BUTAKU
Ketika bayang
itu melekat pada buliran di pelupuk
Pedih itu
pun tak terelakkan
Ia tersenyum
di sisinya, untuknya, karenanya
Debum dalam
dada menyumbat segala pendengaran
Aku melemah,
menyatu dalam luka
Lalu kau
menyapa, menepuk bahuku menenangkan
Dan ini
bahkan lebih membuatku muak
Muak pada
diriku sendiri
Aku mencintainya
hingga tak melihat putihmu
Tulus itu
tersibak dalam fikirku
Ingin kuraut
segala buta karenanya
Namun aku
tak mampu
Aku mohon
dengan segala isak
Berdirilah disini,
tepat di sampingku
Aku mohon
jangan pernah lelah mencintaiku
Hingga waktu
merelakanku tuk lelap dalam dekapmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar