Kamis, 22 Agustus 2013

Arti Lain Dirimu



ARTI LAIN DIRIMU

Suhu sang mentari begitu menyengat. Aku menengadah dan aku tak mampu menatapnya. Tentu saja ia terlalu bersinar dan menyilaukan. Aku selalu menyayangkan keindahan yang terlewatkan seperti ini. Sayang sekali bukan? Matahari bersinar yang begitu indah namun tak dapat kita tatap. Ah, mengapa aku melantur memikirkan matahari? Apa aku lupa kalau aku hampir terlambat? Aku bertanya tentang aku pada diriku sendiri, konyol. Tentu saja aku ingat, dan aku gelagapan sekarang. Kuliah tata bahasa asing-ku akan segera dimulai. Bu Maria dosenku yang jelita itu sebenarnya sangat eksentrik. Dan tugas-tugas darinya baru kurampungkan 10 menit yang lalu.
Sebagian buku-ku kudekap di dada karena tak sempat memasukkan semuanya ke dalam tas-ku. Dengan nafas tersengal diantara kelegaan aku telah melihat papan nama yang terpampang di atas pintu ruang kuliahku. “ayo, 10 langkah lagi,” kataku ngos-ngosan kepada diriku sendiri. Dengan satu gerakan cepat  aku mngubah lariku tadi menjadi jalan santai, sesantai mungkin. Bu dosenku yang cantik itu memang lembut, tapi menusuk. Aku celingukan beberapa kali lalu mengintip ke dalam ruangan. Ah Bu Maria sedang menghadap ke seorang anak laki-laki, dan ia membelakangi pintu. Ini dia kartu As-ku. Aku mengendap layaknya agen rahasia FBI, lalu kugerakkan bibirku tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Tapi anak laki-laki itu untungnya mengerti yang kuucapkan. Lalu ia terus berbicara pada Bu Maria hingga ia tak menyadariku masuk diam-diam ke ruangan. Aku lega, hah.... akhirnya. Tak lama dari terakhir kuhembuskan nafas besar pertanda lega, hanya sepersekian detik saja Bu Maria langsung berbalik. Ia masih tak melihatku. Aku tertawa lega dalam hatiku. “Kamu ini, selalu saja. Lama-lama aku bisa menjadi pengisi suara tersohor kalau begini.” Hidungnya yang pesek kembang kempis saat mengatakan itu. Syaina teman sekelasku sejak SMP. Ia selalu menyamarkan suaraku saat diabsen karena aku belum datang. Haha bagaimana aku bisa menahan tawa ketika ia mengkhayal ia menjadi pengisi suara tersohor. Dengan sigap ia membekapku, akhirnya tawaku tak menggelegar seperti biasanya. Tanpa sengaja dalam perjalanan mengalihkan pandangan menuju papan aku menangkap basah anak laki-laki itu memandangiku dengan senyum selebar yang ia mampu. Aku membalas senyumannya dengan tawa kecil dan ia mengedipkan sebelah matanya yang aku acungi jempol kananku di depan hidungku. Dan dengan bersamaan kami mengedikkan bahu kami 1 kali sebelum benar-benar mendengarkan ocehan miss Mery, julukan dariku untuk Bu Maria.


aku hanya ingin tahu, Bu



Aku hanya ingin tahu, Bu
Ketika itu... aku terlalu kecil
Berjalan pun aku belum mampu
Dan aku tak mampu menghalangimu
Tanpa sadar kau t’lah terlampau kauh dari jangkauanku 
            Aku tahu ini tak pantas, tapi aku hanya ingin tahu
            Bu, berapa kali kau memelukku?
            Bu, berapa kali kau menciumku?
Jarak dan waktu itu
Memaksaku tak mengenalmu
Membuatku tak memahamimu
Bahkan aku tak merasakan ikatan itu
            Di sudut gelap hati ini
            Menggema tanya yang tak seharusnya
            Sekali lagi, tapi aku hanya ingin tahu bu
            Lantas, durhaka kah aku?
Setebal jarak dan waktu itu perbedaan kita
Maaf aku tak sejalan denganmu
Setidaknya, dukung mimpiku bu
            Bu, aku tahu ini tak seharusnya
            Tapi aku hanya ingin tahu
            Sejauh memory ini aku tak pernah mendenganya

            Bu, sayangkah kau padaku?

BUTAKU



BUTAKU
Ketika bayang itu melekat pada buliran di pelupuk
Pedih itu pun tak terelakkan
Ia tersenyum di sisinya, untuknya, karenanya
Debum dalam dada menyumbat segala pendengaran

Aku melemah, menyatu dalam luka
Lalu kau menyapa, menepuk bahuku menenangkan
Dan ini bahkan lebih membuatku muak
Muak pada diriku sendiri

Aku mencintainya hingga tak melihat putihmu
Tulus itu tersibak dalam fikirku
Ingin kuraut segala buta karenanya
Namun aku tak mampu

Aku mohon dengan segala isak
Berdirilah disini, tepat di sampingku
Aku mohon jangan pernah lelah mencintaiku
Hingga waktu merelakanku tuk lelap dalam dekapmu

tentang luka



Tentang luka
Kau datang dengan sinar penuh harapan
Bagai pelangi memberi kejutan kepada sang hujan
Perlahan... mendung itu pun pergi
Memanggil sang mentari
          Luka di lubuk hati ini bahkan tak kuingat
          Aku bahkan tersenyum cukup dengan senyummu
          Dunia bahkan terlihat lebih indah
          Persis ketika aku belum mengenal luka
Namun saat kulihat punggungmu menjauh
Tak ada lagi yang dapat kulihat, kudengar
Irama langkahmu memelan lalu menghilang
Seketika aku lumpuh, berkedip pun begitu berat
          Kau menghapus luka, menukarnya dengan derita
          Menjauh dan tak menolehku
          Lalu, bagaimanakah dengan aku?
          Akankah aku terus membisu dan terpaku menantimu?

HEARTBREAKER (part 1)



Heartbreaker
Aku tau mungkin ini bodoh, tapi bukankah itu juga nama lain dari cinta? Ketika seseorang sedang jatuh cinta ia akan melakukan banyak hal konyol yang menjurus ke hal yang bodoh, tapi manis. Kebodohan yang manis J. Ah, andai dia menganggap hal ini semanis itu, sayangnya tidak. Gadis yang aku pertahankan selama hampir 5 tahun itu, begitu jauh dari nyata... tapi bukan juga maya. Entahlah.
“eh... maukah kamu menjadi pacarku?” haha ya, sesederhana itu kata yang terucap kala aku menyatakan perasaanku terhadapnya, dulu. Ketika itu aku hanyalah cowok SMA yang labil dan baru mengenal cinta. Serta merta aku jatuh pada hatinya. Aku menunduk dalam tanpa sedikitpun keberanian menatap matanya. “ya” dan kata yang hanya terdiri dari 2 huruf itulah yang mampu mengangkat kepalaku, menarik bibirku membentuk senyuman malu-malu. Haruskah aku tertawa mengingat ini? Atau menangis? Faktanya aku tersenyum dan berkaca-kaca. Aku bahkan tidak keberatan dipanggil lelaki lemah karna menangisi wanita yang kucintai. Setidaknya masih ada senyuman, Dan biarlah aku melamunkannya, lagi.
flashback
5 tahun lalu