Minggu, 08 Desember 2013

start from a dream


            Ardina Zaneta Putri ... namanya cantik seolah kehidupannya pun demikian. Namun siapa sangka bahwa nyatanya berkebalikan.  Sebenarnya dia tidak berasal dari keluarga yang benar-benar miskin, tapi kasih sayang dari orang tuanya membuatnya merasa sangat  miskin. Dina gelisah, tak tau apa yang seharusnya ia lakukan. Keputusannya seolah tak pernah didengar, bahkan cita-citanya tak di dukung. Sejak kecil ia tak hidup bersama orang tuanya, sebenarnya ia tak cukup kuat lagi menjadi seperti ini. Rasanya ingin sekali ia lari, melupakan segala kaidah, aturan, norma atau sebangsanya. Ia ingin berkeliaran di tengah malam dengan sebotol air keras di genggamannya yang dilengkapi dengan rokok di saku celananya. Ia berangan ke arah yang negatif, sudah sejak lama. Namun ia tak pernah bisa melakukannya. Nuraninya tak pernah mengijinkannya.
            Suara bip pelan dari HP-nya membuyarkan angannya. Tapi ia sama sekali tak berniat membaca pesan itu. Bad mood berat terlanjur tersangkar di hatinya. Masih dengan isakan kuat ia terus memeluk bonekanya. Kali ini tak hanya suara bip pelan, tapi ringtone HP-nya berbunyi, ia masih tak bergeming. Tapi si penelpon pun tak menyerah, ia terus menelfon dina. Dina ambil nafas berat panjang berharap isakannya berhenti seketika, tapi tidak, itu tak berpengaruh. Akhirnya ia pencet tombol hijau di HP-nya tanpa membaca nama yang tertera di layar. Ia bahkan masih diam dan menahan nafas agar isakannya tak keluar setelah mengangkat telfon itu. “halo, dina? Kau disana?”. Suara berat lelaki di seberang terdengar sangat ringan bagi dina. Tanpa ragu lagi ia segera mengeluarkan isakan yang sedari tadi ia tahan. Ia menangis hebat. “dina, kau kenapa? Katakanlah, apa aku perlu segera kesana? Kau di rumahkan?” cecaran pertanyaan itu tak satupun yang dijawabnya. “tidak, aku... aku hanya ingin menangis” dengan susah payah dina mengatakannya di sela-sela isakannya. “baiklah, aku akan menemani dan mendengarkan tangismu dari sini. Begitu kau lega, aku siap mendengar ceritamu. Luapkan saja, menangislah sesukamu”.
            Setelah mendengar kalimat manis itu tangisan dina semakin menjadi, antara benar-benar ingin meluapkan kesedihannya bercampur rasa haru dan terimakasih untuk lelaki yang begitu mengerti dirinya itu. Ia hanya menangis. Dan terus menangis . lelaki di seberang sana hanya diam mendengar tangisan itu. Dalam diam mereka berbicara, dan tanpa sadar lelaki itupun menitikkan air mata. “terimakasih kak...” kali ini suaranya sudah sedikit lega. “tidak perlu, aku siap mendengar semuanya selama yang kau mau. Tangismu, ceritamu, semuanya”. “aku hanya bertengkar dengan mama, itu saja. Mungkin aku berlebihan, tapi aku tidak papa jangan khawatirkan aku” dina memaksakan seulas senyum sembari mengatakannya. Walau tentu saja tak ada yang melihatnya, tapi ia tau bahwa lelaki di seberang sana bisa merasakannya. “kau berbohong, bahkan senyummu pun berbohong. Maaf sekali rencanamu gagal” yap! Sesuai dugaan lelaki itu sangat memahami dina. “kau masih disana?” dina tak menjawab pertanyaan itu. Ia tak tau harus bagaimana. “ehmm... sudah malam kak, aku mengantuk” . “hemh, baiklah jika kau ingin bercerita kapanpun itu, jangan ragu. Kau tau aku siap mendengarnya. Selamat malam”
            Dina tak benar-benar mengantuk. Ia hanya belum siap menceritakan masalahnya kepada Rian. Rian bukanlah benar-benar kakak Dina, Rian hanya kakak kelas dina di SMA-nya. Mereka sudah dekat sejak awal dina menjadi peserta MOS sekolah itu. Sosok kakak impian Dina, lengkap berada dalam diri Rian. Dina anak tunggal, yang seharusnya menjadi anak emas. Namun ia justru kehilangan perhatian dari orang tuanya. Bahkan ia hanya tinggal bersama kakek dan neneknya sejak usianya baru mencapai 1 tahun. Hanya Rian, yang paling perduli dan mengerti Dina.

            “Ma... aku ingin ambil kursus. Boleh gak?”. Awalnya hanya pertanyaan sederhana itu. Namun masalahnya bisa menjadi serumit ini. Memang ada banyak induk masalah lain, tapi hanya karena pertanyaan sesimpel itu saja bisa memunculkan kembali masalah-masalah lain.

Hari itu Dina sudah sangat bersemangat, karena akhirnya ia tahu tujuannya. Ia yakin dengan cita-citanya. Ini MIMPINYA!. Ia ingin sekali menjadi seorang designer busana internasional, namun tetap tak melupakan budaya tradisional. Ia ingin mempunyai butik yang cantik, lengkap dengan segala macam busana di setiap zaman, tak hanya era modern namun ia juga ingin membuat busana tradisional berbagai daerah bahkan dunia. Suku batak, toraja, jawa dan suku-suku lain di negaranya ia ingin membudidaya busana khas mereka. Namun tak ketinggalan ia pun ingin merancang busana khas berbagai suku dunia. Tentu saja kecuali dunia lain dalam tanda kutip. Ia sempat merasa bahwa cita-citanya mungkin terlalu tinggi, tapi tak ada salahnya ia mencoba.
Namun walau bagaimanapun dukungan orang tua sangat berperan penting untuk mencapai cita-citanya. Disitulah letak masalahnya, ia tak mendapat dukungan yang sangat penting itu.
            Malam itu, sebelum terjadi masalah sederhana yang menjadi rumit itu , dina bertengkar hebat dengan mamanya melalui telfon. “Dina, kamu tau mama tidak punya banyak uang untuk keinginan tak masuk akalmu itu. Kau aku kuliahkan saja itu sudah bagus, tak perlu jauh-jauh menghabiskan uang” mama dina bersikeras menolak permintaan Dina. “tapi ma, dina yakin, benar-benar yakin. Ini mimpi Dina,ma” dina pun bersikeras dengan keinginannya, dengan mimpinya. “ dina mohon ma, tolong dukung dina, kali ini saja” tambah dina sebelum mamanya mulai membentaknya lagi. “kamu ini, untuk kursus kamu saja bisa menghabiskan banyak sekali uang! Apalagi kuliahmu itu! Belum biaya yang lain!” bentak mama dina dengan emosi di ubun-ubun. “ ma! Kenapa mama begitu sayang dengan uang mama! Mama bahkan lebih mementingkan uang mama daripada anak mama sendiri! Putri mama satu-satunya!” dina tidak tahan lagi, emosinya memuncak. “ dasar anak tak tau terimakasih! Sudah sukur-sukur disekolahkan! Masih banyak menuntut terus! Mama sudah banyak bekerja keras jauh-jauh untuk kamu!” dina tertegun mendengar perkataan mamanya. Tidak tahu berterimakasih? Dina tidak terima atas tuduhan kejam itu. “ kalau memang dina tidak tahu berterimakasih dina tidak akan seperti ini ma. Dina gak akan berusaha keras untuk menjadi juara kelas hanya untuk membuat mama tersenyum walau hanya setiap pengambilan raport. Dina pasti menjadi anak yang terjerumus dalam kenakalan remaja, narkoba, free sex. Mama gak ngerti dina mama gak pernah hidup bersama dina” tangisnya meledak, tumpah tak terbendung.
            Semalaman dina menangis tak henti, jika berhentipun hanya hitungan detik saja. Detik berikutnya ia kembali terisak. Memang mamanya pergi jauh untuk membiayai hidup, ia tau itu untuknya. Namun itu dulu, ketika keluarganya belum hancur. Sebelum papa dina berubah menjadi jahat, sebelum papa dina melakukan kekerasan, penipuan, sebelum cinta mereka hancur. Mereka bercerai saat dina masih sangat kecil, dina tak mengerti apapun, tapi ia menjadi korban keegoisan orang tuanya. Mamanya memang tak pernah benar-benar hidup di samping dina. Sekarang saja mamanya kembali nun jauh di sana bersama ayah tirinya. Ayah yang ia tak mengerti bagaimana kepribadiannya. Pernikahan yang bahkan tak pernah menanyakan persetujuan dina.
            “hai, kau baik-baik saja?” suara rian membuat dina refleks terjingkat. “ bagaimana kakak tau aku aku disini?” dina melebarkan matanya yang sudah  lebar menatap rian penuh curiga. “kakak memata-matai aku?” dina berlagak mengancam dengan menyipitkan mata kanannya. “pertanyaanmu merupakan jawabanku”  jawab rian dengan senyum jail khasnya. “jadi aku benar. Mengapa kakak melakukan itu?” tanya dina dengan sinis yang dibuat-buat. “ aku mengkhawatirkan dirimu, itu saja” jawab rian dengan tenang, yang berkebalikan dengan hatinya yang amat gelisah. “aku baik-baik saja. Kakak lihat. Mataku masih lebar seperti biasanya, dan berfungsi nomal. Hidungku juga, telingakupun masih bisa mendengar. Aku tidak mengalami kecelakaan apapun” penjelasan dina membuat rian mendesah geregetan. “dina. Kau tau itu bukan yang aku maksud” tatapan rian tajam lurus menembus bola mata coklat cerah dina. “ ya ya kakak ... aku mengerti” balas dina dengan tertawa ringan. Namun...rian tidak mengikuti irama ceria dina. Ia masih teringat malam itu. Rian tidak tidur samasekali malam itu. Isakan kuat dina seolah mengoyak hatinya. Sakit....sangat sakit.
            Kemudian mereka hanya terdiam beberapa saat di atas gedung tertinggi sekolah mereka. Aula sekolah. Ya, disinilah mereka sekarang. Dina menatap langit sore dengan pandangan menerawang. Ia masih teringat masalahnya dengan mamanya. Sementara rian hanya memandangi wajah dina, seksama mengamati setiap perubahan ekspresi wajah dina. Ia mengerti gadis mungil disampingnya itu menyimpan beban begitu berat yang tak semua orang mampu menahannya bahkan dirinyapun tak yakin apakah ia mampu sekuat gadis ini. Gadis mungil yang  berkepribadian ceria, bertanggung jawab dan begitu tegar menahan segala bebannya, seorang diri. Bahkan ia masih bisa tertawa selepas ini setelah menangis tersedu-sedu semalaman. Ia bertekad untuk selalu mendampingi gadis ini. Ia tak akan membiarkannya sendiri lagi. Menanggung segalanya tanpa seorangpun mendukungnya.
            “kak... ada yang salah dengan wajahku? Kenapa memandangiku seperti itu?” kata dina tiba-tiba memecah keheningan. “hah? Eng.. tidak, tidak ada yang salah dengan wajahmu” rian baru tersadar wajah yang sedari tadi dipandanginya telah balik menatapnya. Mata bulat besar itu, tepat di depan mata sipit rian. Mereka berpandangan sebelum akhirnya dina kembali memecah keheningan. “kak.. aku tidak ingin pulang hari ini. Aku bosan di rumah. Rumahku bentuknya gitu-gitu aja dan di situ-situ aja” kata dina dengan memanyunkan bibirnya beberapa senti. “hahaha... kau ini ada-ada saja. Memangnya rumahmu bunglon yang bisa berubah-rubah” tawa rian akhirnya mengundang dina untuk ikut tertawa. “baiklah ikut aku” kata rian dengan meraih tangan dina. “tapi kakak kan ada ekskul basket sore ini. 5 menit lagi akan dimulai” dina berlagak melihat jam tangan di tangannya, padalah ia tak mengenakan jam tangan, dasar bocah unik. “apa yang kau lihat? Sejak kapan tangan mu itu bisa menunjukkan waktu?” kata rian yang disambut dina dengan nyengir kuda.
“itu hanya perumpamaan kak... intinya ekskul kakak akan segera dimulai” kata dina sok tau. “aku akan membolos untukmu hari ini” kata rian dengan mengedipkan sebelah matanya.

start from a dream


            Ardina Zaneta Putri ... namanya cantik seolah kehidupannya pun demikian. Namun siapa sangka bahwa nyatanya berkebalikan.  Sebenarnya dia tidak berasal dari keluarga yang benar-benar miskin, tapi kasih sayang dari orang tuanya membuatnya merasa sangat  miskin. Dina gelisah, tak tau apa yang seharusnya ia lakukan. Keputusannya seolah tak pernah didengar, bahkan cita-citanya tak di dukung. Sejak kecil ia tak hidup bersama orang tuanya, sebenarnya ia tak cukup kuat lagi menjadi seperti ini. Rasanya ingin sekali ia lari, melupakan segala kaidah, aturan, norma atau sebangsanya. Ia ingin berkeliaran di tengah malam dengan sebotol air keras di genggamannya yang dilengkapi dengan rokok di saku celananya. Ia berangan ke arah yang negatif, sudah sejak lama. Namun ia tak pernah bisa melakukannya. Nuraninya tak pernah mengijinkannya.
            Suara bip pelan dari HP-nya membuyarkan angannya. Tapi ia sama sekali tak berniat membaca pesan itu. Bad mood berat terlanjur tersangkar di hatinya. Masih dengan isakan kuat ia terus memeluk bonekanya. Kali ini tak hanya suara bip pelan, tapi ringtone HP-nya berbunyi, ia masih tak bergeming. Tapi si penelpon pun tak menyerah, ia terus menelfon dina. Dina ambil nafas berat panjang berharap isakannya berhenti seketika, tapi tidak, itu tak berpengaruh. Akhirnya ia pencet tombol hijau di HP-nya tanpa membaca nama yang tertera di layar. Ia bahkan masih diam dan menahan nafas agar isakannya tak keluar setelah mengangkat telfon itu. “halo, dina? Kau disana?”. Suara berat lelaki di seberang terdengar sangat ringan bagi dina. Tanpa ragu lagi ia segera mengeluarkan isakan yang sedari tadi ia tahan. Ia menangis hebat. “dina, kau kenapa? Katakanlah, apa aku perlu segera kesana? Kau di rumahkan?” cecaran pertanyaan itu tak satupun yang dijawabnya. “tidak, aku... aku hanya ingin menangis” dengan susah payah dina mengatakannya di sela-sela isakannya. “baiklah, aku akan menemani dan mendengarkan tangismu dari sini. Begitu kau lega, aku siap mendengar ceritamu. Luapkan saja, menangislah sesukamu”.
            Setelah mendengar kalimat manis itu tangisan dina semakin menjadi, antara benar-benar ingin meluapkan kesedihannya bercampur rasa haru dan terimakasih untuk lelaki yang begitu mengerti dirinya itu. Ia hanya menangis. Dan terus menangis . lelaki di seberang sana hanya diam mendengar tangisan itu. Dalam diam mereka berbicara, dan tanpa sadar lelaki itupun menitikkan air mata. “terimakasih kak...” kali ini suaranya sudah sedikit lega. “tidak perlu, aku siap mendengar semuanya selama yang kau mau. Tangismu, ceritamu, semuanya”. “aku hanya bertengkar dengan mama, itu saja. Mungkin aku berlebihan, tapi aku tidak papa jangan khawatirkan aku” dina memaksakan seulas senyum sembari mengatakannya. Walau tentu saja tak ada yang melihatnya, tapi ia tau bahwa lelaki di seberang sana bisa merasakannya. “kau berbohong, bahkan senyummu pun berbohong. Maaf sekali rencanamu gagal” yap! Sesuai dugaan lelaki itu sangat memahami dina. “kau masih disana?” dina tak menjawab pertanyaan itu. Ia tak tau harus bagaimana. “ehmm... sudah malam kak, aku mengantuk” . “hemh, baiklah jika kau ingin bercerita kapanpun itu, jangan ragu. Kau tau aku siap mendengarnya. Selamat malam”
            Dina tak benar-benar mengantuk. Ia hanya belum siap menceritakan masalahnya kepada Rian. Rian bukanlah benar-benar kakak Dina, Rian hanya kakak kelas dina di SMA-nya. Mereka sudah dekat sejak awal dina menjadi peserta MOS sekolah itu. Sosok kakak impian Dina, lengkap berada dalam diri Rian. Dina anak tunggal, yang seharusnya menjadi anak emas. Namun ia justru kehilangan perhatian dari orang tuanya. Bahkan ia hanya tinggal bersama kakek dan neneknya sejak usianya baru mencapai 1 tahun. Hanya Rian, yang paling perduli dan mengerti Dina.

Kamis, 22 Agustus 2013

Arti Lain Dirimu



ARTI LAIN DIRIMU

Suhu sang mentari begitu menyengat. Aku menengadah dan aku tak mampu menatapnya. Tentu saja ia terlalu bersinar dan menyilaukan. Aku selalu menyayangkan keindahan yang terlewatkan seperti ini. Sayang sekali bukan? Matahari bersinar yang begitu indah namun tak dapat kita tatap. Ah, mengapa aku melantur memikirkan matahari? Apa aku lupa kalau aku hampir terlambat? Aku bertanya tentang aku pada diriku sendiri, konyol. Tentu saja aku ingat, dan aku gelagapan sekarang. Kuliah tata bahasa asing-ku akan segera dimulai. Bu Maria dosenku yang jelita itu sebenarnya sangat eksentrik. Dan tugas-tugas darinya baru kurampungkan 10 menit yang lalu.
Sebagian buku-ku kudekap di dada karena tak sempat memasukkan semuanya ke dalam tas-ku. Dengan nafas tersengal diantara kelegaan aku telah melihat papan nama yang terpampang di atas pintu ruang kuliahku. “ayo, 10 langkah lagi,” kataku ngos-ngosan kepada diriku sendiri. Dengan satu gerakan cepat  aku mngubah lariku tadi menjadi jalan santai, sesantai mungkin. Bu dosenku yang cantik itu memang lembut, tapi menusuk. Aku celingukan beberapa kali lalu mengintip ke dalam ruangan. Ah Bu Maria sedang menghadap ke seorang anak laki-laki, dan ia membelakangi pintu. Ini dia kartu As-ku. Aku mengendap layaknya agen rahasia FBI, lalu kugerakkan bibirku tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Tapi anak laki-laki itu untungnya mengerti yang kuucapkan. Lalu ia terus berbicara pada Bu Maria hingga ia tak menyadariku masuk diam-diam ke ruangan. Aku lega, hah.... akhirnya. Tak lama dari terakhir kuhembuskan nafas besar pertanda lega, hanya sepersekian detik saja Bu Maria langsung berbalik. Ia masih tak melihatku. Aku tertawa lega dalam hatiku. “Kamu ini, selalu saja. Lama-lama aku bisa menjadi pengisi suara tersohor kalau begini.” Hidungnya yang pesek kembang kempis saat mengatakan itu. Syaina teman sekelasku sejak SMP. Ia selalu menyamarkan suaraku saat diabsen karena aku belum datang. Haha bagaimana aku bisa menahan tawa ketika ia mengkhayal ia menjadi pengisi suara tersohor. Dengan sigap ia membekapku, akhirnya tawaku tak menggelegar seperti biasanya. Tanpa sengaja dalam perjalanan mengalihkan pandangan menuju papan aku menangkap basah anak laki-laki itu memandangiku dengan senyum selebar yang ia mampu. Aku membalas senyumannya dengan tawa kecil dan ia mengedipkan sebelah matanya yang aku acungi jempol kananku di depan hidungku. Dan dengan bersamaan kami mengedikkan bahu kami 1 kali sebelum benar-benar mendengarkan ocehan miss Mery, julukan dariku untuk Bu Maria.


aku hanya ingin tahu, Bu



Aku hanya ingin tahu, Bu
Ketika itu... aku terlalu kecil
Berjalan pun aku belum mampu
Dan aku tak mampu menghalangimu
Tanpa sadar kau t’lah terlampau kauh dari jangkauanku 
            Aku tahu ini tak pantas, tapi aku hanya ingin tahu
            Bu, berapa kali kau memelukku?
            Bu, berapa kali kau menciumku?
Jarak dan waktu itu
Memaksaku tak mengenalmu
Membuatku tak memahamimu
Bahkan aku tak merasakan ikatan itu
            Di sudut gelap hati ini
            Menggema tanya yang tak seharusnya
            Sekali lagi, tapi aku hanya ingin tahu bu
            Lantas, durhaka kah aku?
Setebal jarak dan waktu itu perbedaan kita
Maaf aku tak sejalan denganmu
Setidaknya, dukung mimpiku bu
            Bu, aku tahu ini tak seharusnya
            Tapi aku hanya ingin tahu
            Sejauh memory ini aku tak pernah mendenganya

            Bu, sayangkah kau padaku?

BUTAKU



BUTAKU
Ketika bayang itu melekat pada buliran di pelupuk
Pedih itu pun tak terelakkan
Ia tersenyum di sisinya, untuknya, karenanya
Debum dalam dada menyumbat segala pendengaran

Aku melemah, menyatu dalam luka
Lalu kau menyapa, menepuk bahuku menenangkan
Dan ini bahkan lebih membuatku muak
Muak pada diriku sendiri

Aku mencintainya hingga tak melihat putihmu
Tulus itu tersibak dalam fikirku
Ingin kuraut segala buta karenanya
Namun aku tak mampu

Aku mohon dengan segala isak
Berdirilah disini, tepat di sampingku
Aku mohon jangan pernah lelah mencintaiku
Hingga waktu merelakanku tuk lelap dalam dekapmu

tentang luka



Tentang luka
Kau datang dengan sinar penuh harapan
Bagai pelangi memberi kejutan kepada sang hujan
Perlahan... mendung itu pun pergi
Memanggil sang mentari
          Luka di lubuk hati ini bahkan tak kuingat
          Aku bahkan tersenyum cukup dengan senyummu
          Dunia bahkan terlihat lebih indah
          Persis ketika aku belum mengenal luka
Namun saat kulihat punggungmu menjauh
Tak ada lagi yang dapat kulihat, kudengar
Irama langkahmu memelan lalu menghilang
Seketika aku lumpuh, berkedip pun begitu berat
          Kau menghapus luka, menukarnya dengan derita
          Menjauh dan tak menolehku
          Lalu, bagaimanakah dengan aku?
          Akankah aku terus membisu dan terpaku menantimu?

HEARTBREAKER (part 1)



Heartbreaker
Aku tau mungkin ini bodoh, tapi bukankah itu juga nama lain dari cinta? Ketika seseorang sedang jatuh cinta ia akan melakukan banyak hal konyol yang menjurus ke hal yang bodoh, tapi manis. Kebodohan yang manis J. Ah, andai dia menganggap hal ini semanis itu, sayangnya tidak. Gadis yang aku pertahankan selama hampir 5 tahun itu, begitu jauh dari nyata... tapi bukan juga maya. Entahlah.
“eh... maukah kamu menjadi pacarku?” haha ya, sesederhana itu kata yang terucap kala aku menyatakan perasaanku terhadapnya, dulu. Ketika itu aku hanyalah cowok SMA yang labil dan baru mengenal cinta. Serta merta aku jatuh pada hatinya. Aku menunduk dalam tanpa sedikitpun keberanian menatap matanya. “ya” dan kata yang hanya terdiri dari 2 huruf itulah yang mampu mengangkat kepalaku, menarik bibirku membentuk senyuman malu-malu. Haruskah aku tertawa mengingat ini? Atau menangis? Faktanya aku tersenyum dan berkaca-kaca. Aku bahkan tidak keberatan dipanggil lelaki lemah karna menangisi wanita yang kucintai. Setidaknya masih ada senyuman, Dan biarlah aku melamunkannya, lagi.
flashback
5 tahun lalu


Selasa, 25 Juni 2013

SEMU



Sengaja hari ini aku bangun lebih pagi. Aku berusaha membangun semangatku untuk menyambut awal kisah baru. Aku tidak terlalu yakin hari ini aku bisa berhenti memikirkannya atau sekedar membayangkan dirinya. Tapi aku sudah bertekad. Aku kelilingi kompleks rumah sebagai pilihan track joggingku pagi ini.
“10 menit! Hari ini untuk 10 menit aku akan berhenti memikirkanmu” gumamku mantap pada diriku sendiri. Kemudian aku berlari sekencang-kencangnya, bukan sekedar jogging lagi. Lari begitu kencang dalam 10 menit tanpa henti cukup membantu otakku untuk berhenti sejenak memikirkan tentangnya.
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Ok guys, i would like to introduce my self, my complete name is Cantika lintang, and you can call me Tika, i was born in Bandung, 3th july 1993,  and now i’m 18 years old,  i live at Sarmabanjar steet. well, i think enough, thankyou and wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh”
Begitulah caraku memperkenalkan diriku di sekolah baruku. Ya, aku adalah seorang yang baru menjadi mahasiswi di sebuah universitas di kotaku, ITB . Aku baru saja melewati  masa-masa remajaku yang... ehm.. aku bingung mengartikannya. Kenangan tentang sebuah kata yang sangat tidak mudah diartikan. CINTA, begitulah kita biasa menyebutnya.
Dimulai ketika aku baru mendaftar di sebuah SMA yang cukup dekat dengan rumahku. Pagi itu aku berangkat lebih awal bersama beberapa teman SMP-ku.
“Ka,, keliling yuk,, cuci mata cari cowok ganteng” ajak Firna temanku
“Boleh, daripada diem disini terus, jenuh juga lama-lama” akupun menyetujuinya