ARTI LAIN
DIRIMU
Suhu sang mentari begitu menyengat. Aku menengadah dan aku
tak mampu menatapnya. Tentu saja ia terlalu bersinar dan menyilaukan. Aku selalu
menyayangkan keindahan yang terlewatkan seperti ini. Sayang sekali bukan? Matahari
bersinar yang begitu indah namun tak dapat kita tatap. Ah, mengapa aku melantur
memikirkan matahari? Apa aku lupa kalau aku hampir terlambat? Aku bertanya
tentang aku pada diriku sendiri, konyol. Tentu saja aku ingat, dan aku
gelagapan sekarang. Kuliah tata bahasa asing-ku akan segera dimulai. Bu Maria
dosenku yang jelita itu sebenarnya sangat eksentrik. Dan tugas-tugas darinya
baru kurampungkan 10 menit yang lalu.
Sebagian buku-ku kudekap di dada karena tak sempat memasukkan
semuanya ke dalam tas-ku. Dengan nafas tersengal diantara kelegaan aku telah
melihat papan nama yang terpampang di atas pintu ruang kuliahku. “ayo, 10
langkah lagi,” kataku ngos-ngosan kepada diriku sendiri. Dengan satu gerakan
cepat aku mngubah lariku tadi menjadi
jalan santai, sesantai mungkin. Bu dosenku yang cantik itu memang lembut, tapi
menusuk. Aku celingukan beberapa kali lalu mengintip ke dalam ruangan. Ah Bu
Maria sedang menghadap ke seorang anak laki-laki, dan ia membelakangi pintu. Ini
dia kartu As-ku. Aku mengendap layaknya agen rahasia FBI, lalu kugerakkan bibirku
tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Tapi anak laki-laki itu untungnya mengerti
yang kuucapkan. Lalu ia terus berbicara pada Bu Maria hingga ia tak menyadariku
masuk diam-diam ke ruangan. Aku lega, hah.... akhirnya. Tak lama dari terakhir
kuhembuskan nafas besar pertanda lega, hanya sepersekian detik saja Bu Maria
langsung berbalik. Ia masih tak melihatku. Aku tertawa lega dalam hatiku. “Kamu
ini, selalu saja. Lama-lama aku bisa menjadi pengisi suara tersohor kalau
begini.” Hidungnya yang pesek kembang kempis saat mengatakan itu. Syaina teman
sekelasku sejak SMP. Ia selalu menyamarkan suaraku saat diabsen karena aku
belum datang. Haha bagaimana aku bisa menahan tawa ketika ia mengkhayal ia
menjadi pengisi suara tersohor. Dengan sigap ia membekapku, akhirnya tawaku tak
menggelegar seperti biasanya. Tanpa sengaja dalam perjalanan mengalihkan
pandangan menuju papan aku menangkap basah anak laki-laki itu memandangiku
dengan senyum selebar yang ia mampu. Aku membalas senyumannya dengan tawa kecil
dan ia mengedipkan sebelah matanya yang aku acungi jempol kananku di depan
hidungku. Dan dengan bersamaan kami mengedikkan bahu kami 1 kali sebelum
benar-benar mendengarkan ocehan miss Mery, julukan dariku untuk Bu Maria.