Rabu, 20 Agustus 2014

TENTANG TEMPAT ASAL SAYA "GUNUNG KAWI"


Gunung Kawi yang terletak di Desa Wonosari, kabupaten Malang ini dari kejauhan hanya terlihat seperti gunung pada umumnya. Jalan menuju Gunung Kawi mudah di akses dari manapun, bisa ditempuh dari kota Blitar menuju Malang, atau dari Malang menuju Blitar. Petunjuk jalan menuju Gunung Kawi cukup jelas mengingat ini salah satu wisata “ritual” yang cukup terkenal di Jawa. Dari jalan raya Blitar – Malang kendaraan harus menyusuri jalan pegunungan beraspal yang lumayan banyak lubang. Setelah melaju kurang lebih 30 menit pengunjung sudah bisa menjumpai loket masuk “Pesarean Gunung Kawi” dan setiap pengunjung dikenai biaya retribusi 3.000 per orang.
Gunung Kawi


Gunung Kawi
Banyak orang mengenal nama Gunung Kawi sebagai gunung mistis yang sarat dengan tempat mumpuni untuk mencari pesugihan, kesuksesan, rejeki berlimpah. Gunung Kawi semakin terlihat istimewa bagi para semediers ( baca : peziarah yang rajin semedi di kuburan ) dikarenakan oleh keberadaan dua buah makam yang dipercaya membawa berkah oleh penduduk setempat dan peziarah dari luar kota, salah satunya adalah makam Mbah Djoego.
Siapakah Mbah Djoego? Mbah Djoego merupakan sebutan dari Raden Mas Soeryo Koesoemo atau Kanjeng Kyai Zakaria II, putra dari Kanjeng Kyai Zakaria I. Bila ditelusuri dari sejarahnya, Mbah Djoego masih merupakan buyut dari Paku Buwono I. Beliau merupakan salah seorang ulama besar di lingkungan keraton Kartosuro yang mengembara dari Yogyakarta sampai Kesamben ( sebuah desa yang berjarak 60 km dari Blitar ). Dengan kepribadian yang suka menolong sesama dan kepintarannya di bidang ilmu agama membuat beliau disegani oleh masyarakat di Kesamben.
Lain cerita dengan makam kedua yang merupakan makam dari Raden Mas Iman Soedjono. Beliau adalah sosok yang membuka hutan di area Gunung Kawi dan mendirikan padepokan di Wonosari yang diceritakan sebagai murid yang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Mbah Djoego yang sampai meninggal tidak memiliki ikatan perkawinan.
Gunung Kawi tidak hanya dikunjungi oleh penganut kepercayaan kejawen saja, banyak terlihat juga orang Tionghoa yang berziarah di sana. Bahkan terdapat sebuah klenteng tempat pemujaan dewa Tiongkok terletak tak jauh dari lokasi makam! Trend ini dipicu dengan kesuksesan salah satu pemilik perusahaan rokok terkenal di Indonesia yang menyebarkan kisah sukses NGAWUR yang diperolehnya di Gunung Kawi. Terdengar SANGAT omong kosong, tapi dengan promosi ngawur tersebut kawasan Gunung Kawi menjadi salah satu objek wisata ritual terkenal se-Indonesia. Kawasan makam yang selalu penuh saat weekend, hari libur nasional dan kalender Jawa seperti malam Suro dan Jumat Legi membuat penduduk setempat merasakan untung dengan kondisi homestay mereka yang selalu penuh, rumah makan sampai toko souvenir yang ramai dikunjungi oleh peziarah.
Para peziarah tidak datang dengan tangan kosong, mereka harus membeli bunga untuk ditabur di makam, bagi yang memiliki dana lebih membeli sesajian berupa bancakan untuk selametan di area makam. Bagi yang merasa punya “hutang” sukses biasanya menyewa jasa pertunjukan wayang kulit yang harganya jutaan rupiah sebagai bentuk syukur kesuksesannya.
bunga sesaji
bunga sesaji
SALAHKAH? BENARKAH? Semuanya tergantung oleh orang yang menjalani dan mengartikan sejarah di balik penyebaran agama yang dilakukan oleh Mbah Djoego. Ada yang selalu menganggap Gunung Kawi sebagai tempat khusyuk untuk beribadah tanpa memandang kepercayaan apapun, ada pula yang rela menunggu di depan pohon yang dikeramatkan semalam suntuk, dan ritual-ritual lain.
Saya pribadi hanya bisa tertawa dalam hati melihat orang yang percaya dengan hal tidak masuk di akal seperti itu…. Tanpa usaha dan kerja keras, semua keinginan manusiawi tidak mungkin bisa didapat dengan cuma-cuma… Berdoalah hanya kepada Tuhan YME sesuai agama Anda masing-masing, bukan dengan hal mistis di luar akal sehat…

SUMBER : http://jejak-bocahilang.com/2013/06/27/gunung-kawi-satu-nama-dua-cerita/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar