Rabu, 20 Agustus 2014


            Ardina Zaneta Putri ... namanya cantik seolah kehidupannya pun demikian. Namun siapa sangka bahwa nyatanya berkebalikan.  Sebenarnya dia tidak berasal dari keluarga yang benar-benar miskin, tapi kasih sayang dari orang tuanya membuatnya merasa sangat  miskin. Dina gelisah, tak tau apa yang seharusnya ia lakukan. Keputusannya seolah tak pernah didengar, bahkan cita-citanya tak di dukung. Sejak kecil ia tak hidup bersama orang tuanya, sebenarnya ia tak cukup kuat lagi menjadi seperti ini. Rasanya ingin sekali ia lari, melupakan segala kaidah, aturan, norma atau sebangsanya. Ia ingin berkeliaran di tengah malam dengan sebotol air keras di genggamannya yang dilengkapi dengan rokok di saku celananya. Ia berangan ke arah yang negatif, sudah sejak lama. Namun ia tak pernah bisa melakukannya. Nuraninya tak pernah mengijinkannya.
            Suara bip pelan dari HP-nya membuyarkan angannya. Tapi ia sama sekali tak berniat membaca pesan itu. Bad mood berat terlanjur tersangkar di hatinya. Masih dengan isakan kuat ia terus memeluk bonekanya. Kali ini tak hanya suara bip pelan, tapi ringtone HP-nya berbunyi, ia masih tak bergeming. Tapi si penelpon pun tak menyerah, ia terus menelfon dina. Dina ambil nafas berat panjang berharap isakannya berhenti seketika, tapi tidak, itu tak berpengaruh. Akhirnya ia pencet tombol hijau di HP-nya tanpa membaca nama yang tertera di layar. Ia bahkan masih diam dan menahan nafas agar isakannya tak keluar setelah mengangkat telfon itu. “halo, dina? Kau disana?”. Suara berat lelaki di seberang terdengar sangat ringan bagi dina. Tanpa ragu lagi ia segera mengeluarkan isakan yang sedari tadi ia tahan. Ia menangis hebat. “dina, kau kenapa? Katakanlah, apa aku perlu segera kesana? Kau di rumahkan?” cecaran pertanyaan itu tak satupun yang dijawabnya. “tidak, aku... aku hanya ingin menangis” dengan susah payah dina mengatakannya di sela-sela isakannya. “baiklah, aku akan menemani dan mendengarkan tangismu dari sini. Begitu kau lega, aku siap mendengar ceritamu. Luapkan saja, menangislah sesukamu”. 


 
            Setelah mendengar kalimat manis itu tangisan dina semakin menjadi, antara benar-benar ingin meluapkan kesedihannya bercampur rasa haru dan terimakasih untuk lelaki yang begitu mengerti dirinya itu. Ia hanya menangis. Dan terus menangis . lelaki di seberang sana hanya diam mendengar tangisan itu. Dalam diam mereka berbicara, dan tanpa sadar lelaki itupun menitikkan air mata. “terimakasih kak...” kali ini suaranya sudah sedikit lega. “tidak perlu, aku siap mendengar semuanya selama yang kau mau. Tangismu, ceritamu, semuanya”. “aku hanya bertengkar dengan mama, itu saja. Mungkin aku berlebihan, tapi aku tidak papa jangan khawatirkan aku” dina memaksakan seulas senyum sembari mengatakannya. Walau tentu saja tak ada yang melihatnya, tapi ia tau bahwa lelaki di seberang sana bisa merasakannya. “kau berbohong, bahkan senyummu pun berbohong. Maaf sekali rencanamu gagal” yap! Sesuai dugaan lelaki itu sangat memahami dina. “kau masih disana?” dina tak menjawab pertanyaan itu. Ia tak tau harus bagaimana. “ehmm... sudah malam kak, aku mengantuk” . “hemh, baiklah jika kau ingin bercerita kapanpun itu, jangan ragu. Kau tau aku siap mendengarnya. Selamat malam”
            Dina tak benar-benar mengantuk. Ia hanya belum siap menceritakan masalahnya kepada Rian. Rian bukanlah benar-benar kakak Dina, Rian hanya kakak kelas dina di SMA-nya. Mereka sudah dekat sejak awal dina menjadi peserta MOS sekolah itu. Sosok kakak impian Dina, lengkap berada dalam diri Rian. Dina anak tunggal, yang seharusnya menjadi anak emas. Namun ia justru kehilangan perhatian dari orang tuanya. Bahkan ia hanya tinggal bersama kakek dan neneknya sejak usianya baru mencapai 1 tahun. Hanya Rian, yang paling perduli dan mengerti Dina.

            “Ma... aku ingin ambil kursus. Boleh gak?”. Awalnya hanya pertanyaan sederhana itu. Namun masalahnya bisa menjadi serumit ini. Memang ada banyak induk masalah lain, tapi hanya karena pertanyaan sesimpel itu saja bisa memunculkan kembali masalah-masalah lain.

Hari itu Dina sudah sangat bersemangat, karena akhirnya ia tahu tujuannya. Ia yakin dengan cita-citanya. Ini MIMPINYA!. Ia ingin sekali menjadi seorang designer busana internasional, namun tetap tak melupakan budaya tradisional. Ia ingin mempunyai butik yang cantik, lengkap dengan segala macam busana di setiap zaman, tak hanya era modern namun ia juga ingin membuat busana tradisional berbagai daerah bahkan dunia. Suku batak, toraja, jawa dan suku-suku lain di negaranya ia ingin membudidaya busana khas mereka. Namun tak ketinggalan ia pun ingin merancang busana khas berbagai suku dunia. Tentu saja kecuali dunia lain dalam tanda kutip. Ia sempat merasa bahwa cita-citanya mungkin terlalu tinggi, tapi tak ada salahnya ia mencoba.
Namun walau bagaimanapun dukungan orang tua sangat berperan penting untuk mencapai cita-citanya. Disitulah letak masalahnya, ia tak mendapat dukungan yang sangat penting itu.
            Malam itu, sebelum terjadi masalah sederhana yang menjadi rumit itu , dina bertengkar hebat dengan mamanya melalui telfon. “Dina, kamu tau mama tidak punya banyak uang untuk keinginan tak masuk akalmu itu. Kau aku kuliahkan saja itu sudah bagus, tak perlu jauh-jauh menghabiskan uang” mama dina bersikeras menolak permintaan Dina. “tapi ma, dina yakin, benar-benar yakin. Ini mimpi Dina,ma” dina pun bersikeras dengan keinginannya, dengan mimpinya. “ dina mohon ma, tolong dukung dina, kali ini saja” tambah dina sebelum mamanya mulai membentaknya lagi. “kamu ini, untuk kursus kamu saja bisa menghabiskan banyak sekali uang! Apalagi kuliahmu itu! Belum biaya yang lain!” bentak mama dina dengan emosi di ubun-ubun. “ ma! Kenapa mama begitu sayang dengan uang mama! Mama bahkan lebih mementingkan uang mama daripada anak mama sendiri! Putri mama satu-satunya!” dina tidak tahan lagi, emosinya memuncak. “ dasar anak tak tau terimakasih! Sudah sukur-sukur disekolahkan! Masih banyak menuntut terus! Mama sudah banyak bekerja keras jauh-jauh untuk kamu!” dina tertegun mendengar perkataan mamanya. Tidak tahu berterimakasih? Dina tidak terima atas tuduhan kejam itu. “ kalau memang dina tidak tahu berterimakasih dina tidak akan seperti ini ma. Dina gak akan berusaha keras untuk menjadi juara kelas hanya untuk membuat mama tersenyum walau hanya setiap pengambilan raport. Dina pasti menjadi anak yang terjerumus dalam kenakalan remaja, narkoba, free sex. Mama gak ngerti dina mama gak pernah hidup bersama dina” tangisnya meledak, tumpah tak terbendung.
            Semalaman dina menangis tak henti, jika berhentipun hanya hitungan detik saja. Detik berikutnya ia kembali terisak. Memang mamanya pergi jauh untuk membiayai hidup, ia tau itu untuknya. Namun itu dulu, ketika keluarganya belum hancur. Sebelum papa dina berubah menjadi jahat, sebelum papa dina melakukan kekerasan, penipuan, sebelum cinta mereka hancur. Mereka bercerai saat dina masih sangat kecil, dina tak mengerti apapun, tapi ia menjadi korban keegoisan orang tuanya. Mamanya memang tak pernah benar-benar hidup di samping dina. Sekarang saja mamanya kembali nun jauh di sana bersama ayah tirinya. Ayah yang ia tak mengerti bagaimana kepribadiannya. Pernikahan yang bahkan tak pernah menanyakan persetujuan dina.
            “hai, kau baik-baik saja?” suara rian membuat dina refleks terjingkat. “ bagaimana kakak tau aku aku disini?” dina melebarkan matanya yang sudah  lebar menatap rian penuh curiga. “kakak memata-matai aku?” dina berlagak mengancam dengan menyipitkan mata kanannya. “pertanyaanmu merupakan jawabanku”  jawab rian dengan senyum jail khasnya. “jadi aku benar. Mengapa kakak melakukan itu?” tanya dina dengan sinis yang dibuat-buat. “ aku mengkhawatirkan dirimu, itu saja” jawab rian dengan tenang, yang berkebalikan dengan hatinya yang amat gelisah. “aku baik-baik saja. Kakak lihat. Mataku masih lebar seperti biasanya, dan berfungsi nomal. Hidungku juga, telingakupun masih bisa mendengar. Aku tidak mengalami kecelakaan apapun” penjelasan dina membuat rian mendesah geregetan. “dina. Kau tau itu bukan yang aku maksud” tatapan rian tajam lurus menembus bola mata coklat cerah dina. “ ya ya kakak ... aku mengerti” balas dina dengan tertawa ringan. Namun...rian tidak mengikuti irama ceria dina. Ia masih teringat malam itu. Rian tidak tidur samasekali malam itu. Isakan kuat dina seolah mengoyak hatinya. Sakit....sangat sakit.
            Kemudian mereka hanya terdiam beberapa saat di atas gedung tertinggi sekolah mereka. Aula sekolah. Ya, disinilah mereka sekarang. Dina menatap langit sore dengan pandangan menerawang. Ia masih teringat masalahnya dengan mamanya. Sementara rian hanya memandangi wajah dina, seksama mengamati setiap perubahan ekspresi wajah dina. Ia mengerti gadis mungil disampingnya itu menyimpan beban begitu berat yang tak semua orang mampu menahannya bahkan dirinyapun tak yakin apakah ia mampu sekuat gadis ini. Gadis mungil yang  berkepribadian ceria, bertanggung jawab dan begitu tegar menahan segala bebannya, seorang diri. Bahkan ia masih bisa tertawa selepas ini setelah menangis tersedu-sedu semalaman. Ia bertekad untuk selalu mendampingi gadis ini. Ia tak akan membiarkannya sendiri lagi. Menanggung segalanya tanpa seorangpun mendukungnya.
            “kak... ada yang salah dengan wajahku? Kenapa memandangiku seperti itu?” kata dina tiba-tiba memecah keheningan. “hah? Eng.. tidak, tidak ada yang salah dengan wajahmu” rian baru tersadar wajah yang sedari tadi dipandanginya telah balik menatapnya. Mata bulat besar itu, tepat di depan mata sipit rian. Mereka berpandangan sebelum akhirnya dina kembali memecah keheningan. “kak.. aku tidak ingin pulang hari ini. Aku bosan di rumah. Rumahku bentuknya gitu-gitu aja dan di situ-situ aja” kata dina dengan memanyunkan bibirnya beberapa senti. “hahaha... kau ini ada-ada saja. Memangnya rumahmu bunglon yang bisa berubah-rubah” tawa rian akhirnya mengundang dina untuk ikut tertawa. “baiklah ikut aku” kata rian dengan meraih tangan dina. “tapi kakak kan ada ekskul basket sore ini. 5 menit lagi akan dimulai” dina berlagak melihat jam tangan di tangannya, padalah ia tak mengenakan jam tangan, dasar bocah unik. “apa yang kau lihat? Sejak kapan tangan mu itu bisa menunjukkan waktu?” kata rian yang disambut dina dengan nyengir kuda.
“itu hanya perumpamaan kak... intinya ekskul kakak akan segera dimulai” kata dina sok tau. “aku akan membolos untukmu hari ini” kata rian dengan mengedipkan sebelah matanya.
            Motor rian melaju cukup cepat. Dina memeluk pinggang rian erat. Hari semakin sore dan sebentar lagi matahari akan terbenam namun dina belum tau rian akan membawanya kemana. “kak... kita mau kemana sih.. kok gak nyampe-nyampe” protes dina dilengkapi dengan gaya khasnya. Ya, apalagi kalau bukan memajukan bibirnya. “kau akan segera tau, sebentar lagi kita akan sampai” kata rian sambil mengedikkan pundaknya geli melihat bibir monyong dina melalui spion motornya.
            Dan  benar, mereka telah sampai. Rian membawa dina ke sebuah pantai. Dan dina tercengang, bukan karena pantainya, tapi mataharinya. Mereka tiba tepat saat matahari menenggelamkan dirinya.  Begitu indah. Dina segera berlari seolah ingin menuju matahari, tapi ia berhenti tepat di pinggir pantai dan bersimpuh sambil terus menatap fenomena alam yang sudah lama ingin dilihatnya. Rian segera menyusul dan mengambil tempat tepat disebelah dina. Rian menatap langit yang sedang berubah warna menjadi jingga tentu setelah sebelumnya menatap dina terlebih dahulu. Kemudian rian mendekatkan dirinya dan meraih pundak dina perlahan. Dina menoleh ke arah rian yang sedang tersenyum manis kepadanya. Kemudian dina menyandarkan kepalanya di bahu rian. Mereka tetap dalam keadaan seperti itu cukup lama. Tanpa bergerak tanpa suara seolah membisikkan doa kepada tuhan. Tuhan, jika mungkin tolong hentikan waktu untuk saat ini, aku ingin terus seperti ini. Terus disampingnya, dan tak ada masalah yang menghampiri kami. Atau jadikanlah ini mimpi dan jangan pernah membangunkan kami selamanya. Dina memejamkan matanya untuk beberapa saat hingga bulan muncul menggantikan sang mentari. Begitu pula dengan rian.
            “dina ... aku.. aku.. menyayangimu” dengan tiba-tiba rian mengungkapkan perasaan yang sudah dipendamnya sejak setahun yang lalu. Dina mendongak dan menatap rian dengan mata berkedut, kemudian ia tersenyum “aku tau.. aku juga sayang kakak. Kakak sangat dekat denganku dan sangat memahamiku, seperti saudara kembar yang ikatan batinnya begitu kuat” kata dina dengan senyum lebar dan cerah. “tapi maksudku... ehm aku.. intinya lebih dari itu, ehm bukan maksudnya tak seperti itu tapi maksudnya.. aku ingin kau menjadi... gadisku. Aku mencintaimu” rian berusaha menjelaskan walau dengan terbata-bata. “kakak tau.. jika aku menjelaskan perasaanku aku akan lebih terbata-bata dibanding kakak. Aku ... ehmm bolehkah aku tidak menjawabnya? Eh maksudnya tidak perlu mengatakannya hanya dengan isyarat menganggukkan kepalaku saja. “ dina dengan agak ragu menanyakan itu kepada rian. “ baiklah, aku cukup mengerti” kata rian dengan senyum merekah. Detik berikutnya dina menganggukkan kepalanya cepat. Wajahnya memerah dengan seulas senyum malu di bibirnya. “terimakasih dina.... ehm sudah malam. Ayo kuantar kau pulang, aku tidak ingin dituduh menculik anak orang, aku terlalu muda untuk mendekam di penjara dan tentu saja aku tidak akan bertahan untuk lama-lama jauh darimu” senyum rian terus menghiasi wajahnya sepanjang kata-kata itu, eh bukan lebih tepatnya selama memandang wajah dina. “eh baiklah” kata dina akhirnya pasrah juga dengan wajah murung sebentar yang kemudian disusul tawa mereka berdua.
            Dina hari ini sudah banyak senyum dan tertawa, dan ia tau semakin banyak ia tertawa maka semakin banyak pula ia akan menangis, setidaknya begitulah kata-kata seorang guru fisika dina di sekolah. Dan ternyata itu memang benar, memang bukan terjadi malam itu juga sepulang dari pantai bersama rian, tetapi seminggu setelah hari itu, tepat di hari ke-7. Malam itu ia benar-benar terpukul, ia tak menyangka bahwa ini akan menimpa dirinya. Ia tak akan mampu untuk lebih sakit dari ini, lukanya sudah terlalu akut, hatinya, luka itu menyerang hatinya. “maafkan aku dina... ini adalah yang terbaik” suara di seberang sana penuh dengan isakan. Orang yang menelpon dina sedang menangis, dan itu bukan tangis biasa karena yang menangis adalah seorang laki-laki. Tawa seorang wanita pastilah lebih ceria dari seorang laki-laki, namun tangis seorang lelaki pastilah jauh lebih sakit dari tangis seorang wanita. Namun dina tak mengerti akan hal itu, ia tak peduli apa arti tangisan itu atau apa penyebab tangisan itu. “apa salahku kak? Aku mohon jangan seperti ini, beri penjelasan” dina pun menangis hebat setelah rian mengatakan ia ingin hubungan mereka berakhir disini saja “maaf dina... aku sungguh-sungguh minta maaf” masih dengan isakan hebat ketika rian mengatakan itu dan kemudian ia menutup telfonnya.  Dina tertegun, namun dengan cepat ia menelfon rian balik, hasilnya.... nihil. Nomornya tidak aktif.
            Baru saja rian menginjakkan kakinya memasuki ruang tengah, ia cukup heran. Malam sudah larut namun lampunya masih menyala terang. Ternyata mama rian telah menunggunya. Mama rian tak suka dengan dina, terlebih dengan kedekatannya dengan putra kesayangannya. Dan sore tadi ia melihat gadis itu di boncengan putranya, ia tau mereka menuju pantai.  “rian!! Untuk apa kamu masih mendekati anak gak jelas itu!” mama rian membentak rian dengan penuh amarah. “rian sayang sama dia mi! Mami gak akan ngerti betapa berharganya dia untuk rian!” rian tetap mempertahankan gadis itu. Dina. “dia itu berasal dari keluarga yang hancur! Asal-usulnya tidak jelas! Siapa tahu anak itu bukan anak dari hasil hubungan gelap! Dia tidak memiliki alasan tepat untuk kamu cintai!” jelas mama rian mencoba mengintimidasi dina. “mi! Cukup. Dina tidak tahu apa-apa mi. Dina hanya korban! Dia tidak bersalah atas apapun!” rian samasekali tak terpengaruh kata-kata mamanya. “rian! Kamu...” kata-katanya menggantung. Mama rian tiba-tiba saja jatuh tergeletak dengan nafas tersengal. Rian sangat terkejut, ia tidak tahu ada apa dengan mamanya. Ia segera membawa mamanya ke rumah sakit.
            “Bagaimana dok? Apa yang terjadi dengan mami saya?” tanya rian pada dokter firman yang memang sudah dekat dengan keluarganya. “em... begini nak rian, saya rasa ini sudah waktunya untuk nak rian mengetahui semuanya” tentu saja perkataan dokter barusan membuat rian bingung. “apa maksud dokter?” jawab rian setengah tak sadar saking bingungnya. “mama nak rian sebenarnya memiliki kelainan pada jantungnya. Ini sudah berlangsung cukup lama. Dan resiko mama nak rian mengalami gagal jantung semakin tinggi” penjelasan dokter firman dengan tatapan prihatin. Rian jatuh terduduk, tiba-tiba dadanya terasa menyempit. Ia kesulitan bernafas. Tepat setelah setetes air mata rian jatuh ia tak dapat melihat apa-apa. Semua gelap.
Alasan inilah yang sebenarnya. Mengapa rian sampai memutuskan dina tepat di hari ke-7 mereka meresmikan hubungannya. Ia merasa bersalah atas mamanya. Namun ia tidak bercerita kepada dina mengenai ini, ia takut melukai dina lebih dalam, ia takut dina merasa bersalah. Jadi rian membiarkan dina menganggap dirinya adalah seorang yang jahat.

Kini ia sendirian. Benar-benar seorang diri. Rian benar-benar telah mengacuhkan dina. Ia begitu terpuruk seolah ia telah membedah dirinya sendiri dan membuang hatinya. Ia tak ingin memiliki hati lagi agar tak bisa tersakiti lagi. Ia berubah, pribadinya yang ceria menjadi seorang yang begitu dingin dan suka menyendiri. Bahkan ia yang semula cerewet berubah mengikuti aliran golongan yang yakin bahwa diam adalah emas. Sejak saat itu air matanya tak pernah menetes lagi, bahkan wajahnya seolah cacat ekspresi. Segalanya terlihat datar. Mimpinya.... bukanlah menjadi hal yang indah lagi, tapi berubah menjadi suatu obsesi yang berlebihan. Ia selalu belajar, setiap waktu. Tak pernah menggunakan uang jajannya untuk membeli makanan, ia mengumpulkannya untuk membeli kain dan buku-buku. Ia belajar dengan keras. Untuk menjadi designer maupun juara di sekolahnya. Dan akhirnya ia masuk 3 besar menjadi juara paralel di sekolahnya. Sebenarnya itu juga salah satu mimpinya, namun ia samasekali tak merasa bahagia setelah meraihnya. Segalanya masih sangat datar. Ia tak berekspresi samasekali ia sangat kaku.
            Rian tentu menyadari perubahan pada seorang dina. Ia sangat menyesal, begitu menyesal. Namun ia takut, ia sudah terlalu terlambat untuk mencoba memperbaiki kesalahannya. Mamanya telah meninggal. Dan ia meninggalkan surat untuk putra semata wayangnya. Ia minta maaf atas apa yang telah ia lakukan pada rian dan dina. Papa rian pun juga telah menyetujui hubungan mereka. Namun kini dina yang dulu ia kenal telah menjadi pribadi yang begitu berbeda, bertolak belakang.
            Siang itu rian datang ke perpustakaan sekolah. Seperti yang telah diduganya, dina berada disana. Sedang sibuk berkutat dengan berbagai buku di hadapannya. Rian hanya memandang gadis itu dari jauh, dari ujung ruangan yang tak begitu terlihat. Ia benar-benar merindukan gadis itu.
            Hingga lewat tengah malam dina masih tetap tak bergerak dari depan meja jahitnya. Ia sedang berusaha membuat sebuah busana modern yang ia padukan dengan unsur-unsur tradisional. Begitu selesai seharusnya ia merasa lega kemudian tersenyum, tapi ia tetap tak menunjukkan ekspresi apapun. Ia mengangkat baju unik yang cantik sebentar di udara. Memandanginya beberapa saat kemudian ia jatuhkan begitu saja di lantai dan pergi berbaring di atas ranjang. Sejak hari itu, sejak waktu dimana segalanya semakin buruk dina tak pernah benar-benar tidur, bahkan  ia bisa terjaga di dalam tidurnya. Suara sepelan apapun bisa ia dengar walau dalam keadaan tidur. Kali ini terjadi sesuatu, tiba-tiba saja raut wajah dina menunjukkan sedikit perubahan ekspresi. Hal ini disebabkan oleh suara dari Hpnya. Ringtone itu.... adalah ringtone khusus untuk .... rian!. Ia ragu, menjawab telfon itu atau tidak, ia berfikir cukup lama. Namun akhirnya ia mengangkatnya juga. Tepat di saat dina memencet tombol answer di Hpnya, rian menekan tombol bewarna merah di Hpnya. Ia berfikir mungkin gadis itu sudah terlelap, tentu saja ini sudah lewat tengah malam. Entah kemana perginya akal sehat rian.
            Dina kecewa, terlampau kecewa hingga ia tak berani untuk menelpon balik rian. Keningnya tak berkerut, bahkan bibirnya pun tak maju samasekali. Hanya hidung mungil dan wajahnya yang memerah dan tiba-tiba buliran bening menetes dengan cepat, deras.
            Di kelas dina, guru bahasa jermannya mengumumkan ulangan pada minggu depan . Suasana berubah riuh, banyak keluh kesah para siswa yang tidak siap dengan ujian, masih belum berubah dina tetap tanpa ekspresi, kaku. Begitu bel berbunyi, dia segera melenggang menuju perpustakaan. Memilih di sudut pojok yang tak banyak terekspose dina mulai membolik-balikan halaman. Terlalu konsentrasi hingga ia tak sadar ada seseorang yang menghampirinya. Dia tetap tak bergeming masih terus membaca hingga bab itu berakhir. Ia hendak bangkit, namun tiba-tiba nafasnya seolah tercekat matanya membulat penuh. Sosok di sampingnya menatap dirinya, begitu lekat. Detak jantungnya mulai tak beraturan, semakin cepat atau lambat? Atau bahkan berhenti berdetak? Ia tak tau. Dan.. terjadi perubahan ekspresi di wajah dina, ini keajaiban. Jeda yang cukup lama hingga akhirnya rian memutuskan membuka suara. “aku ingin bicara” lirih namun tegas. Suara berat yang selalu terdengar ringan untuk dina akhirnya bisa ia dengar lagi. ”tak ada yang perlu dibicarakan” dina berusaha sekuat mungkin untuk tak mengacuhkan pria yang berhasil membuatnya kembali berekspresi itu. “dina ini serius, aku mohon” pinta rian dengan meraih tangan dina yang langsung dihempaskan begitu saja oleh sang pemilik. “aku mohon kak, aku tak sanggup untuk lebih sakit  dari ini” suara dina bergetar. Rian sempat melihat tatapan sekilas gadis itu. Sekarang, mata itu tak secerah dahulu, cahayanya telah redup tak terpancar. Ia sempat melihat air yang menggenang di pelupuk mata gadis itu sebelum ia berlari keluar ruangan. Seakan sesuatu yang begitu berat menyeruak di dalam dadanya. Emosinya membuncah. Air mata..... kembali ia teteskan.
Jika benar dulu aku sempat membangkitkanmu dari keterpurukan hatimu,
 seharusnya aku tak hentikan langkah itu,
Seharusnya aku tak membiarkanmu terbawa kembali ke jurang gelap itu
Seharusnya aku tak membiarkanmu seorang diri... lagi
Seharusnya aku tak membiarkanmu menanggung segala beban itu sendiri
Seharusnya aku disampingmu... standing right next to u
Terlalu terlambatkah aku menyadari itu????
Terlalu terlambatkah untukku memperbaikinya???
            Jam pelajaran sudah berakhir sejak setengah jam yang lalu, namun dina masih tetap di tempat duduknya. Ia melamun. Ia menyesal sampai harus terlahir. Ia tak pernah benar-benar tinggal bersama orang tuanya sejak kecil, orang tuanya bercerai juga sejak ia kecil, hubungannya bersama merekapun juga tidak baik, ia selalu bertengkar dengan mamanya, bahkan ia seakan tak mempunyai jalan untuk menggapai mimpinya, dukungan tak didapat, celaan yang datang bertubi-tubi, dan kini ... orang yang telah begitu dekat dengannya ikut pergi meninggalkan dirinya, apalagi yang belum lengkap menjadi penderitannya? Ia terus memikirkan hal itu, ia frustari berat. Kali ini saja, ia ingin menjadi egois. Biarlah, kali ini saja. Ia ingin merasa ia paling menderita, ia ingin menyalahkan semua orang, ia begitu menyesal mengapa telah dilahirkan, ia ingin menangis tanpa ada yang menghentikannya, ia hanya ingin menjadi egois.
Rian berlari naik ke aula, tapi ia tak menemukan dina, di perpustakaan juga tidak ada. Ia sudah berkeliling sekolah untuk mencari gadis itu, bahkan ia nekat mengintip di toilet cewek untuk memeriksa apakah dina ada disana, namun gadis itu tak ia temukan. Rian kemudian terjingkat, seolah teringat sesuatu. Ya, dia melupakan 1 tempat, kelas dina. Dengan segera ia berlari menuju ruang kelas XI IPA 1. Ia menemukan gadis itu sedang duduk diam di bangkunya, seorang diri. Ia begitu menyesal, ia telah melanggar janjinya, ia  kembali membiarkan dina kembali seorang diri. Ia mencoba terapi nafas sejenak mengumpulkan keyakinan.
             Matanya terasa panas, mungkin ia sudah cukup lama tak berkedip. Pandangannya kosong. Kemudian, perlahan air mata itu menetes. Dina menangis dalam diam, tak terdengar isakan namun air matanya terus menetes. Pandangannya terlalu kabur untuk menyadari ada seseorang yang menghampirinya, berjalan menuju arahnya, bahkan ia masih belum sadar hingga orang itu duduk di sampingnya. Rian ragu, tapi akhirnya ia mengangkat tangannya juga. Perlahan tertuju ke wajah dina. Ia menghapus air mata dina, lembut. Sontak dina menoleh, ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk meyakinkan apa yang dilihatnya, dialaminya lebih tepatnya.
                Shock, dina berteriak. “jangan pernah menyentuhku lagi “air matanya semakin deras. “dina, maafkan aku. Aku punya penjelasan untuk semuanya” rian mengiba, ia menangis. Ia telah membuang harga dirinya sebagai lelaki, dan ia tak peduli. Yang ia inginkan hanya, dina. “kakak gak tau! Aku terlalu sakit kak. Aku gak mampu, aku hilang arah. Cahaya itu, pergi terbawa kakak. Kakiku terlalu lemas untuk sekedar berdiri, apalagi berjalan. Aku mohon, jangan buat aku lebih sakit dari ini. Demi tuhan aku sudah tak mampu” nadanya tinggi, sangat tinggi. Namun perlahan menurun dengan semakin kuatnya isakan tangisnya. Rian bahkan menangis sepanjang kalimat itu, deras. “dina... aku memang bodoh. Aku awalnya memang ingin membiarkanmu berfikir bahwa aku ini orang jahat. Tapi aku telah rapuh, terlampau lemah untuk bertahan. Aku membutuhkanmu dina. Kembalilah” ia pegang erat-erat pergelangan tangan dina. “cukup kak! Cukup!!” aku tidak sebodoh itu. Aku gak akan kembali jatuh dalam lubang yang sama. Bahkan aku terlalu lemah untuk bisa kembali walau aku mau. Aku sungguh tak mampu” sakit... sakit sekali. Sekuat tenaga ia lepas cengkeraman rian. Ia berlari... terus berlari walau tanpa arah. Rian jatuh, tersimpuh dengan memukul dadanya. Sakit. Tapi ia tahu sakit itu tak lebih berat dari yang dirasakan dina. Ia meninju lantai begitu kuat, hingga tangannya berdarah. Ia bahkan tak peduli jika tulangnya patah. Ia terus menyiksa dirinya sendiri dengan terus berteriak sekuat tenaga.
            Setelah dina masuk ranking paralel lalu, ia semakin berprestasi di tahun terakhirnya ini. Belum memasuki masa pelajaran efektif, tapi dina sudah sangat serius belajar. Banyak jam kosong karna banyak guru ikut mempersiapkan untuk perpisahan kelas XII tahun ini. Kemarin hari terakhir ia memasuki kelas XI IPA 1, adalah juga hari terakhir ia bertemu rian. Rian sudah lulus, dan akan pergi dari hidup dina. Dina tak tau, ia harus lega atau sedih. Tetapi ia memilih untuk seperti biasa. Tanpa ekspresi. Ia lelah di sekolah, karena pelajaran selalu kosong, ia memilih meninggalkan kelas.
            Rian akan merasa semakin bodoh jika ia berhenti berusaha. Karena kejadian kemarin, saat ini tangannya dibalut perban. Begitu bel istirahat berbunyi, ia segera melesat ke ruang kelas dina meninggalkan ruang latihan. Persetan dengan latihan persiapan perpisahan. Namun ia tak menemukan gadis itu di kelasnya. Padahal ia tak merasa terlambat. Bel panjang itu bahkan belum berhenti ketika ia sampai di kelas dina. Ia berlari sekencang mungkin, tangannya yang berbalut perban pun tak ia hiraukan. Ia terus berlari keliling sekolah berharap bertemu dina, tapi hingga tangannya terasa nyeri tak tertahankan dina tak kunjung ditemukannya.
            Dina yang sangat bosan memutuskan pulang, dengan alasan sakit. Wajahnya memang terlihat pucat, tapi bukan karena ia benar-benar sakit, tapi karena ia akhir-akhir ini kurang tidur sehingga terlihat lesu.
Sebenarnya ia sering mendengar perkataan buruk para tetangganya mengenai keluarganya. Ia tahu dan sangat sadar, keadaan kelurganya memang tidak baik, namun bukan berarti orang-orang anggota keluarganya bukanlah orang yang tidak baik. Ia percaya itu, setidaknya ia sudah berusaha percaya sampai neneknya mengungkapkan fakta itu, fakta yang memukul telak dina hingga terkapar, tak berdaya.
“maaf  dina, itu kesalahan oma”  nenek dina mengaku begitu menyesal telah membiarkan itu terjadi. “kenapa oma dulu tidak mengakuinya... mengapa baru sekarang oma???” dina terisak..... lagi. “kenapa waktu itu oma mengijinkan papa menginap disini? Sekamar dengan mama! Sedangkan mereka belum resmi menikah!” nadanya meninggi seiring dengan isakan yang menjadi tangis keras. “ oma kira karena mereka sudah bertunangan  dan akan segera menikah jadi itu tidak papa, oma tidak menyangka kalau mereka tidak mampu mengendalikan diri mereka” jelas neneknya dengan pandangan yang kabur karena air mata. “ jadi aku adalah anak haram? Benar kan kata mereka?” suaranya pelan sekali namun jelas itu menyiratkan kesedihan yang mendalam. “ waktu itu oma marah sekali. Lalu mamamu ingin meminum jamu, tapi papamu mencegahnya. Sehingga kamu sekarang ada disini” air mata nenek akhirnya meleleh. “ jadi maksudnya aku mau di gugurkan?” tanya dina yang hanya dijawab dengan anggukan pelan neneknya. “ kenapa dulu aku tidak di bunuh saja? Kenapa tidak jadi? Atau kenapa aku tak dibuang saja jika memang aku tak diinginkan? Jadi benar, memang mama tidak menyayangiku, karena sesungguhnya aku tak ia inginkan” dina berlari tepat setelah kalimat terakhirnya,  ia sempat mendengar neneknya memanggilnya. Tapi ia sudah sangat marah. Ia masuk kamar dan membanting pintu dengan keras. Ia hanya terus manangis.... dan terus.... tanpa jeda.
            Rian memacu motornya dengan sangat cepat. Ia begitu lelah... sangat lelah. Ingin sekali rasanya ia menyusul maminya di alam sana. Beban di pundaknya seakan tak mampu ia topang. Jika ada truck yang menabraknya ia sungguh tak akan menghindar. Namun setiap kali ia memikirkan bebannya ia akan teringat beban gadis mungil itu. Ia merasa pengecut, ia merasa bebannya begitu berat, tapi ia tau beban gadis itu lebih berat lagi. Ia menangis sambil terus mamacu motornya lebih cepat menembus derasnya hujan. “aaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrgggggggghhhhhhhhhhhhhh..........................!!!!!” jeritnya sekeras-kerasnya. Dan disaat yang bersamaan, gadis yang meringkuk lemah di bawah jendela kamarnya juga menjerit sekeras-kerasnya dengan memandang hujan lebatdi depannya. Kemudian ia melompat jendela, tanpa payung atau perlindungan apapun. Ia berlari menembus hujan dengan terus menangis. Lalu ia berhenti di tengah jalan daerah kompleks sebelah yang sepi, kakinya lemas. Tanpa peduli lalu lalang beberapa orang itu, dina kemudian menekuk kakinya, berlutut dan mengangkatkepalanya ke arah datangnya sang hujan, sang langit gelap. Rian yang memacu sepedanya tanpa arah semakin brutal. Ia menarik gas penuh lalu tiba-tiba ia melepas kedua tangannya dari kendali motornya. Ia menarik tangannya keatas dan menengadahkan wajahnya, membiarkan air hujan menghapus air matanya.
            Ini hari terakhir rian berada di sekolah ini, di kota ini. Ia mengikuti acara purnawiyata dengan mata sembab dan berkantung. Ia masih berharap untuk bertemu dina. Mungkin saja gadis itu bisa mencegahnya, merubah keputusannya. Namun sayang, dina tidak masuk sekolah untuk melaksanakan tugasnya sebagai anggota OSIS. Setelah acara berakhir, rian langsung pergi. Ia tidak mengikuti teman-temannya berfoto bersama. Ia menuju rumah gadis itu, mencoba menumbuhkan kembali sinar pelangi di matanya. Ia memacu motornya dengan kecepatan gila-gilaan. Tiba-tiba sebuah cahaya lampu yang begitu terang menyadarkannya dari lamunan tentang gadis itu. Suara klakson yang begitu keras dan bertubi-tubi seolah memecah gendang telinganya. Tangannya yang belum sembuh total dengan cepat dan sekuat tenaga ia belokkan, ia terhindar dari truck itu, tapi di depannya ia menabrak pembatas rel kereta api yang sudah menutup, pertanda ada kereta api yang akan segera melintas. Sekelebat banyangan orang-orang yang ia sayangi bermunculan di otaknya, mamanya, papanya, teman-temannya, dan yang terakhir dina. Berteriak sekuat tenaga mengucap asma ALLAH ia memohon kekuatan. Ia mengangkat motornya berharap bisa meloncati kereta api. Dan..... motornya benar-benar terangkat, tapi tak mampu setinggi harapannya hingga bisa meloncati kereta api. Motornya menabrak bagian atas kereta namun tubuhnya tidak tertabrak, melainkan melayang terpental ke tanah. Kepalanya masih terbungkus helm, tapi benturan itu terlalu keras, sangat keras.
            Sedetik setelah dina mendengar kabar itu, seketika tubuhnya terhuyung ke belakang. Nafasnya memburu, kepalanya terantuk lantai cukup keras. Masih terngiang di benaknya kata-kata temannya, rian kecelakaan parah dan sedang koma. Lalu perlahan pandangannya mengabur dan tiba-tiba ia seolah buta, gelap, tak dapat melihat apa-apa. Dan kabar buruk itu adalah kabar terakhir tentang rian yang ia dengar.
3 tahun kemudian
“pi, rian ingin pulang ke indonesia, rian kangen nenek” rian sedang merayu papinya, merajuk seperti anak TK saja. “kapan skripsi kamu selesai?” pertanyaan papinya seperti memberi harapan dikabulkannya permintaan rian. “minggu depan, kalau bisa akan kuselesaikan lebih cepat” rian menggebu-gebu penuh semangat. “baiklah... kalau begitu segera selesaikan skripsimu” persetujuan papinya membuat rian semakin.... rindu. Ia sangat merindukan gadis itu. Banyak sekali gadis cantik yang ia temui disini, di inggris. Namun, tak seorangpun yang mengalahkan pesona gadis indonesianya itu. Semenjak kecelakaan itu ia pindah kesini, untuk berobat. Karena dokter masih harus terus memantaunya, ia akhirnya kuliah disini juga. Rian segera menyelesaikan sarapannya dan ingin segera pergi kuliah. Moodnya pagi ini benar-benar baik.
“excusme sir, i have a question” rian mengangkat tangan sebelum mengatakan tujuannya. “ yes, please” Mr. david guru pengarah tugas skripsi para mahasiswa mempersilahkan mahasiswa kesayangannya tersebut. “ if i can finish this task more faster, i mean before the time, may i take my holiday first? I wanna go home to my country” ekspresinya benar-benar unik. Kelihatan sekali ia memanfaatkan dosennya yang satu ini mentang-mentang ia adalah mahasiswa peraih juara bertahan di universitasnya ini. “mmm i’ll discuss this later with the chief, and i’ll tell you soon” jawabannya tak sesuai harapan, rian fikir permintaan akan langsung dikabulkan, eh malah mau rapat dulu. “ehm okay thanks”

“hai dina.... selamat ya.... aduh irinya gue...semoga gue bisa segera nyusul loe deh” ucapan selamat dari teman-teman dina datang tanpa henti. Tentu saja semuanya kagum atas kehebatan dina. Atas hasil karyanya dalam kontes designer pemula bulan lalu, ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah tata busana di inggris. Banyak designer handal yang terpukau dengan kreativitas dina. Hanya saja mereka tidak begitu menyukai kepribadian dina, ia terlalu dingin dan kaku.
“makasih, saya pergi dulu” jawab dina sekenanya. Di bandara soekarno-hatta suasana begitu ramai. Banyak orang yang lalu-lalang, banyak sekali. Tapi entah karena apa, kebetulan atau memang feeling dina terhadap  orang itu terlalu kuat hingga ia bisa begitu peka merasakan kehadirannya. Sekelebat, hanya sekelebat saja ia melihat bayangan itu. Seseorang yang begitu lama tak dilihatnya, orang yang begitu dirindukannya. Namun karena begitu banyak orang, bayangan itu segera hilang. Tertelan lalu lintas orang-orang itu. Mungkin saja dina sedang berhalusinasi.
Akhirnya sampai juga. Rian begitu lega, akhirnya ia bisa menginjak tanah airnya lagi, Indonesia. Entah apakah ia lega karena benar-benar merindukan Republiknya ini atau.... gadis itu . Ia tahu, wajar sekali bandara memang banyak orang. Tapi entah mengapa ia bisa heran melihat bandara soekarno hatta bisa sepadat ini. Ia berjalan cepat, seolah sudah tak sabar untuk melakukan jadwal kegiatannya disini, padahal rencana besarnya cuma satu. Segera menemui ardina zaneta putri. Ia bertanya-tanya bagaimana kabar gadis itu sekarang? Apa sudah bertambah tinggi? 160 nyampe gak ya? 3 tahun nambah 5 senti, kayaknya susah banget untuk dina yang benci olahraga. Dulu tinggi badannya tak lebih dari pundaknya. Ia senyum-senyum sendiri atas pertanyaan konyolnya. Ia sempat berhenti sejenak dari langkah lebarnya. Ia berhenti di tengah hiruk pikuk orang-orang di bandara. Tiba-tiba ia mengeluarkan dompetnya, ia pandanginya foto gadis yang baru saja menjadi lamunannya. Setelah itu ia tersenyum lebar dan melangkah lebih cepat tenggelam diantara orang-orang. Sejenak ia merasa aneh seolah ada yang mengawasinya, ia celingukan diantara begitu banyak orang. Ia menangkap sekelebat bayangan yang tiba-tiba saja membuat jantungnya serasa mencelos. Segera ia berlari, namun ia tidak melihat bayangan itu lagi. Ia mungkin terlalu merindukan gadis itu hingga berhalusinasi.
“ma.... ini Dina. Maaf atas gosip itu ma” dina menelpon mamanya dengan nomor barunya di inggris. “ Tidak papa nak, itu memang kenyataan. Kamu tidak perlu minta maaf. Itu salah mama” suara mama dina di seberang sana jelas terdengar bergetar. “ya sudah, jangan dibahas lagi. Mama terdengar lelah, sebaiknya mama istirahat” kata dina mengalihkan pembicaraan. “iya nak, kamu juga”.
Setelah dina memenangkan kontes yang membawanya hingga ke inggris saat ini, ia tiba-tiba menjadi terkenal. Dan resiko orang terkenal, apalagi kalau bukan gosip. Terdengar kabar mengenai masalah dina dan mamanya. Nama mama dina mencuat di permukaan dengan reputasi tidak baik. Ia dianggap mama yang jahat karena tidak mendukung cita-cita anaknya, malah cenderung manghalanginya bermimpi. Namun mimpi yang ia remehkan itu menjadi nyata. Putrinya sedang dalam langkah mencapai itu, mimpinya. Ia sedang di negeri hebat sana, berlari... mengejar mimpi. Mama dina tak memungkiri gosip itu. Ia merasa bersalah malu pada putrinya. Ia tidak peduli dengan orang-orang ia hanya sangat menyesal atas putrinya. Yang sekarang bisa ia lakukan hanya terus mendukung putrinya dan selalu mendoakan yang terbaik untuknya.
Masalah dina dengan keluarganya telah mambaik. Namun masalahnya dengan hatinya sendiri belum bisa ia atasi. Lelaki itu, hanya ia yang bisa mengangkat sisa beban ini.
Hah.... lega sekali akhirnya ia sampai di rumah neneknya. Ia segera berbaring di ranjang meluruskan tulanh-tulangnya. Belum sampai 1 menit ia bernafas lega, ia segera berlari keluar meminjam mobil kakeknya. Ia menolak diantar sopir, ia ingin segera menemui dina.
Ia termenung di depan rumah dina sebelum memencet bel. Baru 1x ia menekan bel, pintu sudah terbuka. Lelaki berbadan besar dan berkulit hitam ada didepannya.
“permisi om, dina ada?” agak deg-deg-an juga ia menanyakannya. “silahkan masuk dulu nak” rupanya ia tak segarang perangaiannya. “kamu teman putri saya?” hah? Putri? Setahuku ayah dina bukan ini orangnya. Ah iya, mungkin ayah tirinya, batin rian yang terekspresi aneh di wajahnya. “ eh iya om” agak gelagapan ia menjawabnya. “bagaimana kamu bisa tidak tahu kalau kamu teman dina?” tanyanya dengan ekspresi super heran. “maaf om tapi saya baru pulang dari luar negri” jawab rian dengan senyum kikuk. “oh, saya mengerti”jawabnya dengan mengangguk pelan. “jadi ada apa dengan dina om?” akhirnya rian tak kuasa memendam rasa penasarannya. “dina baru saja berangkat ke inggris nak, kira-kira setengah jam yang lalu. Dia mendapat beasiswa kuliah disana atas prestasinya memenangkan sebuah kontes merancang busana” jelas ayah dina yang kontan membuat rian melongo. “oh baik om, saya pamit dulu”. Rian kaget setengah mati. Ia jauh-jauh dari inggris ke indonesia hanya untuk menemui gadis itu. Tapi yang ia bela-belain malah pergi ke inggris. Deg! Seolah jantungnya dipukul tukang tempa besi ia menjingkat dan menghempaskan tubuhnya di balik kendali setir mobilnya. Ia teringat kejadian di bandara tadi. Jadi.... itu tadi benar-benar dina? Batinnya penuh penyesalan. Seharusnya ia tahu dan menyadari itu sejak awal. Harusnya ia tak menganggap itu sekedar halusinasi harusnya ia terus berlari mengejar gadis itu. Harusnya.... lamunannya tentang ’harusnya’ terpaksa terhenti karena ada kucing melintas tepat di hadapannya. Seketika ia injak rem dengan kuat, tubuhnya terpental ke depan. Jika saja tidak ditahan oleh seat belt mungkin kepalanya akan terbentur dashboard. Ia begitu menyesal, ia telah membiarkan gadis yang ingin ia temui setengah mati malah pergi begitu saja di depan matanya, ke tempat yang baru saja ia tinggalkan. Sebenarnya ingin ia segera terbang kembali ke inggris, namun ia ragu. Apa nanti kata neneknya? Lalu ayahnya?mungkin sebaiknya ia berlibur disini dulu beberapa hari. Sekedar mengenang masa lalu atau bernostalgia bersama teman lama. Ia harus memendam rasa itu ketika ia telah mencuat kembali ke permukaan. Rasa itu tak pernah membiarkannya sendiri, tak pernah barang sedetikpun.
Disini ia sekarang. Dina berada di negeri impiannya. Inggris. Dulunya hanya mimpi, sekedar mimpi. Yang bahkan ia tak berani mengharapkannya jadi nyata. Tapi sependatangnya makhluk itu dalam lukisan hatinya, ia mencoba berani mengharapkan mimpi-mimpinya. Mulai dari mimpi untuk berada disini, mimpi belajar di luar negri, hingga mimpi terbesarnya, menjadi designer handal yang unik. Dan saat ini, ia sedang berlari.... mengejar mimpi itu. Penuh perjuangan, mulai dari tawa yang fana, hingga isakan tak berujung, dilengkapi dengan berbagai tentangan dan pengkhianatan. Seharusnya ia tidak seperti ini, seharusnya ia tersenyum, walau tidak tertawa. Perlahan mimpinya semakin dekat, ia dalam masa itu, masa pengejaran mimpi yang sudah begitu dekat, sangat dekat.  Perlahan mimpi-mimpinya yang menuju mimpi terbesarnya telah tercapai. Buktinya ia disini, di negara impiannya, belajar tanpa membayar dengan beasiswa penuh, bahkan orang tuanya telah melunak. Setidaknya ia tersenyum, sedikit saja, sebentar saja. Sayangnya ekspresi itu samasekali tidak ia tunjukkan.
“aku harus bertahan. Tujuanku hanya untuk belajar. Tidak perlu ada dia! Dimanapun! Disini, disampingku, di otakku, bayanganku, ataupun hatiku. Samasekali tidak perlu” dina gumamkan dengan cukup keras kata-kata itu. Ia tak punya teman sekamar, ia memang sengaja memilih sendiri. Ia tinggal di sebuah apartemen sederhana khusus untuk mahasiswa-mahasiswa indonesia saja. Tapi ia tak berniat mempunyai teman dekat disana.
Tok tok tok.... ketukan pelan di kamar dina membuatnya semakin suntuk saja. Awalnya ia berniat tidak menghiraukan itu, mungkin saja orang diluar sana mengira ia sedang tidur. Tapi ia salah orang itu belum menyerah. Seraya ia bangkit ia menyumpah-nyumpah akan menyemprot orang itu. ‘siapapun’.
“dina, besok kau ada kuliah?” tanya seorang cowok berbadan tinggi tegap. Kulitnya agak kecoklatan, indonesia banget. Cool juga sih, tapi entah kenapa ia ramah sekali terhadap dina. Baru seminggu kenal, udah sering barengan dina. Herannya kenapa tuh cowok betah banget ngebuntutin dina yang super cuek. Kehadirannya gak pernah dina anggep. Tapi tu cowok terus saja nempelin dina, dasar unik!. Sesuai sumpahnya, ia semprot deh tuh cowok. “so what? It’s not your bussiness. Stop annoying me.”nadanya rendah, datar. Jutek berat. Tapi gak ngaruh ke tu cowok. Makin cengengesan yang iya. “love it. I love your style” dijutekin malah muji? Ini makhluk darimana si? Sumpil nyebelin abis. Braakk!!! Pintu dina dibanting dengan keras tepat di depan muka cowok itu. I hate good guy. Mantra sakti dina yang sering ia ucapkan jika ada cowok yang berusaha mendekatinya. Dan terbukti, mantra itu sukses membuat setiap cowok yang mendengarnya kontan melongo. Kecuali cowok asal luar galaxy bima sakti itu. Hufth!
Seminggu sudah ia berada di Indonesia, tapi ia serasa sudah disini selama setahun. Ia ingin segera pergi ke inggris lagi begitu ia mendengar dina pergi ke inggris. Detik itu juga ia segera kembali ke bandara, namun urung karena ia kefikiran neneknya. Akhirnya setelah satu minggu, ia tidak tahan. Ia memutuskan kembali ke inggris. Berjam-jam di pesawat ia tidak bisa tidur padahal ia lelah sekali. Dina.. aku mohon jangan pergi-pergi lagi, aku letih terus seperti ini, katanya menatap awan dengan lekat seolah itu adalah mata dina.
Begitu sampai di bandara, ia sengaja minta di jemput sopir dan ayahnya. Tapi bukan untuk mejemput dirinya, melainkan barang bawaannya. 1 ia minta membawa mobil, 1nya lagi ia minta membawakan motor kebanggannya. Ia ingin langsung berkeliling, mencari dina. Walaupun ia sadar, kemungkinannya sangat kecil. Kota ini terlalu padat, pasti sulit mencari orang di tengah keramaian. Plak! Ia menepuk dahi. Menyesali kebodohanya lagi. Lagi!. Ia lupa menanyakan dimana dina kuliah. Oh tuhan.... ceroboh sekali aku ini.
Jalanan tiba-tiba macet. Sepertinya ada orang kecelakaan di depan. Rian samasekali tak berfikir ingin mengetahui kejadiannya. Ia sibuk memikirkan bagaimana keluar dari kemacetan ini dan segera pergi. Tapi ia tak jadi membelokkan setirnya begitu mendengar sebuah nama. Sederhana, bukan nama unik yang mirip artis atau apalah. Tapi ini nama yang sejak lama terukir jelas di relungnya, jiwanya. Entah orang yang sama atau namanya saja yang sama, tetap saja membuat ia terlonjak. Secepat kilat ia meninggalkan motornya di tempat dan berlari menembus kerumunan di depannya.
“na... do you have your lunch?” lagi-lagi makhluk aneh itu. “no” gak perlu panjang-panjang untuk nanggepin cowok itu. “yo, aku lagi buru-buru. Jadi berhenti ngikutin aku” secepat kilat dina berlalu dari hadapan tyo. Kesalnya sudah tak tertahankan, bahkan hinggai ia tak sadar di hadapannya adalah jalan raya. Ia melintas, tepat saatsebuah mobiljuga melintas...... buku dalam pelukannya terlepas tepat dengan terpentalnya tubuh mungil itu. Seketika rem berdecit keras, namun terlambat. Darah sudah mewarnai sebagian kaca mobil. Pemilik mobil berteriak. Ia tak sengaja, ia sudah sangat merasa bersalah. “dinaaaaaaaaaaaaaaa..............!!!!!!!!!!!” jeritan shock tyo yang begitu keras tak mampu menyadarkan dina. Tyo kalap. Pria yang berdiri di samping wanita yang menangis itu seketika terjatuh karena layangan bogem mentah dari tyo. Wanita disampingnya semakin menangis, berkali-kali ia mohon maaf.
“maafkan suami saya, kami tidak sengaja, tapi kami akan bertanggung jawab. Bapak-bapak tolong bantu angkatkan gadis ini, ayo kita bawa ke rumah sakit” wanita itu mengambil keputusan di tengah isak tangisnya.
Lalu secepat mungkin mobil itu segera melaju kencang meninggalkan kerumunan. Rian terengah-engah sampai di tengah kerumunan. Ia tertinggal, lagi. Ia tidak sempat melihat korban, karena begitu ia sampai, gas telah diinjak kuat. Fikirannya semakin kalut. Ia hanya bisa berharap semoga dina itu bukanlah dina-nya.
“apakah anda keluarga korban?” tanya dokter bule berkulit super putih itu. Dalam bahasa orang sana tentunya “orang tuanya ada di luar negri dok, tapi saya bisa menjadi wakilnya” jawab tyo tegas, bahasa inggrisnya sudah seperti orang inggris murni. “baiklah. Maaf kita belum bisa memastikan lebih lanjut. Tapi sejauh ini organ-organ dalam masih aman, tidak ada kerusakan. Dugaan sementara ia mungkin akan kehilangan ingatannya”. Dada tyo seakan disiram oleh air dari telaga kautsar, begitu lega. Yang penting dina baik-baik saja. Namun beberapa hari setelah itu, dokter mengabarkan bahwa dina akan mengalami kelumpuhan sementara bagian tubuh bawahnya dikarenakan benturan yang cukup kuat pada bagian belakang sehingga terjadi kontraksi pada syaraf-syarafnya.
Seminggu setelah itu, dina sadarkan diri. Betapa terkejutnya ketika ia menyadari kakinya tak bisa digerakkan. “yo, apa yang terjadi” dina bertanya, datar. “eh ngng kamu mengenalku?” tyo malah balik nanya. “apa maksudmu, menurutmu aku nenek-nenek pikun gitu?. Jelasin apa yang terjadi” tatapannya sinis, untuk tyo maupun kakinya. “dina, kecelakaan itu.... membuat kakimu lumpuh sementara. Tapi jangan khawatir, itu bisa sembuh”. JEDDERR!!!! Serasa petir menggelegar tepat di atas ubun-ubunnya. Bagaimana ia bisa menjadi designer jika kakinya tak bisa digerakkan? Bagaimana ia bisa menjahit? Bagaimana mimpinya bisa tercapai? Ia seolah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. amarahnya membuncah. Ia sungguh akan lebih bersyukur jika tidak dilahirkan.
“bagaimana ini bisa terjadi dok?” tyo heran bagaimana bisa dina masih mengingatnya. ”begini mas, dina memang mengalami hilang ingatan, namun tidak sepenuhnya. Bagian memory otaknya yang justru paling sering memikirkan suatu hal, itulah yang ia lupakan. Hal yang terlalu sering ia fikirkan. Mungkin saja ia justru melupakan seseorang yang begitu penting baginya, seseorang yang selalu difikirkannya.”
1 tahun kemudian
JUMPA PENGARANG NOVEL PERDANA “TANPA JUDUL” ARDINA ZANETA.
            Yah....setahun mengalami kelumpuhan. Dina hanya mengikuti kuliah, tanpa praktek. Untungnya para dosen mengerti keadaanya dan memberinya toleransi. Mereka percaya dina pasti bisa, bagaimanapun keadaannya. Mengisi waktu senjang, ia menulis cerita, ia menulis cerita tentang kehidupan. Setiap hari ia menulisnya, hingga menjadi novel. Tyo yang secara diam-diam penasaran membaca tulisan itu, dan ia terpukau. Akhirnya ia mengirim cerita tersebut ke penerbit. Tak disangka hasil karya dina melambung. Judulnya saja unik “tanpa judul” dengan ilustrasi di bawah judulnya ”karena hidup terlalu penuh rasa dan warna. Tak cukup jika hanya 1,2, atau 3 kata yang mampu mewakilinya”.
            Setahun berjuang, akhirnya dina bisa berjalan dengan normal. Disinilah ia sekarang, berdiri di atas panggung. Menjadi sorot utama setiap pasang mata dan kamera. Di gedung yang megah ini, sedang berlangsung acara jumpa fans pengarang unik ini. Bukunya yang unik, judulnya yang unik, serta ceritanya yang unik.
            Tin tin tin....... suara klakson di jalanan sedang mendominasi keadaan. Rian begitu resah. Bertahun-tahun memendam hasrat untuk segera bertemu dengan gadis itu, ia berjuang setiap harinya berkeliling kota jika ada waktu senggang. Tujuannya satu, untuk menemukan gadis itu. Poster besar yang mengumumkan jumpa fans dengan pengarang novel kesukaannya terpampang dimana-mana. Novel pertama yang ia baca seumur hidupnya karena sesungguhnya ia benci membaca. Namun ia menjadi rela duduk diam berjam-jam hingga badannya pegal-pegal demi membaca novel ‘tanpa judul’ ini. Karena kesal ia segera menelpon sopirnya, meminta segera datang mengambil mobilnya. Sementara ia segera berlari menuju gedung tempat gadis itu berada.
            Nafasnya memburu.... detak jantungnya tak beraturan. Ia terpaku di depan panggung. Matanya sama sekali tak melepaskan pandangannya pada gadis yang sedang berbicara di atas panggung itu. Semakin cepat. Nafasnya mulai tak terkendali. Gadis itu turun panggung. Dengan cepat ia segera menghampiri gadis itu, tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang.
            Sejenak ia hanya diam, tanpa kata-kata. Memperhatikan ekspresi gadis itu. Aneh,,, karena tidak ada ekspresi aneh yang ia tunjukkan. “maaf anda siapa ya?” pertanyaan gadis ini sungguh tidak masuk akal. Atau mungkin telinga rian yang sudah mulai aneh terkikis waktu? Tapi tidak. Ini kenyataan. “dina, sedetikpun aku tak pernah melupakanmu. Bagaimana bisa sekarang kau menanyakan siapa diriku?” gadis itu tak menjawab. Rian menarik tangan gadis itu, membawanya ke ruang yang tidak begitu ramai. “apa-apaan ini! Bisakah anda lebih sopan?” semprot dina atas perlakuan rian. “dina, apakah sesuatu telah terjadi padamu atau kau hanya berpura-pura?” kini giliran rian yang sinis. “let her go” suara keras seorang laki-laki yang dengan tiba-tiba menarik dina menjauh darinya. “what? Who are you?” rian sungguh ingin menendang sapi coklat besar di depannya ini “ it’s make no sense, soo just go” kata pria itu dan tanpa membuang waktu lebih banyak. Bodohnya rian kembali mencuat, ia tak mengejar kedua orang aneh itu. Lagi, dia membiarkan gadis yang selama ini senantiasa tidak membuatnya tidur nyenyak itu pergi di depannya....lagi.
            Minggu-minggu terakhir ini ada yang aneh dengan dina. Ekspresi, semenjak terakhir beberapa minggu lalu ia bertemu pria yang tak ia kenal, ia terus menunjukkan ekspresi di wajahnya. Pria yang berhasil membuat kerut di wajah datar dina. Kepalanya semakin sering pusing, dan wajah, ekspresi, suara pria itu secara tak ampun membayangi dina. Ia bahkan menangis, ia begitu bingung. Pria ini, lengkap dengan segala ekspresi, cara bicara, dan banyak lainnya tak hanya masuk dalam bayangan dina ketika hari itu saja, melainkan banyak kejadian. Pria itu ketika menggunakan sragam SMA, ketika bermain basket, bahkan ketika menangis. Entahlah ini hanya halusinasinya saja atau apalah, kepalanya terlalu pusing untuk memikirkannya lebih lanjut
            “bagaimana keadaan saya dok?” dina bertanya pada dokter yang dulu juga menanganinya pasca kecelakaan. “dina, mungkin ini memang sedikit menyakitkan tapi ini adalah pertanda baik. Ingatanmu tentang hal itu, hal yang terlalu sering kau fikirkan, yang mungkin sangatlah penting, akan segera pulih” dengan senyum sumringahnya sang dokter menjelaskan.
            3 bulan tepat setelah hari itu, Rian sangat kesulitan menemukan gadis itu lagi. Tapi hari ini ia akan pergi ke Republiknya, karena ada hal yang ingin ia lakukan.
Dengan kursi terdepan di first class, rian tetap sama sekali tidak tidur di dalam pesawat. Di tangannya terlihat novel yang cukup tebal sedang dibacanya. Novel tanpa judul karya ardina zaneta. Entah berapa kali ia telah membaca novel itu, seorang rian yang sekalipun tak pernah melirik novel apapun, selegendaris apapun sang pengarang, tak pernah ia ingin membacanya. Namun kali ini, kemanapun ia pergi, novel unik itu tak pernah jauh-jauh darinya, seolah itu adalah cadangan oksigen untuknya ketika dunia telah kehabisan oksigen dirampas global warming.
            Akhirnya landing berjalan mulus tepat di halaman terakhir novelnya. Ia sendiri, tapi entah bagaimana ceritanya ia merasa seperti seseorang sedang mendampinginya.
            Mungkin keberuntungan hari ini sedang menjadi milik orang lain, dina kehabisan tiket di first class, akhirnya tiket ekonomi yang ia dapat. Hari ini ia ingin beramal. Hasil yang ia dapatkan dari novelnya tak enak rasanya jika ia tak berbagi. Ia berniat mengunjungi SMA yang dulu membesarkannya itu. Ia mengenang sejenak tentang masa-masa sekolahnya, tak terkecuali.... rian. Ya, dina telah mengingat pria ini, tapi tidak dengan kisah cinta mereka. Ia hanya mengingat sebatas sebelum mereka berpacaran, ketika mereka seperti kakak adik kembar yang begitu saling pengertian. Besar niatnya untuk menemui pria itu, namun jadwalnya begitu padat. Ia tenggelam dalam nostalgia hingga terlelap
            Keadaan bandara tak sepadat terakhir ia kemari. Dari jauh ia sedang memandangi punggung seseorang. Punggung yang terlihat begitu kuat, sekuat memorinya. Ia seperti pernah mengalami sensasi rasa ini. Rasa yang begitu kuat menekan dadanya seolah mematahkan lengkap semua tulang rusuknya, rasa sakit ketika ia melihat punggung seseorang yang pergi, menjauh, meninggalkan dirinya.....dulu. Seketika kepalanya terasa begitu sakit, ia segera berlari ke toilet. Ia membasuh mukanya hingga bagian kepala. Ia ingin mendinginkan kepalanya. Namun rasa sakit itu semakin kuat, kuat, lagi. Seperti tak tertahankan. Dengan cepat dina kehilangan kesadarannya.
            “assalamualaikum pak,bu, lama tidak berjumpa” rian menyapa para guru di ruang guru. Ia bercengkerama dengan guru-guru SMA-nya setelah sebelumnya bertemu kepala sekolah untuk memberikan sedikit sumbangan pada yayasan sekolah ini. Setelah dirasa cukup ia bernostalgia, kemudian ia berjalan-jalan berkeliling sekolah itu. Sepi, karena jam pelajaran sedang berlangsung.
            “terimakasih dina, bapak bangga sekali dengan kamu. Sekolah ini begitu beruntung karena memiliki seorang seperti kamu” bapak kepala sekolah menggenggam amplop putih berisi sedikit uang dari dina. Ia infaq di sekolah kesayangannya. Bagaimana ini bisa terjadi, begitu kebetulan, gumaman pak kepsek terdengar jelas oleh dina. “apa? Kenapa pak?” dina bermaksud memperjelas pendengarannya. “ ah tidak, bukan apa-apa” tentu saja kepsek heran, kebetulan sekali, 2 murid yang dulunya kesayangannya itu pada hari yang sama memberikan bantuan untuk sekolah. Mungkin ia harus memperbanyak murid kesayangan agar semakin banyak bantuan.
            Suara kaki seseorang yang sedang berjalan menaiki tangga memecah keheningan. Rian memutus lamunannya tentang betapa banyak kenangan di gedung kesayangannya ini. Gedung yang sangat berkesan.
            Setelah menaiki tangga hingga lantai ke-4 tak urung membuat dina ngos-ngosan. Namun nafasnya semakin memburu ketika melihat seseorang yang ada di tempat yang ingin ditujunya itu. Rian telah bersimpuh manis menghadap langit. Namun segera berbalik melihat siapa yang datang. Ia tak mempunyai penyakit asma, samasekali. Namun nafasnya tercekat, sesak. Jam tangan di tangan masing-masing yang sebenarnya bunyinya sangat pelan, tiba-tiba seperti begitu kentara. Terdengar jelas setiap detiknya. Dan itu berjalan begitu pelan, sangat pelan. Dengan tiba-tiba, yang lebih tiba-tiba dari sebelumnya segalanya seolah menghilang. Suara detik jam berhenti, angin juga berhenti bertiup. Kaki dina terasa begitu ringan. Rian tak lagi melihat lantai yang ia injak. Ia berada di udara. Dina merasa sedang melayang, tanpa sayap. Dengan sigap rian berlari dan memeluk dina, sangat erat yang seharusnya membuatnya sesak. Namun ini, tidak samasekali. Seolah ruang kosong di hatinya, yang begitu luas dan kering kembali bersemi. Ruang yang telah lama ia lupakan.  Yang begitu penting untuknya.
“i have to tell you, you are stay in my mind each every day” rian terus memeluk gadis itu. Gadis yang sangat kejam karena tak pernah membiarkannya menghirup nafas lega tanpa bayang-bayang dan segala kenangannya.
“and everytime i think about you i go crazy, sorry for that time” hidung mungilnya memerah, bahkan lebih merah dari matanya yang sedang memeras air mata hingga begitu derasnya.
            Disini mereka berakhir, di tempat dimana mereka memulai. Rian tak bertanya banyak atau marah karena kejadian di gedung saat jumpa fans. Oleh karena itu dina berinisiatif menceritakan semua tanpa diminta. Tentu saja dengan begitu panjang. Cerewetnya telah menjadi darah dagingnya walau sempat fakum. Rian hanya diam memperhatikan setiap perubahan ekpresi gadis yang ada di depannya. Manyun, ketawa, nyengir, mewek, segalanya. Gadis itu begitu penuh ekspresi. Sang pembangkit mimpi berhasil membangunkan sang pemimpi dari tidur panjangnya. Mimpi terbesarnya semakin dekat.

The end


Tidak ada komentar:

Posting Komentar