampu memungkiri bahwa aku sungguh
mencintainya.
“Aku bukan sekedar memintamu untuk
kembali, tapi aku memohon padamu. Aku mohon, kabulkan permintaanku” masih tak
bergerak diriku saat Tino mengucapkan kalimat indah itu. Dia mencium keningku.
Pelan dan lembut sekali. Lalu dia pergi untuk membiarkanku sendiri dan merenungi
permohonannya.
“Di..kamu
udah gak ada kuliah kan hari ini?” tanyaku penuh harap pada Adi teman sekaligus
tetangga Tino.
“Udah
beres semua kok urusan kuliahku hari ini, jadi aku siap mendengar curahan hati
tuan putri” balasnya dengan agak genit. Aku
memang cukup dekat dengan teman Tino yang satu itu. Seringkali aku curhat sama
dia.
“Ada cerita baru gak dari Tino? Sejak hari itu aku lost contact ama dia” jelas mimikku terlihat mengiba.
“Ada cerita baru gak dari Tino? Sejak hari itu aku lost contact ama dia” jelas mimikku terlihat mengiba.
“Serius?
Uda hampir 2 minggu dia gak ngehubungin kamu?” nadanya seperti orang tak
percaya.
“Swear ! apa alasan kamu gak percaya ama
aku?” alisku terangkat sebelah sok ganas ketika menanyakannya. Enak aja aku
dianggep pembohong!
“Padahal
dia gak henti-hentinya ceritain tentang kamu. Tapi dia gak bilang yang masalah
kalian lost contact” jawabnya dengan
ekspresi menerawang.
“Oya??
Cerita apa?” aku penasaran parah
“Yang
jelas buuaannyyak....” jawabnya super lebay
“Ya
maksudnya intinya aja ....” jawabku menggeram geregetan.
“Iya-iya..
ganas banget si. Nggeram-nggeram kayak harimau mau nerkam mangsanya aja” ih!
Kapan sih dia bisa serius?! Masih aja bercanda.
“So....
kapan kamu ceritanya kalo kamu bulet-bulet gak jelas terus gitu hah?!” aku
jitak njingkat dia!
Aku tengkurap seharian di kamar. Sok
lumpuh. Bener-bener gak mau keluar. Jelas saja, aku sedang menangis
tersedu-sedu. Cerita Adi membenarkan kenyataan yang terjadi. Bahwa Tino memang
membagi hatinya. Dia masih mencintai gadis cinta pertamanya itu. Dan dia juga
mengatakan bahwa dia juga mencintaiku. Dia tak ingin kehilangan keduanya.
Bahkan, aku yang mengenal Tino sebagai cowok super cuek dan gak pernah ngejar
cewek itu justru berubah jauh dari sosoknya yang cuek dalam usaha pengejaran
gadis cinta pertamanya itu. Sekitar 4 tahun Tino berusaha mendapatkan gadis itu.
Tapi gadis itu seringkali tidak menggubris usaha Tino. Dan Tino tak pernah
putus asa bahkan hingga saat ini, dia masih mengejar-ngejar gadis itu. Oh
hancurnya hatiku. . Yang jelas badai hujan hatiku yang terealisasikan dengan
air mataku benar-benar deras. Kamu gak akan bisa membayangkan keadaan hatiku.
Bencana yang datang bertubi-tubi tak ampuni hatiku, tak kasihani batinku. Bagai
gunung meletus yang disusul gempa bumi dan ditemani badai dengan hujan lebat
yang kemudian didampingi tsunami hingga semua tenggelam bersama panasnya magma
yang bercampur lumpur lapindo yang bahkan tak teredam oleh air hujan dan air
laut dan kemudian tiba-tiba tubuhku terangkat ke udara, aku melayang di tengah
pusaran angin tornado yang berlanjut ingin membantingku tapi ternyata tak ada
daratan di bawahku justru aku terjatuh dalam jurang tak berdasar. Kata hancur
yang bahkan berkeping-keping tak mampu menggambarkan bagaimana hatiku.
Aku pergi ke bukit yang dulu sering
aku kunjungi bersama seseorang atau sendirian ketika aku merasa ingin pergi ke
ujung dunia dan tak mau kembali ke pusat dunia untuk meghadapi kenyataan
hidupku lagi. Yang jelas aku juga pernah datang ke tempat ini bersama Tino.
Yang aku lakukan sekarang jelas. Merenung. Aku merenung dan menangis, tapi
tangisku tanpa suara ataupun isakan. Hening. Hanya air mata yang terus mengalir
deras tanpa henti dari pelupuk mataku. Kusandarkan tubuhku di pohon dan tanpa
bergerak sama sekali. Aku seolah tuli yang tak mendengar apapun. Bahkan langkah
kaki seseorang yang mendekatiku.
“Aku masih menunggu jawabanmu” suara
seseorang yang sejak tadi berkelebat tak keruan dalam otakku tiba-tiba
mengejutkanku.
“Aku ingin sendiri” jawabku lirih.
Kemudian dengan segera aku mengalihkan pandanganku ke arah yang berlawanan
dengan keberadaan dirinya.
“Sejujurnya aku juga merasa sangat
sakit. Aku tak menghendaki hatiku melakukan ini. Tapi bodohnya aku yang tak
mampu mengendalikan perasaanku. Aku ingin kamu kembali dan menumbuhkan lagi
harapan untuk melupakannya. Bukan karna aku menjadikanmu pelarianku. Tapi karna
aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu. Hanya saja sedikit ruang hatiku masih
terisi sosok orang lain, tapi aku percaya kamu mampu menghapusnya. Aku mohon,
bertahanlah” penjelasan panjang lebarnya memang menyentuhku. Tapi aku kembali
teringat bencana hatiku. Aku kembali ketakutan.
“
kamu gak tau,, aku terlampau jauh bermimpi mengejar obsesi. Sejak awal, kamulah
obsesiku yang namun kuanggap semu. Tapi kamu akhirnya datang dan menjadi nyata.
Kamu tak tau bagaimana parahnya aku mengartikan cintaku untukmu. Bagaimana
diriku dengan terang-terangan mendiagnosis diriku sendiri menjadi gila. Kamu
gak ngerti ajaibnya alunan musik indah yang misterius tiba-tiba menggema di
relungku. Semua karna kamu. Kamu Tino!!! Semua tau, aku bukan tipe cewek yang
sabar! Bahkan 3x pacaran dengan cowok lain sebelum kamu sekalipun aku tak
pernah minta maaf walau aku yang salah. Tapi saat denganmu, aku begitu
seringnya mengucap kata maaf karna aku begitu takutnya kehilangan kamu. Cukup!
Aku lelah berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja. Aku hanya ingin
mengungkapkan perasaanku sebelum segalanya berakhir. Hatimu itu, jagalah.
Jangan kau ulangi lagi membagi hati. Semoga dia tak sesakit aku, sehancur
diriku. Aku pergi.”
Penjelasan
panjang lebarku benar-benar mengakhiri segalanya. Aku beranjak dari sampingnya,
bahkan hidupnya. Aku masih sempat menatapnya sejenak sebelum kalimat terakhirku
berakhir. Jelas aku melihat perubahan ekspresinya, aku harap itu kesedihan atau
penyesalan. Tapi, biar bagaimanapun ini telah berakhir. Semunya duniaku bersama
obsesiku. Tino mungkin hanya kasihan denganku sehingga dia berkata ingin aku
kembali. Atau dia berkata begitu karna gadis cinta pertamanya itu sudah
benar-benar menolaknya. Aku tak tau kebenarannya. Tak pernah tau. Bahkan hingga
sekarang, saat aku tinggal sedikit lagi menyandang gelar sarjana.
Aku berjalan di dalam
kesendirian
Aku mencoba tak
mengingatmu dan mengenangmu
Aku telah hancur lebih
dari berkeping-keping
Karna cintaku karna
rasaku yang tulus padamu
Begitu dalamnya aku terjatuh
dalam kesalahan rasa ini
Jujur aku tak sanggup
aku tak bisa, aku tak mampu
dan aku tertatih
semua yang pernah kita lewati
tak mungkin dapat ku dustai
meskipun harus tertatih
Andai
ini adalah sebuah film maka soundtrack untuk akhir ceritaku adalah lagu ini
yang tepat. Yang saat ini ku dengar dan membuatku tak tanggung-tanggung lagi
menumpahkan air mataku. Kerispatih-Tertatih.
“Ka...
sudah aku tebak kalau kamu disini” Susi menepuk pundakku pelan.
“Kamu
ngagetin aja si” inginku si sewot, tapi tak terkabulkan.
“Aku
tau ini berat, tapi aku juga tau kamu. Aku tau kalau kamu kuat dan pasti bisa
melewatinya walau tidak dengan cepat” dia menghapus air mata yang masih
mengalir menghiasi wajahku.
“Sahabat
sejati akan selalu mengerti walau waktu tak mengijinkan lisan mereka untuk
saling berbicara karena hati mereka akan tetap saling berbicara. Terimakasih
susi” kataku kemudian menegakkan posisi dudukku.
“Aku
masih mengingat dengan jelas kata-kata mutiara kita itu” susi memelukku begitu
erat yang membawa kami terisak bersama kemudian. Aku tidak sendiri. Tuhan
mengirimkan malaikatnya yang bernama sahabat untuk menyembuhkanku dari luka
sang cinta. Tika dan Tino telah berakhir.
Susi
mengambil earphoneku kemudian
mengeluarkan HP-nya dan memutar lagu Peterpan-Menghapus Jejakmu. Kami pun
mengikuti alunan lagu itu bersama. Kami bernyanyi dan berteriak bersama.
Sahabatku kembali melukiskan senyum di wajahku. Semoga kami takkan pernah
berakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar