Selasa, 25 Juni 2013

SEMU



Sengaja hari ini aku bangun lebih pagi. Aku berusaha membangun semangatku untuk menyambut awal kisah baru. Aku tidak terlalu yakin hari ini aku bisa berhenti memikirkannya atau sekedar membayangkan dirinya. Tapi aku sudah bertekad. Aku kelilingi kompleks rumah sebagai pilihan track joggingku pagi ini.
“10 menit! Hari ini untuk 10 menit aku akan berhenti memikirkanmu” gumamku mantap pada diriku sendiri. Kemudian aku berlari sekencang-kencangnya, bukan sekedar jogging lagi. Lari begitu kencang dalam 10 menit tanpa henti cukup membantu otakku untuk berhenti sejenak memikirkan tentangnya.
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Ok guys, i would like to introduce my self, my complete name is Cantika lintang, and you can call me Tika, i was born in Bandung, 3th july 1993,  and now i’m 18 years old,  i live at Sarmabanjar steet. well, i think enough, thankyou and wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh”
Begitulah caraku memperkenalkan diriku di sekolah baruku. Ya, aku adalah seorang yang baru menjadi mahasiswi di sebuah universitas di kotaku, ITB . Aku baru saja melewati  masa-masa remajaku yang... ehm.. aku bingung mengartikannya. Kenangan tentang sebuah kata yang sangat tidak mudah diartikan. CINTA, begitulah kita biasa menyebutnya.
Dimulai ketika aku baru mendaftar di sebuah SMA yang cukup dekat dengan rumahku. Pagi itu aku berangkat lebih awal bersama beberapa teman SMP-ku.
“Ka,, keliling yuk,, cuci mata cari cowok ganteng” ajak Firna temanku
“Boleh, daripada diem disini terus, jenuh juga lama-lama” akupun menyetujuinya


 
“ OK, setuju banged,,,,!!!” sambung Arsi dengan penuh semangat
“ Well guys,, let’s go!” ajak Riska tidak sabar
Dengan penuh semangat aku dan teman-temanku melihat-lihat calon teman baru kami di sekolah. Tiba-tiba pandanganku teralih, langkahku terhenti, terpaku tanpa kata memandang seseorang  berbaju hitam yang duduk di samping jendela itu. Aku terdiam, terpanah dan mengagumi dirinya. Sungguh aku ingin mengenalnya sedikit lebih dekat lagi.
“Ka, gimana sih, kok bisa tiba-tiba ngilang, eh gak taunya malah masih disini,, heran deh, ckckckc” kata Riska mengagetkanku
“ Eh,Ris sorry ya,, aku agak error nih kayaknya” jawabku salah tingkah
“ yaudah, ayo ke kantin,, temen-temen pada nungguin kita disana” jawab Riska sambil menarik tanganku.
Tidak begitu lama kami berkeliling di sekolah itu, kami memutuskan untuk pulang. Namun , sesampainya di rumah aku masih tetap teringat seorang anak laki-laki yang benar-benar telah mengalihkan perhatianku tadi.

Telah beberapa bulan aku menjadi murid di SMA itu. Aku berbeda kelas dengan teman-teman SMP-ku. Tapi untungnya aku segera dapat teman baru yang baik sama aku, saking deketnya kami sampe-sampe temen-temen lain manggil kami kakak-adik kembar. Hahahah,, lucu deh,, padahal saudara aja bukan. Susi,, begitulah aku biasa memanggilnya.
“Kriiinnnggggg......... yes! Ayo...” teriak susi sambil menarik tanganku
“Eh eh, kamu ni ngagetin aku aja,” kataku sambil menarik tanganku
“Ayo cepet, ntar donatnya keburu habis loh” katanya dengan ekspresi khawatir
“Iya iya ayo....”kataku menurut
Begitulah kami,setelah mendengar bel istirahat kami buru-buru berlari ke kantin. Kantin sekolah kami tidak begitu luas, tapi makanannya sehat-sehat, tanpa mengandung zat-zat kimia yang berbahaya. Selain itu lingkungan di sekolah kami sangat sejuk, karena banyak tanaman disana. Nyaman banget deh pokoknya.

Setahun aku 1 kelas sama susi. Bentar sih, tapi terkenang. Keluarga kita juga deket. Tapi sayang begitu kita beda kelas di kelas XI, kita jadi jauh, jarang komunikasi. Tapi hati kita, tak pernah berhenti bicara, ya kita cuma komunikasi melalui hati ke hati, tanpa komunikasi lisan pun kami masih bisa saling memahami walau begitu lama terpisah.
“ wah,,, sinta.... kita 1 kelas lagi” teriakku ceria begitu masuk kelas baruku dan bertemu sinta yang dulu juga teman sekelasku walau tidak akrab.
“iya,, syukur deh, aku kirain aku bakal bener-bener sendirian di kelas ini” ujar sinta tak kalah ceria.
Oh tuhan,,,, teriakku dalam hati ketika tanpa sengaja mataku menangkap sosok yang sangat tak asing bagiku memasuki kelas. Aku terbelalak tanpa sadar. Jantungku berdegup lebih kencang, atau mungkin malah berhenti berdegup! Entahlah aku tak mengerti. dia,, dia,, duduk dibelakang, tanpa sadar aku telah menyuarakan suara hatiku
dia?? Siapa sih??” tanya sinta kontan penasaran
“ hah?? Uhm.. ehm.. bu bukan siapa-siapa kok” aku tergagap
Cowok itu, yang dulu aku lihat berbaju hitam duduk di samping jendela, iya dia adalah cowok yang sama dengan cowok yang membuatku terbelalak beberapa detik yang lalu. Namanya......
“hai teman-teman perkenalkan namaku Tifano Nizar, tapi aku biasa dipanggil Tino”
TINO.. itu namanya... aaakhirnyaaa aku tau juga namanya setelah setahun lamanya jadi secret admirernya. Dan aku satu kelas sama dia, miracle.

2 tahun kemudian
“ Lagi dimana??” sms singkat Tino yang membuatku tersenyum
“lagi di rumah susi, kenapa?” balasku masih dengan senyum mengembang
aku kesana sekarang ya? G ganggu kan?”
“ iya, sama sekali enggak kok”
Sudah setahun aku jadian sama Tino, sering banget berantem dan putus nyambung.Tapi karna aku terlanjur sayang banget sama dia, jadi aku berusaha sabar aja. Sampai suatu malam dia benar-benar telah melewati batas kesabaranku.
“siapa dia? Please jujur sama aku!” mataku telah berkaca-kaca ketika mengucapkanya
“maaf aku gak jujur dari awal” jawab Tino dengan meraih tanganku
“aku gak butuh permintaan maaf kamu, aku Cuma butuh penjelasan kamu!”
Teriakku dengan melepas genggamannya
“ dia, mantan aku” jawabnya tanpa menatapku
“ mantan? Dan kamu belain mantan kamu daripada cewek kamu sendiri?” suaraku lirih dengan air mengalir deras di pipiku.

hai, aku tika, benar ini sonya? pesan singkat dariku yang ku kirim dengan ragu
iya benar, apa kita saling kenal? balasnya yang aku baca dengan nada ketus, walau aku tak tau apakah dia memang ketus
tidak, tapi kita akan segera kenal, bisa kita bertemu?
Lama dia gak balas sms aku, akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan kepadanya lagi tanpa menuggu balasanya.
besok aku tunggu di depan sekolah kamu, aku mau ngomong bentar, penting.
Keesokan  harinya, kita bertemu. Aku menjemputnya dan mengajaknya ke mall yang tidak jauh dari sekolahnya. Kita duduk di food court dekat bioskop.
“maaf merepotkanmu” kataku memulai pembicaraan
“apa ada alasan agar aku memaafkanmu?” balasnya dengan tatapan yang lurus tajam tertuju untukku
“mmm, aku tak tau, tapi mungkin tidak ada” kataku berusaha menahan erupsi emosiku
“bisa langsung kau katakan tujuanmu?” kali ini tanpa menatapku
“kau teman dekat tino?” balasku juga tanpa menatapnya
“ iya, jadi kau mantan Tino itu?” tenang. Ya, begitulah ekspresinya. Sangat berlawanan denganku yang terlonjak kaget mendengar jawaban  sekaligus pertanyaannya. Mata hatiku terbelalak, entahlah mungkin mata nyatakupun juga membelalak. What??? Mantan???
“jadi begitu katanya?” oh, aku gagal menyembunyikan kejengkelanku. Nada suaraku sedikit meninggi.
“iya, apakah aku salah?” matanya menyipit ketika menanyakan hal itu
Aku bingung bagaimana menjawabnya
“ sepertinya aku sudah terlambat untuk janjiku selanjutnya, kita lanjutkan lain kali saja” entah bagaimana tiba-tiba aku berkata begitu. Tanpa membuang waktu akupun beranjak dari tempat dudukku tanpa menoleh lagi. Wajahku terasa sangat berat, mataku panas, dan aku menghentikan langkah cepatku ketika tanpa sadar air mataku telah menetes.
“ kamu neror dia lagi?” mungkin bukan nada bertanya, tapi membentak. Lagi. Dia membentakku lagi untuk kasus yang sama. Masih dengan kasus membela cewek itu
“ aku sama sekali gak neror dia!” cukup! Aku sudah sering bersabar menghadapinya.
“ kamu lebih baik neror aku daripada neror dia! Jangan pernah ganggu dia lagi!” bentaknya dengan suara lebih tinggi dan membalik badannya tanpa menghiraukan aku lebih dari itu.
            aku terduduk lemas di koridor sekolah yang sudah sepi siang itu. Aku terisak dalam hening. Semakin mengeras tanpa seizinku. Kini tak lagi terdengar suara sayup-sayup tukang kebun sekolah yang menyapu, mungkin sudah pulang. Benar-benar hanya isakanku yang terdengar.
2 tahun sebelumnya
“Nomor absen 20 sampai 25 menjadi 1 kelompok” suara Bu. Teti terdengar keras hingga ujung ruangan, bahkan dugaanku anak yang lagi olahraga di lapangan belakangpun  mendengarnya dengan sangat jelas. Ok, aku berlebihan, tapi suara bu guruku yang satu itu memang sangat keras. Lebih dari itu mungkin seluruh makhluk kebatinan di dunia ini mampu mendengar jeritan hatiku yang sumpah! Lagi kesenengen banget! Karna nomor absenku 23 dan Tino 25.  Eits, bentar deh, tunggu-tunggu, suara apaan tu? Lagunya enak banget. Eh suaranya kayak justin bieber deh. Eh iya, itu juga lagunya JB. Wawww.......
“ta” panggilku menyebut nama sinta 3 kali. Eh beda ama ritual panggil- memanggil setan ya. “ kamu denger gak? Itu tuh yang nyanyi?” tanyaku yang mungkin terkesan bloon banget.
“ suara apa? Gak ada yang nyanyi Tika.....!” balasnya geregetan
Oh tuhan, kalau aku terdiagnosis gila gimana? Atau mungkin emang bener mitos itu. Kalau kita lagi jatuh cinta, kita bisa mendengar irama musik dalam hati kita. Secara misterius, dan hanya kita yang mendengar atau merasakannya. Dan aku mendengarnya! Aku mendengar musik yang sangat indah, dan sinta yang disampingku tak mendengarnya. Ya, persis! Aku jatuh cinta. Aku menyadarinya, baru menyadarinya. Ini lebih dari kekaguman belaka. Aku jatuh cinta. Gue ulang, aku jatuh cinta. Sengaja diulang biar makin jelas, aku jatuh cinta –inspirasi dari novel pocong  juga pocong, hehe-
Keadaan sekarang tidaklah sama dengan dulu, dia tak lagi sama seperti obsesiku dahulu. Statusnya memang hanya denganku, tapi hatinya tak hanya bersamaku. Gadis yang aku tak tau bagaimana, sudah lebih lama bersemayam di hatinya, bahkan lebih lama dari diriku. Cinta pertamanya. Ya, gadis itu adalah cinta pertamanya. Gadis yang beberapa hari lalu aku temui, gadis yang dia bela habis-habisan. Tino telah berubah. Bukan menjadi ksatria baja hitam atau power ranger, tapi monster hatiku.
dia memang cinta pertamaku, tapi kamu adalah cinta terakhirku. Maafkan aku, aku tidak bermaksud membelanya atau menyalahkanmu, aku hanya tidak tau apa yang harus aku lakukan. Maaf
Sudah lewat tengah malam ketika pesan itu masuk. Hari ini kami memang bertengkar hebat. Aku tak membalas pesan itu. Aku tak mampu. Aku alunkan dan ku kolaborasikan sendiri lagu Sheila On7 Berhenti Berharap dengan lagu Peterpan Menunggu Pagi. Lagu itu tak hanya menggambarkan perasaanku, tapi juga menceritakanku. Tak terhitung, karna memang tak kuhitung berapa banyak aku hanya membolak-balikan badanku di atas kasurku. Mataku yang panas samasekali tak mau pergi ke alam bawah sadarku, dia tak mampu terpejam untuk tidur. Suntuk sekali, akhirnya aku keluar menuju teras rumahku dan memandang bintang yang bisa dihitung dengan jari. Aku tak mengerti darimana keberanianku datang. Di tengah malam yang gelap aku berani seorang diri keluar dari rumah tanpa parno sedikitpun. Aku berharap pagi segera datang dan membangunkanku dari mimpi buruk ini. Dan aku sadar, ini bukan mimpi. Hanya saja aku berpura-pura tidak sadar.
Tin tin tin........... suara klakson siapa itu. Huh, benar-benar mengganggu. Dengan malas dibumbui terpaksa aku keluar dari kamarku, karna lagi tidak ada orang di rumah, mau tak mau aku yang harus membuka pintu. Aku mengaca sebentar, mataku jelas-jelas sembab berat. Sudahlah, biarkan saja nanti juga hilang.
Aku terkejut namun tak terlonjak, linglung yang iya. Si empu-nya klakson mengganggu itu ternyata.... Tino. Ku tatap mata hitamnya. Hanya sebentar, hanya seper sekian detik saja, tapi efek guncangannya, luar biasa.
“ ada apa” tanyaku berusaha tenang yang tentu saja gagal setelah cukup lama dia tak berbicara dan hanya menatapku lekat-lekat di beranda rumahku.
“aku ingin memintamu kembali. Hatiku telah tau, aku lebih membutuhkanmu, Tika” dia berusaha mengiba. Tapi aku tak percaya. Aku tak mau.
Sore itu, ketika aku pulang dari mall dan berbicara dengan gadis itu aku samasekali kehilangan moodku untuk berbicara. Aku puasa ngomong. Tapi aku tak memberitahu Tino bahwa hari itu aku bertemu dengan gadis cinta pertamanya itu. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menghadapi bencana hatiku. Aku terus begitu, terus berpura-pura segalanya baik-baik saja. Dalam beberapa hari terakhir, aku terus berkirim sms dengan Sonya, aku berusaha bersabar dan berteman dengannya untuk mengorek informasi lebih dalam tentang tino darinya.
Kalau kamu masih sayang dengannya, balikan aja...bunyi getaran hp-ku mengantar pesan singkat dari Sonya itu. Dia belum tau statusku yang sebenarnya. Bahwa aku dan Tino memang sudah balikan sejak 2 bulan lalu.
Kita emang udah balikan sejak 2 bulan lalu. Makanya itu aku minta tolong ama kamu untuk tidak deket-deket ama dia lagi. Aku terlampau jengkel padanya. Aku sengaja tidak terang-terangan mengatakan statusku dan berharap Tino-lah yang memberi tahu Sonya. Tapi sia-sia, Tino tak kunjung memberitahunya. Akhirnya aku balas pesannya dengan blak-blakan.
Hah?? Apa? Kamu udah 2 bulan balikan? 2 bulan lalu dia nembak aku. Tapi tidak aku terima. Jeddeeeerrrrr!!! Bukan. Bukan suara orang banting pintu, tapi halilintar hatiku. Kumatikan hp-ku, tak sanggup membalas pesan itu. Sebenarnya aku sudah cukup banyak bertanya-tanya pada Sonya. Dia mengaku memang dia menyukai Tino, hanya saja dia tidak mau berpacaran, entah apa alasannya.
            Tak ada yang aku katakan untuk menanggapi dirinya. Bahkan aku samasekali tidak meliriknya. Pandanganku hanya tertuju pada tanaman bunga mawar merah di taman bunga kecil tepat di depan beranda rumahku. Aku kecewa untuk cinta yang baru pertama kali  aku yakini nyatanya. Aku kepalkan jemariku, menolak batinku yang ingin mempercayainya.
            “Aku mencintaimu lebih dari dirinya” begitu lembut suaranya ketika kalimat itu terluncur. Jemariku yang terkepal digenggam erat olehnya. Ditarikku dalam dekapannya. Bulu kudukku meremang. Aku ketakutan, persis seperti seorang yang ditakuti hantu atau sebangsanya. Tapi bedanya ada pada hatiku. Aku takut bukan karna aku sedang dipeluk manusia vampir, tapi aku takut sang penguasa hatiku itu kembali menciptakan bencana beruntun itu. Perlahan pandangku kabur, air mataku yang terasa panas menyusul tanpa mampu kubendung. Nafasku tersengal-sengal karna isakan hebatku. Tangisku tak berubah menjadi suara, benar-benar hanya isakan. Seolah aku sudah terlalu lemah untuk menyuarakan tangisku. Tak mampu kupungkiri bahwa aku begitu sakit seperti pula adanya aku yang tak mampu memungkiri bahwa aku sungguh mencintainya.
            “Aku bukan sekedar memintamu untuk kembali, tapi aku memohon padamu. Aku mohon, kabulkan permintaanku” masih tak bergerak diriku saat Tino mengucapkan kalimat indah itu. Dia mencium keningku. Pelan dan lembut sekali. Lalu dia pergi untuk membiarkanku sendiri dan merenungi permohonannya.
“Di..kamu udah gak ada kuliah kan hari ini?” tanyaku penuh harap pada Adi teman sekaligus tetangga Tino.
“Udah beres semua kok urusan kuliahku hari ini, jadi aku siap mendengar curahan hati tuan putri” balasnya dengan agak genit.  Aku memang cukup dekat dengan teman Tino yang satu itu. Seringkali aku curhat sama dia.
            “Ada cerita baru gak dari Tino? Sejak hari itu aku lost contact ama dia” jelas mimikku terlihat mengiba.
“Serius? Uda hampir 2 minggu dia gak ngehubungin kamu?” nadanya seperti orang tak percaya.
Swear ! apa alasan kamu gak percaya ama aku?” alisku terangkat sebelah sok ganas ketika menanyakannya. Enak aja aku dianggep pembohong!
“Padahal dia gak henti-hentinya ceritain tentang kamu. Tapi dia gak bilang yang masalah kalian lost contact” jawabnya dengan ekspresi menerawang.
“Oya?? Cerita apa?” aku penasaran parah
“Yang jelas buuaannyyak....” jawabnya super lebay
“Ya maksudnya intinya aja ....” jawabku menggeram geregetan.
“Iya-iya.. ganas banget si. Nggeram-nggeram kayak harimau mau nerkam mangsanya aja” ih! Kapan sih dia bisa serius?! Masih aja bercanda.
So.... kapan kamu ceritanya kalo kamu bulet-bulet gak jelas terus gitu hah?!” aku jitak njingkat dia!

Aku tengkurap seharian di kamar. Sok lumpuh. Bener-bener gak mau keluar. Jelas saja, aku sedang menangis tersedu-sedu. Cerita Adi membenarkan kenyataan yang terjadi. Bahwa Tino memang membagi hatinya. Dia masih mencintai gadis cinta pertamanya itu. Dan dia juga mengatakan bahwa dia juga mencintaiku. Dia tak ingin kehilangan keduanya. Bahkan, aku yang mengenal Tino sebagai cowok super cuek dan gak pernah ngejar cewek itu justru berubah jauh dari sosoknya yang cuek dalam usaha pengejaran gadis cinta pertamanya itu. Sekitar 4 tahun Tino berusaha mendapatkan gadis itu. Tapi gadis itu seringkali tidak menggubris usaha Tino. Dan Tino tak pernah putus asa bahkan hingga saat ini, dia masih mengejar-ngejar gadis itu. Oh hancurnya hatiku. . Yang jelas badai hujan hatiku yang terealisasikan dengan air mataku benar-benar deras. Kamu gak akan bisa membayangkan keadaan hatiku. Bencana yang datang bertubi-tubi tak ampuni hatiku, tak kasihani batinku. Bagai gunung meletus yang disusul gempa bumi dan ditemani badai dengan hujan lebat yang kemudian didampingi tsunami hingga semua tenggelam bersama panasnya magma yang bercampur lumpur lapindo yang bahkan tak teredam oleh air hujan dan air laut dan kemudian tiba-tiba tubuhku terangkat ke udara, aku melayang di tengah pusaran angin tornado yang berlanjut ingin membantingku tapi ternyata tak ada daratan di bawahku justru aku terjatuh dalam jurang tak berdasar. Kata hancur yang bahkan berkeping-keping tak mampu menggambarkan bagaimana hatiku.
            Aku pergi ke bukit yang dulu sering aku kunjungi bersama seseorang atau sendirian ketika aku merasa ingin pergi ke ujung dunia dan tak mau kembali ke pusat dunia untuk meghadapi kenyataan hidupku lagi. Yang jelas aku juga pernah datang ke tempat ini bersama Tino. Yang aku lakukan sekarang jelas. Merenung. Aku merenung dan menangis, tapi tangisku tanpa suara ataupun isakan. Hening. Hanya air mata yang terus mengalir deras tanpa henti dari pelupuk mataku. Kusandarkan tubuhku di pohon dan tanpa bergerak sama sekali. Aku seolah tuli yang tak mendengar apapun. Bahkan langkah kaki seseorang yang mendekatiku.
            “Aku masih menunggu jawabanmu” suara seseorang yang sejak tadi berkelebat tak keruan dalam otakku tiba-tiba mengejutkanku.
            “Aku ingin sendiri” jawabku lirih. Kemudian dengan segera aku mengalihkan pandanganku ke arah yang berlawanan dengan keberadaan dirinya.
            “Sejujurnya aku juga merasa sangat sakit. Aku tak menghendaki hatiku melakukan ini. Tapi bodohnya aku yang tak mampu mengendalikan perasaanku. Aku ingin kamu kembali dan menumbuhkan lagi harapan untuk melupakannya. Bukan karna aku menjadikanmu pelarianku. Tapi karna aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu. Hanya saja sedikit ruang hatiku masih terisi sosok orang lain, tapi aku percaya kamu mampu menghapusnya. Aku mohon, bertahanlah” penjelasan panjang lebarnya memang menyentuhku. Tapi aku kembali teringat bencana hatiku. Aku kembali ketakutan.
“ kamu gak tau,, aku terlampau jauh bermimpi mengejar obsesi. Sejak awal, kamulah obsesiku yang namun kuanggap semu. Tapi kamu akhirnya datang dan menjadi nyata. Kamu tak tau bagaimana parahnya aku mengartikan cintaku untukmu. Bagaimana diriku dengan terang-terangan mendiagnosis diriku sendiri menjadi gila. Kamu gak ngerti ajaibnya alunan musik indah yang misterius tiba-tiba menggema di relungku. Semua karna kamu. Kamu Tino!!! Semua tau, aku bukan tipe cewek yang sabar! Bahkan 3x pacaran dengan cowok lain sebelum kamu sekalipun aku tak pernah minta maaf walau aku yang salah. Tapi saat denganmu, aku begitu seringnya mengucap kata maaf karna aku begitu takutnya kehilangan kamu. Cukup! Aku lelah berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku sebelum segalanya berakhir. Hatimu itu, jagalah. Jangan kau ulangi lagi membagi hati. Semoga dia tak sesakit aku, sehancur diriku. Aku pergi.”
Penjelasan panjang lebarku benar-benar mengakhiri segalanya. Aku beranjak dari sampingnya, bahkan hidupnya. Aku masih sempat menatapnya sejenak sebelum kalimat terakhirku berakhir. Jelas aku melihat perubahan ekspresinya, aku harap itu kesedihan atau penyesalan. Tapi, biar bagaimanapun ini telah berakhir. Semunya duniaku bersama obsesiku. Tino mungkin hanya kasihan denganku sehingga dia berkata ingin aku kembali. Atau dia berkata begitu karna gadis cinta pertamanya itu sudah benar-benar menolaknya. Aku tak tau kebenarannya. Tak pernah tau. Bahkan hingga sekarang, saat aku tinggal sedikit lagi menyandang gelar sarjana.
Aku berjalan di dalam kesendirian
Aku mencoba tak mengingatmu dan mengenangmu
Aku telah hancur lebih dari berkeping-keping
Karna cintaku karna rasaku yang tulus padamu

Begitu dalamnya aku terjatuh dalam kesalahan rasa ini
Jujur aku tak sanggup
 aku tak bisa, aku tak mampu
 dan aku tertatih
 semua yang pernah kita lewati
 tak mungkin dapat ku dustai
 meskipun harus tertatih

Andai ini adalah sebuah film maka soundtrack untuk akhir ceritaku adalah lagu ini yang tepat. Yang saat ini ku dengar dan membuatku tak tanggung-tanggung lagi menumpahkan air mataku. Kerispatih-Tertatih.
“Ka... sudah aku tebak kalau kamu disini” Susi menepuk pundakku pelan.
“Kamu ngagetin aja si” inginku si sewot, tapi tak terkabulkan.
“Aku tau ini berat, tapi aku juga tau kamu. Aku tau kalau kamu kuat dan pasti bisa melewatinya walau tidak dengan cepat” dia menghapus air mata yang masih mengalir menghiasi wajahku.
“Sahabat sejati akan selalu mengerti walau waktu tak mengijinkan lisan mereka untuk saling berbicara karena hati mereka akan tetap saling berbicara. Terimakasih susi” kataku kemudian menegakkan posisi dudukku.
“Aku masih mengingat dengan jelas kata-kata mutiara kita itu” susi memelukku begitu erat yang membawa kami terisak bersama kemudian. Aku tidak sendiri. Tuhan mengirimkan malaikatnya yang bernama sahabat untuk menyembuhkanku dari luka sang cinta. Tika dan Tino telah berakhir.
Susi mengambil earphoneku kemudian mengeluarkan HP-nya dan memutar lagu Peterpan-Menghapus Jejakmu. Kami pun mengikuti alunan lagu itu bersama. Kami bernyanyi dan berteriak bersama. Sahabatku kembali melukiskan senyum di wajahku. Semoga kami takkan pernah berakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar