Minggu, 08 Desember 2013

start from a dream


            Ardina Zaneta Putri ... namanya cantik seolah kehidupannya pun demikian. Namun siapa sangka bahwa nyatanya berkebalikan.  Sebenarnya dia tidak berasal dari keluarga yang benar-benar miskin, tapi kasih sayang dari orang tuanya membuatnya merasa sangat  miskin. Dina gelisah, tak tau apa yang seharusnya ia lakukan. Keputusannya seolah tak pernah didengar, bahkan cita-citanya tak di dukung. Sejak kecil ia tak hidup bersama orang tuanya, sebenarnya ia tak cukup kuat lagi menjadi seperti ini. Rasanya ingin sekali ia lari, melupakan segala kaidah, aturan, norma atau sebangsanya. Ia ingin berkeliaran di tengah malam dengan sebotol air keras di genggamannya yang dilengkapi dengan rokok di saku celananya. Ia berangan ke arah yang negatif, sudah sejak lama. Namun ia tak pernah bisa melakukannya. Nuraninya tak pernah mengijinkannya.
            Suara bip pelan dari HP-nya membuyarkan angannya. Tapi ia sama sekali tak berniat membaca pesan itu. Bad mood berat terlanjur tersangkar di hatinya. Masih dengan isakan kuat ia terus memeluk bonekanya. Kali ini tak hanya suara bip pelan, tapi ringtone HP-nya berbunyi, ia masih tak bergeming. Tapi si penelpon pun tak menyerah, ia terus menelfon dina. Dina ambil nafas berat panjang berharap isakannya berhenti seketika, tapi tidak, itu tak berpengaruh. Akhirnya ia pencet tombol hijau di HP-nya tanpa membaca nama yang tertera di layar. Ia bahkan masih diam dan menahan nafas agar isakannya tak keluar setelah mengangkat telfon itu. “halo, dina? Kau disana?”. Suara berat lelaki di seberang terdengar sangat ringan bagi dina. Tanpa ragu lagi ia segera mengeluarkan isakan yang sedari tadi ia tahan. Ia menangis hebat. “dina, kau kenapa? Katakanlah, apa aku perlu segera kesana? Kau di rumahkan?” cecaran pertanyaan itu tak satupun yang dijawabnya. “tidak, aku... aku hanya ingin menangis” dengan susah payah dina mengatakannya di sela-sela isakannya. “baiklah, aku akan menemani dan mendengarkan tangismu dari sini. Begitu kau lega, aku siap mendengar ceritamu. Luapkan saja, menangislah sesukamu”.
            Setelah mendengar kalimat manis itu tangisan dina semakin menjadi, antara benar-benar ingin meluapkan kesedihannya bercampur rasa haru dan terimakasih untuk lelaki yang begitu mengerti dirinya itu. Ia hanya menangis. Dan terus menangis . lelaki di seberang sana hanya diam mendengar tangisan itu. Dalam diam mereka berbicara, dan tanpa sadar lelaki itupun menitikkan air mata. “terimakasih kak...” kali ini suaranya sudah sedikit lega. “tidak perlu, aku siap mendengar semuanya selama yang kau mau. Tangismu, ceritamu, semuanya”. “aku hanya bertengkar dengan mama, itu saja. Mungkin aku berlebihan, tapi aku tidak papa jangan khawatirkan aku” dina memaksakan seulas senyum sembari mengatakannya. Walau tentu saja tak ada yang melihatnya, tapi ia tau bahwa lelaki di seberang sana bisa merasakannya. “kau berbohong, bahkan senyummu pun berbohong. Maaf sekali rencanamu gagal” yap! Sesuai dugaan lelaki itu sangat memahami dina. “kau masih disana?” dina tak menjawab pertanyaan itu. Ia tak tau harus bagaimana. “ehmm... sudah malam kak, aku mengantuk” . “hemh, baiklah jika kau ingin bercerita kapanpun itu, jangan ragu. Kau tau aku siap mendengarnya. Selamat malam”
            Dina tak benar-benar mengantuk. Ia hanya belum siap menceritakan masalahnya kepada Rian. Rian bukanlah benar-benar kakak Dina, Rian hanya kakak kelas dina di SMA-nya. Mereka sudah dekat sejak awal dina menjadi peserta MOS sekolah itu. Sosok kakak impian Dina, lengkap berada dalam diri Rian. Dina anak tunggal, yang seharusnya menjadi anak emas. Namun ia justru kehilangan perhatian dari orang tuanya. Bahkan ia hanya tinggal bersama kakek dan neneknya sejak usianya baru mencapai 1 tahun. Hanya Rian, yang paling perduli dan mengerti Dina.

            “Ma... aku ingin ambil kursus. Boleh gak?”. Awalnya hanya pertanyaan sederhana itu. Namun masalahnya bisa menjadi serumit ini. Memang ada banyak induk masalah lain, tapi hanya karena pertanyaan sesimpel itu saja bisa memunculkan kembali masalah-masalah lain.

Hari itu Dina sudah sangat bersemangat, karena akhirnya ia tahu tujuannya. Ia yakin dengan cita-citanya. Ini MIMPINYA!. Ia ingin sekali menjadi seorang designer busana internasional, namun tetap tak melupakan budaya tradisional. Ia ingin mempunyai butik yang cantik, lengkap dengan segala macam busana di setiap zaman, tak hanya era modern namun ia juga ingin membuat busana tradisional berbagai daerah bahkan dunia. Suku batak, toraja, jawa dan suku-suku lain di negaranya ia ingin membudidaya busana khas mereka. Namun tak ketinggalan ia pun ingin merancang busana khas berbagai suku dunia. Tentu saja kecuali dunia lain dalam tanda kutip. Ia sempat merasa bahwa cita-citanya mungkin terlalu tinggi, tapi tak ada salahnya ia mencoba.
Namun walau bagaimanapun dukungan orang tua sangat berperan penting untuk mencapai cita-citanya. Disitulah letak masalahnya, ia tak mendapat dukungan yang sangat penting itu.
            Malam itu, sebelum terjadi masalah sederhana yang menjadi rumit itu , dina bertengkar hebat dengan mamanya melalui telfon. “Dina, kamu tau mama tidak punya banyak uang untuk keinginan tak masuk akalmu itu. Kau aku kuliahkan saja itu sudah bagus, tak perlu jauh-jauh menghabiskan uang” mama dina bersikeras menolak permintaan Dina. “tapi ma, dina yakin, benar-benar yakin. Ini mimpi Dina,ma” dina pun bersikeras dengan keinginannya, dengan mimpinya. “ dina mohon ma, tolong dukung dina, kali ini saja” tambah dina sebelum mamanya mulai membentaknya lagi. “kamu ini, untuk kursus kamu saja bisa menghabiskan banyak sekali uang! Apalagi kuliahmu itu! Belum biaya yang lain!” bentak mama dina dengan emosi di ubun-ubun. “ ma! Kenapa mama begitu sayang dengan uang mama! Mama bahkan lebih mementingkan uang mama daripada anak mama sendiri! Putri mama satu-satunya!” dina tidak tahan lagi, emosinya memuncak. “ dasar anak tak tau terimakasih! Sudah sukur-sukur disekolahkan! Masih banyak menuntut terus! Mama sudah banyak bekerja keras jauh-jauh untuk kamu!” dina tertegun mendengar perkataan mamanya. Tidak tahu berterimakasih? Dina tidak terima atas tuduhan kejam itu. “ kalau memang dina tidak tahu berterimakasih dina tidak akan seperti ini ma. Dina gak akan berusaha keras untuk menjadi juara kelas hanya untuk membuat mama tersenyum walau hanya setiap pengambilan raport. Dina pasti menjadi anak yang terjerumus dalam kenakalan remaja, narkoba, free sex. Mama gak ngerti dina mama gak pernah hidup bersama dina” tangisnya meledak, tumpah tak terbendung.
            Semalaman dina menangis tak henti, jika berhentipun hanya hitungan detik saja. Detik berikutnya ia kembali terisak. Memang mamanya pergi jauh untuk membiayai hidup, ia tau itu untuknya. Namun itu dulu, ketika keluarganya belum hancur. Sebelum papa dina berubah menjadi jahat, sebelum papa dina melakukan kekerasan, penipuan, sebelum cinta mereka hancur. Mereka bercerai saat dina masih sangat kecil, dina tak mengerti apapun, tapi ia menjadi korban keegoisan orang tuanya. Mamanya memang tak pernah benar-benar hidup di samping dina. Sekarang saja mamanya kembali nun jauh di sana bersama ayah tirinya. Ayah yang ia tak mengerti bagaimana kepribadiannya. Pernikahan yang bahkan tak pernah menanyakan persetujuan dina.
            “hai, kau baik-baik saja?” suara rian membuat dina refleks terjingkat. “ bagaimana kakak tau aku aku disini?” dina melebarkan matanya yang sudah  lebar menatap rian penuh curiga. “kakak memata-matai aku?” dina berlagak mengancam dengan menyipitkan mata kanannya. “pertanyaanmu merupakan jawabanku”  jawab rian dengan senyum jail khasnya. “jadi aku benar. Mengapa kakak melakukan itu?” tanya dina dengan sinis yang dibuat-buat. “ aku mengkhawatirkan dirimu, itu saja” jawab rian dengan tenang, yang berkebalikan dengan hatinya yang amat gelisah. “aku baik-baik saja. Kakak lihat. Mataku masih lebar seperti biasanya, dan berfungsi nomal. Hidungku juga, telingakupun masih bisa mendengar. Aku tidak mengalami kecelakaan apapun” penjelasan dina membuat rian mendesah geregetan. “dina. Kau tau itu bukan yang aku maksud” tatapan rian tajam lurus menembus bola mata coklat cerah dina. “ ya ya kakak ... aku mengerti” balas dina dengan tertawa ringan. Namun...rian tidak mengikuti irama ceria dina. Ia masih teringat malam itu. Rian tidak tidur samasekali malam itu. Isakan kuat dina seolah mengoyak hatinya. Sakit....sangat sakit.
            Kemudian mereka hanya terdiam beberapa saat di atas gedung tertinggi sekolah mereka. Aula sekolah. Ya, disinilah mereka sekarang. Dina menatap langit sore dengan pandangan menerawang. Ia masih teringat masalahnya dengan mamanya. Sementara rian hanya memandangi wajah dina, seksama mengamati setiap perubahan ekspresi wajah dina. Ia mengerti gadis mungil disampingnya itu menyimpan beban begitu berat yang tak semua orang mampu menahannya bahkan dirinyapun tak yakin apakah ia mampu sekuat gadis ini. Gadis mungil yang  berkepribadian ceria, bertanggung jawab dan begitu tegar menahan segala bebannya, seorang diri. Bahkan ia masih bisa tertawa selepas ini setelah menangis tersedu-sedu semalaman. Ia bertekad untuk selalu mendampingi gadis ini. Ia tak akan membiarkannya sendiri lagi. Menanggung segalanya tanpa seorangpun mendukungnya.
            “kak... ada yang salah dengan wajahku? Kenapa memandangiku seperti itu?” kata dina tiba-tiba memecah keheningan. “hah? Eng.. tidak, tidak ada yang salah dengan wajahmu” rian baru tersadar wajah yang sedari tadi dipandanginya telah balik menatapnya. Mata bulat besar itu, tepat di depan mata sipit rian. Mereka berpandangan sebelum akhirnya dina kembali memecah keheningan. “kak.. aku tidak ingin pulang hari ini. Aku bosan di rumah. Rumahku bentuknya gitu-gitu aja dan di situ-situ aja” kata dina dengan memanyunkan bibirnya beberapa senti. “hahaha... kau ini ada-ada saja. Memangnya rumahmu bunglon yang bisa berubah-rubah” tawa rian akhirnya mengundang dina untuk ikut tertawa. “baiklah ikut aku” kata rian dengan meraih tangan dina. “tapi kakak kan ada ekskul basket sore ini. 5 menit lagi akan dimulai” dina berlagak melihat jam tangan di tangannya, padalah ia tak mengenakan jam tangan, dasar bocah unik. “apa yang kau lihat? Sejak kapan tangan mu itu bisa menunjukkan waktu?” kata rian yang disambut dina dengan nyengir kuda.
“itu hanya perumpamaan kak... intinya ekskul kakak akan segera dimulai” kata dina sok tau. “aku akan membolos untukmu hari ini” kata rian dengan mengedipkan sebelah matanya.

start from a dream


            Ardina Zaneta Putri ... namanya cantik seolah kehidupannya pun demikian. Namun siapa sangka bahwa nyatanya berkebalikan.  Sebenarnya dia tidak berasal dari keluarga yang benar-benar miskin, tapi kasih sayang dari orang tuanya membuatnya merasa sangat  miskin. Dina gelisah, tak tau apa yang seharusnya ia lakukan. Keputusannya seolah tak pernah didengar, bahkan cita-citanya tak di dukung. Sejak kecil ia tak hidup bersama orang tuanya, sebenarnya ia tak cukup kuat lagi menjadi seperti ini. Rasanya ingin sekali ia lari, melupakan segala kaidah, aturan, norma atau sebangsanya. Ia ingin berkeliaran di tengah malam dengan sebotol air keras di genggamannya yang dilengkapi dengan rokok di saku celananya. Ia berangan ke arah yang negatif, sudah sejak lama. Namun ia tak pernah bisa melakukannya. Nuraninya tak pernah mengijinkannya.
            Suara bip pelan dari HP-nya membuyarkan angannya. Tapi ia sama sekali tak berniat membaca pesan itu. Bad mood berat terlanjur tersangkar di hatinya. Masih dengan isakan kuat ia terus memeluk bonekanya. Kali ini tak hanya suara bip pelan, tapi ringtone HP-nya berbunyi, ia masih tak bergeming. Tapi si penelpon pun tak menyerah, ia terus menelfon dina. Dina ambil nafas berat panjang berharap isakannya berhenti seketika, tapi tidak, itu tak berpengaruh. Akhirnya ia pencet tombol hijau di HP-nya tanpa membaca nama yang tertera di layar. Ia bahkan masih diam dan menahan nafas agar isakannya tak keluar setelah mengangkat telfon itu. “halo, dina? Kau disana?”. Suara berat lelaki di seberang terdengar sangat ringan bagi dina. Tanpa ragu lagi ia segera mengeluarkan isakan yang sedari tadi ia tahan. Ia menangis hebat. “dina, kau kenapa? Katakanlah, apa aku perlu segera kesana? Kau di rumahkan?” cecaran pertanyaan itu tak satupun yang dijawabnya. “tidak, aku... aku hanya ingin menangis” dengan susah payah dina mengatakannya di sela-sela isakannya. “baiklah, aku akan menemani dan mendengarkan tangismu dari sini. Begitu kau lega, aku siap mendengar ceritamu. Luapkan saja, menangislah sesukamu”.
            Setelah mendengar kalimat manis itu tangisan dina semakin menjadi, antara benar-benar ingin meluapkan kesedihannya bercampur rasa haru dan terimakasih untuk lelaki yang begitu mengerti dirinya itu. Ia hanya menangis. Dan terus menangis . lelaki di seberang sana hanya diam mendengar tangisan itu. Dalam diam mereka berbicara, dan tanpa sadar lelaki itupun menitikkan air mata. “terimakasih kak...” kali ini suaranya sudah sedikit lega. “tidak perlu, aku siap mendengar semuanya selama yang kau mau. Tangismu, ceritamu, semuanya”. “aku hanya bertengkar dengan mama, itu saja. Mungkin aku berlebihan, tapi aku tidak papa jangan khawatirkan aku” dina memaksakan seulas senyum sembari mengatakannya. Walau tentu saja tak ada yang melihatnya, tapi ia tau bahwa lelaki di seberang sana bisa merasakannya. “kau berbohong, bahkan senyummu pun berbohong. Maaf sekali rencanamu gagal” yap! Sesuai dugaan lelaki itu sangat memahami dina. “kau masih disana?” dina tak menjawab pertanyaan itu. Ia tak tau harus bagaimana. “ehmm... sudah malam kak, aku mengantuk” . “hemh, baiklah jika kau ingin bercerita kapanpun itu, jangan ragu. Kau tau aku siap mendengarnya. Selamat malam”
            Dina tak benar-benar mengantuk. Ia hanya belum siap menceritakan masalahnya kepada Rian. Rian bukanlah benar-benar kakak Dina, Rian hanya kakak kelas dina di SMA-nya. Mereka sudah dekat sejak awal dina menjadi peserta MOS sekolah itu. Sosok kakak impian Dina, lengkap berada dalam diri Rian. Dina anak tunggal, yang seharusnya menjadi anak emas. Namun ia justru kehilangan perhatian dari orang tuanya. Bahkan ia hanya tinggal bersama kakek dan neneknya sejak usianya baru mencapai 1 tahun. Hanya Rian, yang paling perduli dan mengerti Dina.